RADIO AN NUUR

Subtitle

AN-NUUR RADIO MUSLIM - KUTA MEULIGOU BARAT SAWANG UTARA - ACEH UTARA - HP: 082167817173

RADIO AN NUUR                                                                                                                             MISI : UNTUK MENJALIN SILATURRAHMI ANTAR UMAT ISLAM                                                       VISI  : MENCERDASKAN ANAK BANGSA ACEH YANG CINTA DAMAI DALAM BERAGAMA ISLAM DAMAI DALAM KEBERAGAMAN BANGSA DAN KEBERSAMAAN AN-NUUR RADIO MUSLIM ACEH .

NAMA-NAMA ALLAH BAGUS UNTUK KITA UMAT ISLAM SEBAGAI ZIKIR HARIAN BERSAMA ANNUR RADIO ON-LINE PERTAMA DAN TERNAMA DI KUTA MEULIGOU SAWANG ACEH UTARA.

Code :

RADIO AN NUUR ACEH MITRA UMAT ISLAM SEDUNIA

MARI KITA BERZIKIR DENGAN NAMA ALLAH DAN RASULL ALLAH NABI MUHAMMAD SAW SEMOGA KITA AKAN MENDAPAT RAHMAT SERTA AMPUNAN DARI SEGALA SALAH SILAP DAN DOSA YG SENGAJA MAUPUN TIDAK SENGAJA SADAR MAUPUN TIDAK MARI KITA JALIN HUBUNGAN SILATURRAHMI DI MEDIA INI HANYA DENGAN IZIN ALLAH DAN RIDHANYA ALLAH KEPADA KITA UMMAT NABI MUHAMMAD YG LEBIH TINGGI DERAJATNYA DI DUNIA DAN AKHIRAT. BY PESAN TGK M.NUR,M.A PENDIRI AN-NUUR RADIO MUSLIM
MARI BELAJAR DAN PELAJARI AL-QUR'AN DI AN-NUUR RADIO MUSLIM ACEH                              email : radioannuur@gmail.com  website : www.radioannuur.webs.com  STATION ON MUSLIM ACEH
http://al-quran.bahagia.us/
M.Nur dan Keluarga Besar Radio An-Nuur Online Mengucapkan Selamat Idul Adha 1413 H

Ramalan Zodiak Kamu Isi Data Kamu di Dalam Kotak di Bawah Ini Untuk Mengetahi Zodiak Kamu skr:

Apa Ramlan Kamu ?: Nama lengkap: Nama panggilan:   Tahun: Pilih bulan dan tanggal mu
DAKWAH ISLAM OLEH TGK YUSRI PUTEH PENDAKWAH KHARISMATIK MASYARAKAT ACEH COPY RIGHT M.NUR BY YOU TUBE
MARI KITA BERZIKIR AGAR KITA TIDAK GALOU PESAN TGK M.NUR,MA UNTUK SAHABAT MUSLIM/MUSLIMAH SELURUH DUNIA ALLAH
ULAMA KHARISMATIK ACEH - TGK H.MUHAMMAD AMIN (ABU TUMIN) BLANG BLAHDEH BIREUEN ACEH - INDONESIA
TGK H.RAMLI (ABATI) PIMPINAN DAYAH BABAH BULOH KEC.SAWANG A.UTARA ULAMA KHARISMATIK ACEH
SULTAN ISKANDAR MUDA RAJA KERAJAAN ATJEH DARUSSALAM
[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]]

 1. Sejarah Awal Mula
   
Kesultanan Aceh Darussalam memulai pemerintahannya ketika Kerajaan Samudera Pasai sedang berada di ambang keruntuhan. Samudera Pasai diserang oleh Kerajaan Majapahit hingga mengalami kemunduran pada sekitar abad ke-14, tepatnya pada 1360. Pada masa akhir riwayat kerajaan Islam pertama di nusantara itulah benih-benih Kesultanan Aceh Darussalam mulai lahir. Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang pernah ada sebelumnya, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura (Indrapuri).

Dari penemuan yang dilacak berdasarkan penelitian batu-batu nisan yang berhasil ditemukan, yaitu dari batu nisan Sultan Firman Syah, salah seorang sultan yang pernah memerintah Kesultanan Aceh, didapat keterangan bahwa Kesultanan Aceh beribukota di Kutaraja (Banda Aceh). Pendiri sekaligus penguasa pertama Kesultanan Aceh adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada Ahad, 1 Jumadil Awal 913 Hijriah atau tanggal 8 September 1507 Masehi.

Keterangan mengenai keberadaaan Kesultanan Aceh Darussalam semakin terkuak dengan ditemukannya batu nisan yang ternyata adalah makam Sultan Ali Mughayat Syah. Di batu nisan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam yang berada di Kandang XII Banda Aceh ini, disebutkan bahwa Sultan Ali Mughayat Syah meninggal dunia pada 12 Dzulhijah tahun 936 Hijriah atau pada 7 Agustus 1530. Selain itu, ditemukan juga batu nisan lain di Kota Alam, yang merupakan makam ayah Sultan Ali Mughayat Syah, yaitu Syamsu Syah, yang menyebutkan bahwa Syamsu Syah wafat pada 14 Muharram 737 Hijriah. Sebuah batu nisan lagi yang ditemukan di Kuta Alam adalah makam Raja Ibrahim yang kemudian diketahui bahwa ia adalah adik dari Sultan Ali Mughayat Syah.

Menurut catatan yang tergurat dalam prasasti itu, Raja Ibrahim meninggal dunia pada 21 Muharram tahun 930 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 30 November 1523. Raja Ibrahim merupakan tangan kanan Sultan Ali Mughayat Syah yang paling berani dan setia. Ibrahimlah yang memimpin serangan-serangan Aceh Darussalam terhadap Portugis, Pedir, Daya, dan Samudera Pasai, hingga akhirnya Ibrahim gugur sebagai pahlawan dalam pertempuran besar itu. Tanggal-tanggal yang ditemukan di prasasti-prasasti di atas dengan sendirinya mengandung arti untuk dijadikan pegangan dalam menentukan jalannya catatan sejarah di Aceh dalam masa-masa yang dimaksud (H. Mohammad Said a, 1981:157).
[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]]
Aceh adalah wilayah yang besar dan dihuni oleh beberapa pemerintahan besar pula. Selain Kesultanan Aceh Darussalam dan Samudera Pasai, di tanah ini telah berdiri pula Kerajaan Islam Lamuri selain Kesultanan Malaka yang memiliki peradaban besar di Selat Malaka. Kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam tidak lepas dari eksistensi Kerajaan Islam Lamuri. Salah seorang sultan yang terkenal dari Kerajaan Islam Lamuri adalah Sultan Munawwar Syah. Sultan inilah yang kemudian dianggap sebagai moyangnya Sultan Aceh Darussalam yang terhebat, yakni Sultan Iskandar Muda. Pada akhir abad ke-15, dengan terjalinnya suatu hubungan baik dengan kerajaan tetangganya, maka pusat singgasana Kerajaan Lamuri dipindahkan ke Mahkota Alam, yang dalam perkembangannya menjadi Kesultanan Aceh Darussalam (Rusdi Sufi & Agus Budi Wibowo a, 2006:72-73).

Sejarah Kesultanan Aceh Darussalam ternyata tidak termasuk dalam sejarah Islam pada umumnya dalam keseluruhan sejarah universal. Dalam hikayat Aceh seperti yang dianalis Denys Lombard dalam bukunya yang berjudul “Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636)”, bab mengenai Kesultanan Aceh Darussalam hanyalah satu keping dari pekerjaan tatahan, satu batu dari gedung yang lebih besar, tetapi tertumpu pada tokoh satu orang, yaitu Sultan Iskandar Muda. Sultan terbesar dari Aceh ini justru bukan merupakan pemimpin dari generasi awal Kesultanan Aceh Darussalam. Meski siapa penulis Hikayat Aceh tidak diketahui dan tidak tersimpan pula tanggal mengenai penyusunan karyanya, namun bisa dikatakan bahwa Hikayat Aceh tersebut disusun selama masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) dan bahwa raja itu menyuruh salah seorang pujangga istananya untuk menyusun riwayat hidupnya (Denys Lombard, 2007:43).

Mengenai asal-usul Aceh sendiri masih belum dapat dikuak dengan jelas karena, selain banyaknya versi, sedikit banyak sumber yang menjelaskan tentang riwayat Aceh masih sebatas mitos atau cerita rakyat. Masih menurut Lombard, sumber sejarah mengenai asal-usul Aceh yang berupa cerita-cerita turun-temurun tersebut sukar diperiksa kebenarannya. Mitos tentang orang Aceh, tulis Lombard, misalnya seperti yang dikisahkan oleh seorang pengelana Barat yang sempat singgah di Aceh. John Davis, nama musafir itu, mencatat bahwa orang Aceh mengganggap diri mereka keturunan dari Imael dan Hagar (Nabi Ismail dan Siti Hajar). Tiga abad kemudian, Snouck Hugronje mengungkapkan bahwa dia telah mendengar cerita tentang seorang ulama sekaligus hulubalang bernama Teungku Kutakarang (wafat pada November 1895), yang menganggap orang Aceh lahir dari percampuran dari orang Arab, Persi, dan Turki. Menurut analisis Lombard, hegemoni semacam ini sengaja diciptakan sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah Eropa (Lombard, 2007:62).

Dalam buku karya Rusdi Sufi dan Agus Budi Wibowo yang berjudul “Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh” (2006), dikemukakan bahwa yang disebut Aceh ialah daerah yang sempat dinamakan sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (sebelumnya bernama Provinsi Daerah Istimewa Aceh). Tetapi pada masa Aceh masih sebagai sebuah kerajaan/kesultanan, yang dimaksud dengan Aceh ialah yang sekarang dikenal dengan Kabupaten Aceh Besar atau dalam bahasa Aceh disebut Aceh Rayeuk Untuk nama ini, ada juga yang menyebutkan nama "Aceh Lhee Sagoe" (Aceh Tiga Sagi). Selain itu, terdapat pula yang menggunakan Aceh Inti (Aceh Proper) atau “Aceh yang sebenarnya” karena daerah itulah yang pada mulanya menjadi inti Kesultanan Aceh Darussalam dan juga letak ibukotanya," untuk menamakan Aceh.

Nama Aceh sering juga digunakan oleh orang-orang Aceh untuk menyebut ibukota kerajaannya, yakni yang bernama Bandar Aceh atau secara lengkapnya bernama Bandar Aceh Darussalam. Tentang nama Aceh belum ada suatu kepastian dari mana asal dan kapan nama Aceh itu mulai digunakan. Orang-orang asing yang pernah datang ke Aceh menyebutnya dengan nama yang berbeda-beda. Orang-orang Portugis dan Italia menyebutnya dengan nama “Achem”, “Achen”, dan “Aceh”, orang Arab menyebut “Asyi”. “Dachem”, “Dagin”, dan Dacin”, sedangkan orang Cina menyebutnya dengan nama “Atje” dan “Tashi” (Sufi & Wibowo a, 2006:73-74).
[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]]
Dalam karya Rusdi Sufi dan Agus Budi Wibowo yang lain, yaitu yang terangkum dalam buku dengan judul “Ragam Sejarah Aceh” (2004), disebutkan bahwa selain sebagai penyebutan nama tempat, Aceh juga merupakan nama salah satu suku bangsa atau etnis sebagai penduduk asli yang mendiami Bumi Aceh. Terdapat cukup banyak etnis yang bermukim di wilayah Aceh, yakni etnis Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Aneuk, Jamee, Kluet, Simeulue, dan Singkil. Suku-suku bangsa yang mendiami wilayah Aceh, termasuk suku bangsa Aceh, itu telah eksis semenjak Aceh masih berupa sebuah kerajaan/kesultanan (Rusdi Sufi & Agus Budi Wibowo b, 2004:1-2).

Sementara itu, menurut penelitian K.F.H. van Langen yang termaktub dalam karya ilmiah berjudul “Susunan Pemerintahan Aceh Masa Kesultanan” (1986), dituliskan bahwa menurut cerita-cerita rakyat, penduduk asli Aceh disebut Ureueng Mante. Sejauh mana riwayat itu dapat dianggap benar dan apakah Mante itu termasuk juga dalam suku Mantra yang mendiami daerah antara Selangor dan Gunung Ophir di Semenanjung Tanah Melayu, menurut van Langen, ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dipecahkan lagi dalam studi perbandingan bahasa Melayu-Polinesia. Tetapi sejauh masalah itu belum dapat dipecahkan, maka tetaplah bisa dianggap bahwa Mante adalah penduduk asal daerah Aceh, terutama karena nama itu tidak merujuk pada penduduk asal suku-suku bangsa lain (K.F.H. van Langen, 1986:3).

a. Masuknya Kolonialisme Barat

Kedatangan bangsa Eropa, dalam hal ini Portugis selaku bangsa Eropa yang pertama kali tiba di Aceh, menjadi salah satu faktor utama runtuhnya Kerajaan Samudera Pasai, selain juga disebabkan serangan Majapahit. Pada 1508, atau kurang dari setahun setelah Sultan Ali Mughayat Syah memproklamirkan berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam, armada Portugis pertama yang dipimpin Diogo Lopez de Sequeira tiba di perairan Selat Malaka. Armada de Sequeira ini terdiri dari empat buah kapal dengan perlengkapan perang. Namun, kedatangan rombongan calon penjajah asal Portugis yang pertama ini tidak membuahkan hasil yang gemilang dan terpaksa mundur akibat perlawanan dari laskar tentara Kesultanan Malaka.

Kedatangan armada Portugis yang selanjutnya pun belum menunjukkan peningkatan yang menggembirakan. Pada Mei 1521, penguasa Kesultanan Aceh Darussalam yang pertama, Sultan Ali Mughayat Syah, memimpin perlawanan dan berhasil mengalahkan armada Portugis yang dipimpin Jorge de Britto yang tewas dalam pertempuran di perairan Aceh itu. Dalam menghadapi Kesultanan Aceh Darussalam dan keberanian Sultan Ali Mughayat Syah, Portugis membujuk Kerajaan Pedir dan Samudera Pasai untuk mendukungnya.

Setelah mengalami kekalahan dari Kesultanan Aceh Darussalam, armada Portugis kemudian melarikan diri ke Kerajaan Pedir, namun pasukan Aceh Darussalam tetap mengejar dan sukses menguasai wilayah Kerajaan Pedir. Pihak Portugis bersama Sultan Ahmad, Raja Kerajaan Pedir, melarikan diri lagi dan mencari perlindungan ke Samudera Pasai. Pasukan Sultan Ali Mughayat Syah meneruskan pengejarannya dan berhasil mematahkan perlawanan Pasai pada 1524. Sejumlah besar rampasan yang berupa alat-alat perang, termasuk meriam, digunakan tentara Aceh Darussalam untuk mengusir Portugis dari bumi Aceh.

Kekalahan Portugis tersebut sangat memalukan karena pasukan Aceh Darussalam mendapat barang-barang rampasan dari alat-alat perang milik Portugis yang lebih memperkuat Aceh Darussalam karenanya (Said a, 1981:187). Sultan Ali Mughayat Syah memang dikenal sebagai sosok pemimpin yang pemberani dan penakluk yang handal. Selain berhasil mengusir Portugis serta menundukkan Kerajaan Pedir dan Samudera Pasai, Kesultanan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah, juga meraih kegemilangan dalam menaklukkan beberapa kerajaan lainnya di Sumatra, seperti Kerajaan Haru, Kerajaan Deli, dan Kerajaan Daya.

Beberapa catatan dari Barat, salah satunya yang ditulis oleh C.R. Boxer, mengatakan bahwa menjelang tahun 1530 armada perang Kesultanan Aceh Darussalam sudah mendapat kelengkapan perang yang cukup lengkap dan mutakhir. Bahkan, sejarawan Portugis sendiri, Fernao Loper de Costanheda, menyebut bahwa Sultan Aceh (Ali Mughayat Syah) lebih banyak memperoleh pasokan meriam dibandingkan dengan benteng Portugis di Malaka sendiri. Selain itu, menurut pejalan dari Barat lainnya, Veltman, salah satu rampasan paling berharga dari Samudera Pasai yang berhasil dibawa pulang oleh Sultan Ali Mughayat Syah adalah lonceng besar yang kemudian diberi nama “Cakra Dunia”. Lonceng bersejarah merupakan hadiah dari Laksamana Cheng Ho kepada Raja Samudera Pasai ketika panglima besar dari Kekaisaran Tiongkok itu berkunjung ke Pasai pada awal abad ke-15 (Said a, 1981:168).

Sultan Ali Mughayat Syah memerintah Kesultanan Aceh Darussalam hanya selama 10 tahun. Menurut prasasti yang ditemukan dari batu nisan Sultan Ali Mughayat Syah, pemimpin pertama Aceh Darussalam ini meninggal dunia pada 12 Dzulhijah Tahun 936 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 7 Agustus 1530 Masehi. Kendati masa pemerintahan Sultan Mughayat Syah relatif singkat, namun ia berhasil membangun kerajaan Aceh yang besar dan kokoh. Sultan Ali Mughayat Syah juga meletakkan dasar-dasar politik luar negeri Kesultanan Aceh Darussalam, antara lain :
  • Mencukupi kebutuhan sendiri sehingga tidak tergantung pada pihak lain.
  • Menjalin persahabatan yang lebih erat dengan kerajaan-kerajaan Islam lain di nusantara.
  • Bersikap waspada terhadap kolonialisme Barat.
  • Menerima bantuan tenaga ahli dari pihak luar.
  • Menjalankan dakwah Islam ke seluruh kawasan nusantara.
Sepeninggal Sultan Mughayat Syah, dasar-dasar kebijakan politik ini tetap dijalankan oleh sultan-sultan penggantinya. Sebagai penerus tahta Kesultanan Aceh Darussalam, diangkatlah putra sulung almarhum Sultan Mughayat Syah yang bernama Salah ad-Din sebagai penguasa Aceh Darussalam yang baru. Di bawah pemerintahan Sultan Salah ad-Din, Kesultanan Aceh Darussalam menyerang Malaka pada 1537 tetapi tidak berhasil. Tahun 1539, kepemimpinan Kesultanan Aceh Darussalam dialihkan kepada anak bungsu Mughayat Syah, yaitu Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar atau yang sering dikenal juga dengan nama Sultan Mansur Syah. Adik dari Salah ad-Din ini perlahan-perlahan mengukuhkan kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam dengan melakukan beberapa gebrakan. Tidak lama setelah dinobatkan, pada tahun yang sama Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar menyerbu orang-orang Batak yang tinggal di pedalaman. Menurut Mendez Pinto, pengelana yang singgah di Aceh pada 1539, balatentara Kesultanan Aceh di bawah pimpinan Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar, terdiri atas laksar-laskar yang antara lain berasal dari Turki, Kambay, dan Malabar (Lombard, 2007:65-66).

Hubungan Kesultanan Aceh Darussalam pada era Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar dengan kerajaan-kerajaan mancanegara tersebut memang cukup solid. Pada 1569, misalnya, Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar mengirimkan utusannya ke Istanbul untuk meminta bantuan meriam. Tidak hanya memberikan meriam beserta ahli-ahli senjata untuk dikirim ke Kesultanan Aceh Darussalam, penguasa Turki juga mengirimkan pasukan perang untuk mendukung Aceh melawan Portugis. Bahkan, Sultan Turki juga memerintahkan Gubernur-Gubernur Yaman, Aden, serta Mekkah untuk membantu laskar Turki yang sedang bertolak menuju Aceh. Laksamana Turki, Kurt Oglu Hizir, diserahi memimpin ekspedisi tersebut dengan tugas khusus mengganyang musuh Aceh, mempertahankan agama Islam, dan merampas benteng-benteng kafir (Said a, 1981:199).
[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]]
Selain terus berteguh melawan kaum penjajah dari Barat, Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar juga melakukan penyerangan terhadap kerajaan-kerajaan lokal yang membantu Portugis. Pasukan Aceh Darussalam menyerbu Kerajaan Malaka sebanyak dua kali (tahun 1547 dan 1568), menawan Sultan Johor karena membantu Portugis, serta berhasil mengalahkan Kerajaan Haru (Sumatra Timur) pada 1564. Untuk melegalkan kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam atas Kerajaan Haru, maka diangkatlah Abdullah, putra pertama Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar, untuk memegang kendali pemerintahan Kerajaan Haru yang sudah takluk dan menjadi bagian dari kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam. Namun, berbagai peperangan besar antara Kesultanan Aceh Darussalam melawan Portugis memakan banyak korban dari kedua belah pihak yang berseteru. Dalam suatu pertempuran yang terjadi pada 16 Februari 1568, Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar kehilangan putra tercintanya, Sultan Abdullah yang memimpin bekas wilayah Kerajaan Haru.

Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar tutup usia pada 8 Jumadil Awal tahun 979 Hijriah atau 28 September 1571 Masehi. Karena putra mahkota, Abdullah, gugur dalam sebuah pertempuran melawan Portugis, maka yang diangkat untuk meneruskan tampuk tertinggi tahta Kesultanan Aceh Darussalam adalah anak kedua almarhum yang bergelar Sultan Husin Ibnu Sultan Ala`uddin Ri`ayat Syah atau yang juga sering dikenal dengan nama Ali Ri`ayat Syah. Sultan Husin Ibnu Sultan Ala`uddin Ri`ayat Syah merupakan sosok pemimpin yang pengasih dan penyayang rakyatnya. Di bidang politik serta pertahanan dan keamanan, Sultan Husin Ibnu Sultan Ala`uddin Ri`ayat Syah berusaha meneruskan perjuangan ayahandanya dalam upaya mengusir kolonialis Portugis dari bumi Aceh.

Akan tetapi, pergerakan Sultan ini tidak segemilang sang ayah kendati dia sudah melalukan penyerangan ke Malaka hingga dua kali selama kurun 1573-1575. Ketahanan Sultan Husin Ibnu Sultan Ala`uddin Ri`ayat Syah semakin limbung ketika Aceh Darussalam menyerang Johor pada 1564, di mana Sultan ditangkap dan menjadi tawanan perang. Akhir pemerintahan Sultan Husin Ibnu Sultan `Ala`uddin Ri`ayat Syah, yang memimpin Kesultanan Aceh Darussalam selama 7 tahun, berakhir ketika sang Sultan wafat pada 12 Rabi`ul Awal tahun 987 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 8 Juni 1578 dalam tahun Masehi.

Sepeninggal Sultan Husin Ibnu Sultan Ala`uddin Ri`ayat Syah, Kesultanan Aceh Darussalam memasuki masa-masa suram. Pengganti Sultan Ala`uddin Ri`ayat Syah dipercayakan kepada anaknya, Sultan Muda, namun pemerintahannya hanya bertahan selama 7 bulan. Karena ketika wafat Sultan Muda masih berusia belia dan belum memiliki keturunan, maka yang diangkat sebagai penggantinya adalah Sultan Sri Alam yang merupakan anak dari Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar, penguasa ke-4 Kesultanan Aceh Darussalam. Akan tetapi, Sultan Sri Alam, yang sebelumnya menjadi raja kecil di Pariaman (Sumatra Barat), ternyata tidak becus dalam mengelola Kesultanan Aceh Darussalam. Dalam waktu singkat, hanya 2 bulan memerintah, Sultan Sri Alam pun mati terbunuh.

Roda pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam selanjutnya dijalankan oleh Sultan Zainal Abidin. Pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam kali ini adalah cucu dari Sultan `Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar atau anak dari Sultan Abdullah, pemimpin wilayah Haru yang tewas ketika pertempuran melawan Portugis. Sama seperti penguasa sebelumnya, Sultan Zainal Abidin juga tidak mampu memimpin Kesultanan Aceh Darussalam dengan baik. Bahkan, Sultan ini merupakan sosok yang bengis, kejam, dan haus darah. Sultan Zainal Abidin tidak segan-segan membunuh demi memuaskan nafsu dan ambisinya. Sultan yang memerintah dengan tangan besi ini memimpin Kesultanan Aceh Darussalam selama 10 bulan sebelum tewas pada 5 Oktober 1579 (Said a, 1981:205).

Setelah era tirani Sultan Zainal Abidin berakhir, penerus kepemimpinan Kesultanan Aceh Darussalam sempat bergeser dari garis darah yang mula-mula. Dikisahkan, pada sekitar tahun 1577 Kesultanan Aceh Darussalam menyerang Kesultanan Perak dan berhasil menewaskan pemimpin Kesultanan Perak, yakni Sultan Ahmad. Permaisuri Sultan Ahmad beserta 17 orang putra-putrinya dibawa ke Aceh sebagai bagian dari rampasan perang. Putra tertua Sultan Ahmad, bernama Mansur, dikawinkan dengan seorang putri Sultan Aceh Darussalam yang bernama Ghana. Tidak lama kemudian, Mansur ditabalkan menjadi pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam menggantikan Sultan Zainal Abidin, dengan gelar Sultan Ala al-Din Mansur Syah, dinobatkan pada 1579.

Sultan yang bukan berasal dari keturunan langsung sultan-sultan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam ini, berasal dari etnis Melayu Perak, adalah sosok yang alim, shaleh, adil, tapi juga keras dan tegas. Pada masa kepemimpinan Sultan Mansur Syah, Kesultanan Aceh Darussalam nuansa agama Islam sangat kental dalam kehidupan masyarakatnya. Untuk mendukung kebijakan itu, Sultan Mansur Syah mendatangkan guru-guru agama dan ulama ternama dari luar negeri. Namun, kepemimpinan agamis yang diterapkan Sultan Mansur Syah ternyata tidak membuat Aceh Darussalam berhenti bergolak. Pada 12 Januari 1585, ketika rombongan Kesultanan Aceh Darussalam dalam perjalanan pulang dari lawatannya ke Perak, Sultan Mansur Syah terbunuh.

Gugurnya Sultan Mansur Syah membuat garis tahta Kesultanan Aceh Darussalam kembali rumit untuk menentukan siapa yang berhak menjadi pemimpin Aceh Darussalam yang selanjutnya. Atas mufakat para orang besar (tokoh-tokoh adat dan kesultanan yang berpengaruh dan dihormati), maka diputuskan bahwa yang berhak menduduki tahta Kesultanan Aceh Darussalam untuk menggantikan Sultan Mansur Syah adalah Sultan Buyong dengan gelar Sultan Ali Ri`ayat Syah Putra yang merupakan anak dari penguasa Inderapura, Sultan Munawar Syah. Namun, lagi-lagi kekuasaan pucuk pimpinan Kesultanan Aceh Darussalam tidak langgeng. Sultan Ali Ri`ayat Syah Putra meninggal dunia pada 1589 dalam suatu peristiwa pembunuhan. Sebenarnya, yang akan dijadikan pemimpin Aceh Darussalam sebelumnya adalah Raja Ayim, cucu Sultan Mansur Syah, akan tetapi calon sultan muda ini juga tewas terbunuh.

Pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam yang berikutnya adalah Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal Ibnu Sultan Firmansyah (1589-1604). Pada era Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal berkuasa, kolonialisme Eropa kian merasuki bumi nusantara dengan mulai masuknya Inggris dan Belanda. Tanggal 21 Juni 1595, armada dagang Belanda yang dipimpin de Houtman bersaudara, Cornelis dan Frederick, tiba di Aceh. Cornelis memimpin kapal “De Leeuw” sementara Frederick bertindak sebagai kapten kapal “De Leeuwin”. Pada awalnya kedatangan orang-orang Belanda disambut hangat oleh penduduk Aceh. Akan tetapi, kemunculan kaum pedagang Belanda di Aceh ternyata dianggap menimbulkan ancaman tersendiri bagi orang-orang Portugis yang sudah berada di sana sebelumnya. Portugis sendiri pada akhirnya dapat dilenyapkan dari bumi Aceh Darussalam pada 1606 berkat kegemilangan serangan yang dipimpin oleh Perkasa Alam yang kelak menjadi Sultan Aceh Darussalam dan mashyur dengan nama Sultan Iskandar Muda.

b. Masa Keemasan di Masa Sultan Iskandar Muda

Ketika Houtman bersaudara beserta rombongan armada Belanda tiba di Aceh, hubungan yang terjalin antara Aceh dan Belanda berlangsung dengan kedudukan yang setara, terutama dalam hal urusan perniagaan dan diplomatik (Isa Sulaiman, eds. 2003:5). Mengenai hubungan perdagangan, de Houtman bersaudara atas nama kongsi dagang Belanda, meminta kepada Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal sebagai pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam, agar diperbolehkan membawa lada dan rempah-rempah dari Aceh. Sebagai gantinya, de Houtman berjanji akan membantu Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal untuk memukul Johor yang saat itu sedang berseteru dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Selama Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal memerintah selama 20 tahun, Kesultanan Aceh Darussalam terus-menerus terlibat pertikaian besar dengan Kesultanan Johor. Perselisihan antara Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal dan de Houtman mulai timbul ketika orang-orang Belanda yang berada di Aceh mulai bersikap tidak sopan. Frederick de Houtman beberapa kali mengatakan kebohongan ketika berbicara dengan Sultan Aceh Darussalam.

Salah satu tindakan dusta yang dilakukan Frederick de Houtman adalah ketika Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal menanyakan di mana letak negeri Belanda dan berapa luasnya. Frederick de Houtman lalu membuka peta bumi dan ditunjukkanlah pada Sultan bahwa negeri Belanda itu besar, meliputi hampir seluruh benua Eropa, yakni antara Moskow (Rusia) sampai dengan Venezia (Italia). Akan tetapi Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal tidak begitu saja percaya terhadap bualan Frederick de Houtman itu. Secara diam-diam, Sultan bertanya kepada orang Portugis bagaimana sebetulnya negeri Belanda itu. Orang Portugis tersebut tentu saja menjawab yang sebenarnya bahwa negeri Belanda hanya satu bangsa kecil, bahwa negeri Belanda adalah negeri yang tidak punya raja (karena pada waktu itu Belanda merupakan negara republik yang baru saja dicetuskan, yakni Bataafsche Republik.

Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal tentu saja murka karena telah diperdayai oleh orang asing yang menetap di wilayahnya. Maka kemudian Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal memerintahkan tentaranya untuk mencari, menangkap, dan kemudian memenjarakan Frederick de Houtman. Konon, lima orang anak buah kapal Frederick de Houtman dibebaskan karena bersedia masuk Islam. Rakyat Kesultanan Aceh Darussalam bertambah geram terhadap awak-awak kapal Belanda karena kelakuan mereka yang dinilai melewati batas. Ketika salah satu kapal Belanda merapat ke Pulau Malavidam yang terletak di Lautan Hindia antara Sumatra dan Srilangka, Cornelis de Houtman, saudara laki-laki Frederick, berkelakuan tidak sopan. Diceritakan, Cornelis telah memaksa istri dari seorang tokoh masyarakat di pulau itu supaya berjalan di hadapan orang-orang Belanda dalam keadaan telanjang bulat. Setelah itu, Cornelis dengan paksa merampas barang-barang perhiasan yang menempel di tubuh perempuan malang tersebut.

Kekejaman orang-orang Belanda belum berhenti. Tidak lama setelah peristiwa memalukan di Pulau Malavidam, terjadi perampasan yang dilakukan oleh para awak kapal Belanda terhadap kapal-kapal dan perahu-perahu milik nelayan Aceh. Laksamana van Caerden, pemimpin kapal Belanda itu, tidak segan-segan menyerang dan menenggelamkan kapal-kapal Aceh yang ditemuinya. Kelakuan orang-orang Belanda tersebut jelas menimbulkan ketegangan dengan pihak Kesultanan Aceh Darussalam dan kondisi ini ternyata menyulitkan pihak Belanda. Jika bermusuhan terus dengan Aceh, kerugiannya teramat besar, selain keamanan pelayaran laut, juga sumber perdagangan di bagian itu tidak dapat direbut Belanda dari Portugis.
[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]]
Ketika Portugis dan Belanda berebut pengaruh di tanah Aceh, Kesultanan Aceh Darussalam justru mengalami konflik internal. Pada April 1604, anak kedua Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal, yaitu Sultan Muda, melakukan kudeta terhadap ayahnya sendiri, lalu memproklamirkan dirinya menjadi sultan dengan gelar Sultan Ali Ri`ayat Syah. Sebelumnya, Sultan Muda pernah diangkat sebagai wakil Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal, untuk memimpin Pedir yang telah berhasil ditaklukkan.

Namun, karena kinerja Sultan Muda dinilai tidak memuaskan, maka kemudian ia ditarik kembali ke Aceh Darussalam untuk membantu ayahnya sekaligus mendalami pengalaman dalam mengelola pemerintahan. Kedudukan Sultan Muda di Pedir digantikan oleh saudaranya, Sultan Husin, yang sebelumnya diserahi tugas untuk mengkoordinir wilayah Pasai. Dari sinilah mulai timbul keinginan dari Sultan Muda untuk merebut tahta ayahnya, terlebih lagi sang putra mahkota, anak pertama Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal yang bernama Mahadiradja, telah gugur dalam suatu pertempuran. Tidak lama kemudian, masih di tahun 1604 itu, Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal akhirnya menutup mata.

Pemerintahan baru di bawah komando Sultan Muda alias Sultan Ali Ri`ayat Syah ternyata menimbulkan ketidakpuasan dari beberapa pihak, termasuk dari saudaranya sendiri, yakni Sultan Husin yang berkuasa di Pedir. Rasa tidak puas atas kepemimpinan Sultan Ali Ri`ayat Syah di Kesultanan Aceh Darussalam juga ditunjukkan oleh seorang anak muda yang pemberani, bernama Darma Wangsa atau yang dikenal juga dengan panggilan kehormatan: Perkasa Alam. Karena Sultan Ali Ri`ayat Syah memandang bahwa pergerakan Perkasa Alam cukup membahayakan, maka kemudian Sultan Ali Ri`ayat Syah mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Perkasa Alam. Namun, Perkasa Alam terlebih dulu mengetahui rencana itu dan lantas meminta perlindungan kepada Sultan Husin di Pedir.

Sultan Ali Ri`ayat Syah semakin murka dan kemudian dilakukanlah serangan yang cukup besar terhadap Pedir. Alhasil, Perkasa Alam dapat ditangkap dan dipenjarakan. Daro balik kurungan, Perkasa Alam mendengar bahaya-bahaya yang terjadi akibat agitasi Portugis dan tidak stabilnya kondisi rakyat Kesultanan Aceh Darussalam karena ketidakbecusan Sultan Ali Ri`ayat Syah. Maka dari itulah, Perkasa Alam kemudian mengirimkan pesan kepada Sultan Ali Ri`ayat Syah bahwa sekiranya dia dibebaskan dari penjara dan diberi perlengkapan senjata, dia berjanji akan dapat mengusir Portugis dari Bumi Serambi Mekkah. Boleh jadi karena Sultan Ali Ri`ayat Syah sudah frustasi dengan kekisruhan yang ditimbulkan oleh Portugis, maka permintaan Perkasa Alam tersebut dikabulkan.

Perkasa Alam kemudian memimpin perang melawan Portugis secara habis-habisan dan hasilnya memang tidak mengecewakan. Sekitar 300 orang serdadu Portugis tewas akibat serangan jitu yang dikomandani Perkasa Alam. Benteng yang diduduki Portugis dapat direbut kembali oleh pasukan Perkasa Alam. Karena mengalami kekalahan terbesar, Portugis memutuskan untuk lari dari Aceh dan mundur ke Malaka. Namun, di tengah jalan mereka berpapasan dengan armada Belanda yang kemudian menyerang mereka sehingga Portugis benar-benar terpukul mundur dan hancur.

Tanggal 4 April 1607, Sultan Ali Ri`ayat Syah mangkat. Terjadilah sedikit ketegangan sepeninggal Sultan Ali Ri`ayat Syah ihwal siapa yang berhak menyandang gelar sebagai Sultan Aceh Darussalam berikutnya. Perkasa Alam muncul sebagai kandidat terkuat karena didukung oleh segenap tokoh adat yang berpengaruh. Tidak seberapa lama, tersiarlah kabar bahwa Perkasa Alam didaulat menjadi penguasa Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan baru inilah yang kemudian terkenal dengan nama Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam. Kendati suasana berlangsung sedikit tegang, namun dalam waktu yang relatif tidak lama, Perkasa Alam atau yang bergelar sebagai Sultan Iskandar Muda, mampu menguasai keadaan dengan mengkoordinir alat-alat pemerintah, sipil, dan militer, sehingga kedudukannya sebagai Sultan Aceh Darussalam semakin teguh.

Perkasa Alam lahir pada 1590. Anak muda gagah perkasa ini adalah keturunan dari pemimpin Aceh Darussalam terdahulu, Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar. Perkasa Alam juga dikenal dengan beberapa nama lain, di antaranya Darmawangsa dan Tun Pangkat. Setelah memegang tampuk kepemimpinan Kesultanan Aceh Darussalam dan menyandang nama Sultan Iskandar Muda, gelarnya pun bertambah sebagai Mahkota Alam. Selain itu, Sultan Aceh Darussalam yang terbesar ini juga dikenal dengan nama kehormatan Sri Perkasa Alam Johan Berdaulat. Kadang-kadang orang menyebutnya dengan menyatukan nama-nama itu, yakni menjadi Perkasa Alam Maharaja Darmawangsa Tun Pangkat.

Berbagai nama dan gelar ini menunjukkan betapa mashurnya Sultan Iskandar Muda, baik di dalam maupun di luar Aceh, di dalam dan di luar kepulauan nusantara, sejak masa itu dan untuk beberapa waktu lamanya, bahkan hingga kini. Di dalam negeri Aceh sendiri tidak ada seorang putra Aceh yang tidak mengenal nama ini dari masa itu. Tiap-tiap orang sampai ke pelosok, tahu siapa Iskandar Muda, demikian sejak beratus-ratus tahun hingga sekarang (Said a, 1981:282).

Setelah berjaya menduduki tahta tertinggi Kesultanan Aceh Darussalam, Perkasa Alam yang bergelar Sultan Iskandar Muda segera merancang program untuk meluaskan wilayah Kesultanan Aceh Darussalam. Beberapa misi yang diusung dalam rangka program tersebut adalah antara lain :
  1. Menguasai seluruh negeri dan pelabuhan di sebelah-menyebelah Selat Malaka, dan menetapkan terjaminnya wibawa atas negeri-negeri itu sehingga tidak mungkin kemasukan taktik licik pemecah-belah “devide et impera” yang diterapkan kaum penjajah dari Barat.
  2. Memukul Johor supaya tidak lagi dapat ditunggangi oleh Portugis ataupun Belanda.
  3. Memukul negeri-negeri di sebelah timur Malaya, sejauh yang merugikan pedagang-pedagang Aceh dan usahanya untuk mencapai kemenangan dari musuh, seperti Pahang, Patani, dan lain-lain.
  4. Memukul Portugis dan merampas Malaka.
  5. Menaikkan harga pasaran hasil bumi untuk ekspor, dengan jalan memusatkan pelabuhan samudera ke satu pelabuhan di Aceh, atau sedikit-dikitnya mengadakan pengawasan yang sempurna sedemikian rupa sehingga kepentingan kerajaan tidak dirugikan (Said a, 1981:285).
Semenjak Sultan Iskandar Muda memegang kendali pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam, wilayah Aceh sendiri di sebelah timur sampai ke Tamiang disusun kembali, dan di sebelah barat, terutama daerah-daerah di luar Aceh yang sudah dikuasai, seperti Natal, Paseman, Tiku, Pariaman, Salida, dan Inderapura, kembali dipercayakan kepada pembesar-pembesar yang cukup berwibawa dan ahli menjalankan tugas untuk mengatur cukai-cukai dan pendapatan lain bagi pemasukan Kesultanan Aceh Darussalam.

Sementara itu, setelah kekalahan Portugis, Belanda pun harus berpikir ulang dalam meneruskan usahanya untuk menduduki Aceh karena memperhitungkan posisi Sultan Iskandar Muda. Maka dari itu, sejak tahun 1606, Belanda lebih memusatkan perhatiannya ke tempat-tempat lain di luar Aceh. Mau tidak mau, Belanda harus memasang siasat dengan mendahulukan kepentingan untuk menguasai tempat-tempat lain, terutama Jawa dan Maluku. Belanda, di bawah kendali Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, memimpin Hindia Belanda sebanyak dua periode yakni pada 1619–1623 dan 1627–1629, sangat sadar bahwa Aceh saat itu tidak akan bisa dihadapi dengan cara militer. Coen menganggap lebih baik menjalankan politik adu domba atau pemecah belah saja. Tidak hanya Belanda saja yang gentar melihat kebesaran Kesultanan Aceh Darussalam di bawah komando Sultan Iskandar Muda, Inggris pun merasakan kecemasan yang sama. Untuk itulah kemudian Inggris lebih berkonsetrasi untuk beroperasi di daerah-daerah yang bukan menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam.

Kesultanan Aceh Darussalam memiliki angkatan perang yang kuat sehingga mendukung upaya Sultan Iskandar Muda untuk meluaskan daerah kekuasaannya. Dalam masa Sultan Iskandar Muda, seluruh Pantai Barat Sumatra hingga Bengkulu telah berada dalam kuasa Aceh Darussalam. Di tempat-tempat tersebut, terutama di pelabuhannya seperti Pariaman, Tiku, Salida, Indrapura, dan lain-lainnya, ditempatkanlah seorang panglima untuk memimpin masing-masing daerah taklukan. Kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam di bawah Sultan Iskandar Muda juga sudah meluas di seluruh Sumatra Timur. Dengan jatuhnya Pahang, Kedah, Patani, dan Perak, boleh dikatakan masa itu Semenanjung Melayu dengan Sumatra Timur, termasuk Siak, Indragiri, Lingga, serta wilayah-wilayah di selatannya, di mana di dalamnya terdapat Palembang dan Jambi, sudah menjadi bagian dari imperium Kesultanan Aceh Darussalam.

Di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, Kesultanan Aceh Darussalam mengalami puncak masa keemasan. Permintaan akan lada, yang kala itu menjadi komoditas yang cukup laku di pasaran Eropa, terus meningkat sehingga harganya pun melambung tinggi. Dalam keadaan demikian, bisa dikatakan hampir seluruh bandar dagang dan pelabuhan yang menghasilkan lada di seantero Sumatra dan Malaya, demikian juga dengan hasil-hasil lainnya, termasuk timah, telah berada di dalam koordinasi kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Tidaklah mengherankan jika perekonomian Kesultanan Aceh Darussalam semakin mantap. Kas kesultanan bertambah penuh, pembangunan angkatan perang dapat diselenggarakan dengan lancar, demikian juga dengan pembangunan di sektor-sektor lain.
[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]]
Di sisi lain, Sultan Iskandar Muda ternyata masih penasaran dengan Portugis yang berlindung di Malaka. Aceh melihat kedudukan Portugis di Malaka merupakan suatu ancaman besar. Kendati sudah dalam kondisi terdesak, Portugis masih saja melakukan kegiatannya dengan menghubungi negeri-negeri kecil yang sudah berada dalam kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam. Jadi, mau tidak mau Malaka dan Portugis harus dikalahkan dan untuk itu rencana menyerang Malaka tetap merupakan program yang selalu harus dijalankan dengan segera. Realisasi dari rencana itu terjadi pada 1629 di mana angkatan perang Kesultanan Aceh Darussalam menyiapkan pasukan berkekuatan 236 buah kapal dengan 20.000 prajuritnya.

Ketika armada perang Kesultanan Aceh Darussalam tiba di perairan Malaka, terlibatlah pertempuran di laut melawan armada Portugis. Aceh menang telak dalam perang ini sehingga pecahlah kekuatan angkatan laut Portugis. Hal yang sama juga terjadi dalam pertempuran darat. Angkatan perang Aceh Darussalam yang perkasa mengurung laskar tentara Portugis selama berbulan-bulan hingga tidak berkutik. Meski di atas angin, namun Sultan Iskandar Muda ternyata bisa lalai juga. Karena terlalu berkonsentrasi dalam upaya pengepungan, angkatan perang Aceh Darussalam tidak memperhitungkan, dengan tidak mengadakan penjagaan yang ketat di laut, adanya bantuan-bantuan dari luar kepada Portugis. Portugis sendiri telah mengantisipasi strategi pengepungan oleh Aceh Darussalam dengan menyediakan bahan makanan di dalam benteng untuk berbulan-bulan lamanya.

Pemimpin terbesar Kesultanan Aceh Darussalam, Sultan Iskandar Muda, akhirnya meninggal dunia pada 28 Rajab 1046 Hijiriah atau 27 Desember 1636 Masehi, dalam usia yang relatif masih muda, 46 tahun. Menurut T.H. Zainuddin seperti yang dikutip oleh H. Mohammad Said dalam bukunya bertajuk “Aceh Sepanjang Abad” (Waspada Medan, 1981), Sultan Iskandar Muda mempunyai 3 orang anak. Pertama adalah seorang anak perempuan bernama Puteri Sri Alam, yang merupakan buah hati Sultan dengan Permaisuri dari Reubee. Kedua, dari selir yang berasal dari Habsyi, Sultan Iskandar Muda memperoleh anak lelaki bernama Imam Hitam, yang kelak menurunkan Panglima Polim. Anak terakhir Sultan Iskandar Muda adalah Meurah Peupok, diperoleh dari istri selir yang berasal dari Gayo. Menurut adat serta hukum yang berlaku di Aceh saat itu, anak dari selir tidak bisa diangkat menjadi raja (Said a, 1981:332). Sepeninggal Sultan Iskandar Muda, eksistensi Kesultanan Aceh Darussalam masih terus berlanjut kendati belum bisa mencapai kejayaan seperti yang diperoleh semasa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda.

C. Keruntuhan Kesultanan Aceh Darussalam
 
Kesultanan Aceh Darussalam pernah pula dipimpin oleh seorang raja perempuan. Ketika Sultan Iskandar Tsani mangkat, sebagai penggantinya adalah Taj`al-`Alam Tsafiatu`ddin alias Puteri Sri Alam, istri dari Sultan Iskandar Tsani yang juga anak perempuan Sultan Iskandar Muda. Ratu yang dikenal juga dengan nama Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam ini memerintah Kesultanan Aceh Darussalam selama 34 tahun (1641-1675). Masa pemerintahan Sang Ratu diwarnai dengan cukup banyak upaya tipu daya dari pihak asing serta bahaya pengkhianatan dari orang dalam istana. Masa pemerintahan Ratu Taj`al-`Alam Tsafiatu`ddin selama 34 tahun itu tidak akan bisa dilalui dengan selamat tanpa kebijaksanan dan keluarbiasaan yang dimiliki oleh Sang Ratu. Dalam segi ini, Aceh Darussalam bisa membanggakan sejarahnya karena telah mempunyai tokoh wanita yang luar biasa di tengah rongrongan kolonialis Belanda yang semakin kuat.

Pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam sepeninggal Ratu Taj`al-`Alam Tsafiatu`ddin yang wafat pada 23 Oktober 1675 masih diteruskan oleh pemimpin perempuan hingga beberapa era berikutnya. Adalah Sri Paduka Putroe dengan gelar Sultanah Nurul Alam Nakiatuddin Syah yang menjadi pilihan para tokoh adat dan istana untuk memegang tampuk pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam yang selanjutnya. Konon, dipilihnya Ratu yang juga sering disebut dengan nama Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam ini dilakukan untuk mengatasi usaha-usaha perebutan kekuasaan oleh beberapa pihak yang merasa berhak. Namun pemerintahan Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam hanya bertahan selama 2 tahun sebelum akhirnya Sang Ratu menghembuskan nafas penghabisan pada 23 Januari 1678. Dua pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam setelah Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam masih dilakoni kaum perempuan, yaitu Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688), dan kemudian Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699).

Setelah era kebesaran Sultan Iskandar Muda berakhir, Belanda mencium peluang untuk kembali mengusik tanah Aceh. Memasuki paruh kedua abad ke-18, Aceh mulai terlibat konflik dengan Belanda dan Inggris. Pada akhir abad ke-18, wilayah kekuasaan Aceh di Semenanjung Malaya, yaitu Kedah dan Pulau Pinang dirampas oleh Inggris. Tahun 1871, Belanda mulai mengancam Aceh, dan pada 26 Maret 1873, Belanda secara resmi menyatakan perang terhadap Aceh. Dalam perang tersebut, Belanda gagal menaklukkan Aceh. Pada 1883, 1892 dan 1893, perang kembali meletus, namun, lagi-lagi Belanda gagal merebut Aceh.
[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]]
Memasuki abad ke-20, dilakukanlah berbagai cara untuk dapat menembus kokohnya dinding ideologi yang dianut bangsa Aceh, termasuk dengan menyusupkan seorang pakar budaya dan tokoh pendidikan Belanda, Dr. Snouck Hugronje, ke dalam masyarakat adat Aceh. Snouck Hugronje sangat serius menjalankan tugas ini, bahkan sarjana dari Universitas Leiden ini sempat memeluk Islam untuk memperlancar misinya. Di dalaminya pengetahuan tentang agama Islam, demikian pula tentang bangsa-bangsa, bahasa, adat-istiadat di Indonesia dan perihal yang khusus mengenai pengaruh-pengaruhnya bagi jiwa dan raga penduduk (H. Mohammad Said b, 1985:91). Snouck Hugronje menyarankan kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda agar mengubah fokus serangan yang selama ini selalu berkonsentrasi ke Sultan dan kaum bangsawan, beralih kepada kaum ulama. Menurut Snouck Hugronje, tulang punggung perlawanan rakyat Aceh adalah kaum ulama. Oleh sebab itu, untuk melumpuhkan perlawanan rakyat Aceh, maka serangan harus diarahkan kepada kaum ulama Aceh tersebut. Secara lebih detail, Snouck Hugronje menyimpulkan hal-hal yang harus dilakukan untuk dapat menguasai Aceh, antara lain :
  1. Hentikan usaha mendekat Sultan dan orang besarnya.
  2. Jangan mencoba-coba mengadakan perundingan dengan musuh yang aktif, terutama jika mereka terdiri dari para ulama.
  3. Rebut lagi Aceh Besar.
  4. Untuk mencapai simpati rakyat Aceh, giatkan pertanian, kerajinan, dan perdagangan.
  5. Membentuk biro informasi untuk staf-staf sipil, yang keperluannya memberi mereka penerangan dan mengumpulkan pengenalan mengenai hal ihwal rakyat dan negeri Aceh.
  6. Membentuk kader-kader pegawai negeri yang terdiri dari anak bangsawan Aceh dan membikin korps pangrehpraja senantiasa merasa diri kelas memerintah (Said b, 1985:97).
Saran ini kemudian diikuti oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dengan menyerang basis-basis para ulama, sehingga banyak masjid dan madrasah yang dibakar Belanda. Saran Snouck Hugronje membuahkan hasil: Belanda akhirnya sukses menaklukkan Aceh. Pada 1903, kekuatan Kesultanan Aceh Darussalam semakin melemah seiring dengan menyerahnya Sultan M. Dawud kepada Belanda. Setahun kemudian, tahun 1904, hampir seluruh wilayah Aceh berhasil dikuasai Belanda. Walaupun demikian, sebenarnya Aceh tidak pernah tunduk sepenuhnya terhadap penjajah. Perlawanan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh adat dan masyarakat tetap berlangsung. Aceh sendiri cukup banyak memiliki sosok pejuang yang bukan berasal dari kalangan kerajaan, sebut saja: Chik Di Tiro, Panglima Polim, Cut Nya` Dhien, Teuku Umar, Cut Meutia, dan lain-lainnya. Akhir kalam, sepanjang riwayatnya, Kesultanan Aceh Darussalam telah dipimpin lebih dari tigapuluh sultan/ratu. Jejak yang panjang ini merupakan pembuktian bahwa Kesultanan Aceh Darussalam pernah menjadi peradaban besar yang sangat berpengaruh terhadap riwayat kemajuan di bumi Melayu.

2. Silsilah
 
Sepanjang riwayat dari awal berdiri hingga keruntuhannya, Kesultanan Aceh Darussalam tercatat telah berganti sultan hingga tigapuluh kali lebih. Berikut ini silsilah para sultan/sultanah yang pernah berkuasa di Kesultanan Aceh Darussalam :
  1. Sulthan Ali Mughayat Syah (1496-1528)
  2. Sulthan Salah ad-Din (1528-1537)
  3. Sulthan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar (1537-1568)
  4. Sulthan Husin Ibnu Sultan Alauddin Ri`ayat Syah (1568-1575)
  5. Sulthan Muda (1575)
  6. Sulthan Sri Alam (1575-1576)
  7. Sulthan Zain Al-Abidin (1576-1577)
  8. Sulthan Ala al-din mansyur syah (1576-1577)
  9. Sulthan Buyong atau Sultan Ali Ri`ayat Syah Putra (1589-1596)
  10. Sulthan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal Ibnu (1596-1604)
  11. Sulthan Ali Riayat Syah (1604-1607)
  12. Sulthan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636)
  13. Sulthan Iskandar Tsani (1636-1641)
  14. Sulthanah (Ratu) Tsafiatu' ddin Taj 'Al-Alam / Puteri Sri Alam (1641-1675)
  15. Sulthanah (Ratu) Naqi al-Din Nur Alam (1675-1678)
  16. Sulthanah (Ratu) Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688)
  17. Sulthanah (Ratu) Kamalat Sayah Zinat al-Din (1688-1699)
  18. Sulthan Badr al-Alam Syarif Hasyim Jamal al-Din (1699-1702)
  19. Sulthan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
  20. Sulthan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726)
  21. Sulthan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726)
  22. Sulthan Syams al-Alam (1726-1727)
  23. Sulthan Ala al-Din Ahmad Syah (1723-1735)
  24. Sulthan Ala al-Din Johan Syah (1735-1760)
  25. Sulthan Mahmud Syah (1760-1781)
  26. Sulthan Badr al-Din (1781-1785)
  27. Sulthan Sulaiman Syah (1785-1791)
  28. Sulthan Alauddin Muhammad Daud Syah (1791-1795)
  29. Sulthan Ala al-Din Jauhar Alam Syah (1795-1815)
  30. Sulthan Syarif Saif al-Alam (1815-1818)
  31. Sulthan Ala al-Din Jauhar Alam Syah (1818-1824)
  32. Sulthan Muhammad Syah (1824-1838)
  33. Sulthan Sulaiman Syah (1838-1857)
  34. Sulthan Mansyur Syah (1857-1870)
  35. Sulthan Mahmud Syah (1870-1874)
  36. Sulthan Muhammad Daud Syah (1874-1903)
( Catatan : Sulthan Aceh Ke-29 dan 31 adalah orang yang sama )

3. Wilayah Kekuasaan

Daerah-daerah yang menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam, dari masa awalnya hingga terutama berkat andil Sultan Iskandar Muda, mencakup antara lain hampir seluruh wilayah Aceh, termasuk Tamiang, Pedir, Meureudu, Samalanga, Peusangan, Lhokseumawe, Kuala Pase, serta Jambu Aye. Selain itu, Kesultanan Aceh Darussalam juga berhasil menaklukkan seluruh negeri di sekitar Selat Malaka termasuk Johor dan Malaka, kendati kemudian kejayaan pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda mulai mengalami kemunduran pasca penyerangan ke Malaka pada 1629.
[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]]
Selain itu, negeri-negeri yang berada di sebelah timur Malaya, seperti Haru (Deli), Batu Bara, Natal, Paseman, Asahan, Tiku, Pariaman, Salida, Indrapura, Siak, Indragiri, Riau, Lingga, hingga Palembang dan Jambi. Wilayah Kesultanan Aceh Darussalam masih meluas dan menguasai seluruh Pantai Barat Sumatra hingga Bengkulen (Bengkulu). Tidak hanya itu, Kesultanan Aceh Darussalam bahkan mampu menaklukkan Pahang, Kedah, serta Patani. Pembagian wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam pada masa Sultan Iskandar Muda diuraikan sebagai berikut: 
1. Wilayah Aceh Raja
Dibagi dalam tiga Sagoi (ukuran wilayah administratif yang kira-kira setara dengan kecamatan) yang masing-masing dipimpin oleh seorang kepala dengan gelar Panglima Sagoe, yaitu:
  • Sagoe XXII Mukim,
  • Sagoe XXV Mukim
  • Sagoe XXVI Mukim.
Di bawah tiap-tiap Panglima Sagoe terdapat beberapa Uleebalang dengan daerahnya yang terdiri dari beberapa Mukim (ukuran wilayah administratif yang kira-kira setara dengan kelurahan/desa). Di bawah Uleebalang terdapat beberapa Mukim yang dipimpin oleh seorang kepala yang bergelar Imeum. Mukim terdiri dari beberapa kampung yang masing-masing dipimpin oleh seorang kepala dengan gelar Keutjhi.
2. Daerah Luar Aceh Raja
Daerah ini terbagi dalam daerah-daerah Uleebalang yang dipimpin oleh seorang kepala yang bergelar Uleebalang Keutjhi. Wilayah-wilayah di bawahnya diatur sama dengan aturan wilayah yang berlaku di Daerah Aceh Raja.
3. Daerah yang Berdiri Sendiri
Di dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam terdapat juga daerah-daerah yang tidak termasuk ke dalam lingkup Daerah Aceh Raja ataupun Daerah Luar Aceh Raja. Daerah-daerah yang berdiri di perintahkan oleh uleebalang untuk tunduk kepada Sultan Aceh Darussalam (hasjmy, 1961:3)
4. Sistem Pemerintahan

Ketika dipimpin oleh Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar (1577-1589), Kesultanan Aceh Darussalam sudah memiliki undang-undang yang terangkum dalam kitab Qanun Syarak Kesultanan Aceh Darussalam. Undang-undang ini berbasis pada Al-Quran dan Hadits yang mengikat seluruh rakyat dan bangsa Aceh. Di dalamnya, terkandung berbagai aturan mengenai kehidupan bangsa Aceh, termasuk syarat-syarat pemilihan pegawai kerajaan. Namun, fakta sejarah menunjukkan, walaupun Aceh Darussalam telah memiliki undang-undang, ternyata belum cukup untuk menjadikannya sebagai sebuah kerajaan konstitusional.

Pada era kepemimpinan Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal Ibnu Sultan Firmansyah (1589-1604), Kesultanan Aceh Darussalam memiliki susunan pemerintahan yang sudah cukup mapan. Kesultanan diperintah oleh Sultan dengan bantuan lima orang besar (tokoh-tokoh yang dihormarti), bendahara, empat syahbandar. Pada saat itu, angkatan perang yang dimiliki Kesultanan Aceh Darussalam cukup kuat, yaitu mempunyai 100 kapal perang di mana setiap kapal bisa ditempatkan sekitar 400 orang prajurit. Selain itu, Kesultanan Aceh Darussalam juga mempunyai banyak sekali meriam-meriam besar yang terbuat dari baja. Kekuatan pertahanan darat diperkuat juga dengan adanya barisan gajah yang dipergunakan oleh para hulubalang (Said a, 1981:218-219).

Selanjutnya, pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636) merupakan masa kebanggaan dan kemegahan, tidak hanya dalam hal pengaruh dan kekuasaan, tetapi juga di bidang penertiban susunan pemerintahan, terutama dalam hal mengadakan penertiban perdagangan, kedudukan rakyat sesama rakyat (sipil), kedudukan rakyat terhadap pemerintah, kedudukan sesama anggota pemerintahan, dan sebagainya. Sultan Iskandar Muda telah merumuskan perundang-undangan yang terkenal dengan sebutan Adat Makuta Alam yang disadur dan dijadikan landasan dasar oleh sultan-sultan setelahnya.

Penertiban hukum yang dibangun Sultan Iskandar Muda memperluas kebesarannya sampai ke luar negeri, antara lain India, Arab, Turki, Mesir, Belanda, Inggris, Portugis, Spanyol, dan Tiongkok. Banyak negeri tetangga yang mengambil aturan-aturan hukum di Aceh untuk ditiru dan diteladani, terutama karena peraturan itu berunsur kepribadian yang dijiwai sepenuhnya oleh hukum-hukum agama. Dengan demikian, Adat Makuta Alam yang dicetuskan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda adalah adat yang bersendi syara`. Hukum yang berlaku di Kesultanan Aceh Darussalam ada dua yakni hukum Islam dan hukum adat.

Dalam makalah bertajuk “Ichtisar Susunan dan Sistem Keradjaan Atjeh di Zaman Sultan Iskandar Muda” (1961) yang ditulis oleh A. Hasjmy disebutkan, susunan pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam pada masa Sultan Iskandar Muda menempatkan Sultan sebagai penguasa tertinggi pemerintahan, baik dalam bidang eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Sebagai penguasa tertinggi, Sultan memiliki hak-hak istimewa, antara lain:
  1. Pembebasan orang dari segala macam hukuman.
  2. Membuat mata uang.
  3. Memperoleh hak panggilan kehormatan “Deelat” atau “Yang Berdaulat”.
  4. Mempunyai kewenangan untuk mengumumkan dan memberhentikan perang.
[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]]Dalam menjalankan roda pemerintahan, Sultan Aceh Darussalam dibantu oleh beberapa lembaga pendukung kesultanan, yaitu antara lain:
  • 1. Majelis Musyawarah  
Ketua dari majelis ini adalah Sultan Aceh Darussalam sendiri, sedangkan wakilnya adalah Wazir A`am (Menteri Pertama), dan anggota-anggotanya diangkat dari kalangan beberapa menteri serta dari kaum cerdik-pandai.
  • 2. Pengadilan Sultan (Mahkamah Agung)  
Sultan Aceh Darussalam juga menjadi ketua dari lembaga pengadilan tertinggi ini, sedangkan sebagai wakil adalah Ketua Kadhi Malikul Adil, dan anggota-anggotanya diangkat dari kalangan ulama dan cerdik-pandai.
  • 3. Majelis Wazir (Dewan Menteri)
Sultan Aceh Darussalam duduk sebagai ketua majelis ini, sedangkan Wazir A`am (Menteri Pertama) bertindak sebagai wakilnya, dan anggota-anggotanya adalah dari kalangan para menteri kesultanan.
Selain itu, Sultan Aceh Darussalam bertindak sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang dan dibantu oleh Kepala Staf Angkatan Perang yang bergelar Laksamana sebagai wakilnya. Sultan juga berposisi sebagai Pemimpin Tertinggi Kepolisian yang dibantu oleh Kepala Polisi Negara selaku wakilnya. Ibukota Kesultanan Bandar Aceh Darussalam (termasuk istananya) berada langsung di bawah pimpinan Sultan yang dibantu oleh pejabat dengan gelar Teuku Panglima Kawaj sebagai wakilnya. Di samping itu, Sultan dibantu pula oleh dua orang Sekretaris Kesultanan yang terdiri dari dua gelar, yaitu (1) Teuku Keureukon Katibumuluk Sri Indrasura (jabatan ini kira-kira seperti Menteri Sekretaris Negara), dan (2) Teuku Keureukon Katibulmuluk Sri Indramuda (semacam Ajun Sekretaris Negara) (Hasjmy, 1961:2).

5. Kondisi Sosial-Ekonomi

Penduduk Aceh sangat gemar berniaga. Mereka berbakat dagang karena memiliki cukup banyak pengalaman dalam bidang tersebut. Selain itu, kebanyakan masyarakat Aceh juga ahli dalam sektor pertukangan. Banyak di antara penduduk Aceh yang bermatapencaharian sebagai tukang emas, tukang meriam, tukang kapal, tukang besi, tukang jahit, tukang periuk, tukang pot, dan juga suka membuat berbagai macam minuman. Mengenai alat transaksi yang digunakan, pada sekitar abad ke-16, masyarakat Aceh yang bernaung di bawah pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam sudah mengenal beberapa jenis mata uang. Uang yang digunakan di Aceh kala itu terbuat dari emas, kupang, pardu, dan tahil (Said a, 1981:219).

TEUNGKU MUHAMMAD NUR PENDIRI DAN PIMPINAN RADIO AN-NUUR SEDANG SIARAN DI AN-NUR RADIO MUSLIM ACEH YANG DI PANCARLUASKAN DI JLN SAWANG KM 3,5 DUSUN TGK DI CEUKOEK KUTA MEULIGOU
DENGAN NAMA ALLAH - TGK M.NUR,M.A MULAI BANGKIT MEDIA RADIO ISLAMI DI ACEH SEMOGA SEMUA PIHAK MENDUKUNG USAHA M.NUR DALAM PENDIRIAN RADIO DAKWAH AN-NUUR STREAMING GOOGLE http://radioannuur.webs.com DAN DI JALUR FM YG SKR BELUM ADA SIARAN OLEH SEBAB DEMIKIAN TGK M.NUR,M..A SANGAT MENGHARAPKAN BANTUAN HIBAH DARI SEMUA PIHAK AGAR SUDI MEMBANTU SATU PAKET PEMANCAR FM 200 WATT BILA ADA PARA PIHAK YG INGIN MENGHIBAHKANNYA HUB TGK M.NUR NO.HP 082167817173 ATAU PARA PIHAK MENYUMBANGKAN DANA OPERASIONAL ONLINE RADIO AN-NUUR DI INTERNET DENGAN NIAT INFAQ,SEDEKAH,HIBAH,ZAKAT KE RADIO AN-NUUR DENGAN MENTRANFER KE BANK ACEH UNIT KRUENG MANE - LHOKSEUMAWE - ACEH ATAS NAMA : M.NUR NOMOR REKENING : 036.02.03.610309-2 ATAS PARTISIPASI SUMBANGAN UMMAT ISLAM SEDUNIA SANGAT KAMI UCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS SUMBANGANNYA SEMOGA ALLAH MELIMPAHKAN RAHMAT DAN NIKMATNYA KEPADA KITA SEMUA. TTD.TGK M.NUR,M.A
MASJID BAITURRAHMAN BANDA ACEH

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, merupakan Masjid yang memiliki lembaran sejarah tersendiri, yang kini merupakan Masjid Negara yang berada di jantung kota Propinsi Nanggro Aceh Darussalam. Nama Masjid Raya Baiturrahman ini berasal dari nama Masjid Raya yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 H/1612 M. Mesjid raya ini memang pertama kali dibangun oleh pemerintahan Sultan Iskandar Muda, namun telah terbakar habis pada agresi tentara Belanda   kedua pada bulan shafar 1290/April 1873 M, dimana dalam peristiwa tersebut tewas Mayjen Khohler yang kemudian diabadikan tempat tertembaknya pada sebuah monument kecil dibawah pohon ketapang/geulumpang dekat pintu masuk sebelah utara mesjid.

Empat tahun setelah Masjid Raya Baiturrahman itu terbakar, pada pertengahan shafar 1294 H/Maret 1877 M, dengan mengulangi janji jenderal Van Sweiten, maka Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman yang telah terbakar itu. Pernyataan ini diumumkan setelah diadakan permusyawaratan dengan kepala-kepala Negeri sekitar Banda Aceh. Dimana disimpulakan bahwa pengaruh Masjid sangat besar kesannya bagi rakyat Aceh yang 100% beragama Islam. Janji tersebut dilaksanakan oleh Jenderal Mayor Vander selaku Gubernur Militer Aceh pada waktu itu. Dan tepat pada hari Kamis 13 Syawal 1296 H/9 Oktober 1879 M, diletakan batu pertamanya yang diwakili oleh Tengku Qadhi Malikul Adil. Masjid Raya Baiturrahman ini siap dibangun kembali pada tahun 1299 Hijriyah bersamaan dengan kubahnya hanya sebuah saja. Pada tahun 1935 M, Masjid Raya Baiturrahman ini diperluas bahagian kanan dan kirinya dengan tambahan dua kubah. Dan pada tahun 1975 M terjadinya perluasan kembali. Perluasan ini bertambah dua kubah lagi dan dua buah menara sebelah utara dan selatan. Dengan perluasan kedua ini Masjid Raya Baiturrahman mempunyai lima kubah dan selesai dekerjakan dalam tahun 1967 M. Dalam rangka menyambut Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional ke-XII pada tanggal 7 s/d 14 Juni 1981 di Banda Aceh, Masjid Raya diperindah dengan pelataran, pemasangan klinkers di atas jalan-jalan dalam pekarangan Masjid Raya. Perbaikan dan penambahan tempat wudhuk dari porselin dan pemasangan pintu krawang, lampu chandelier, tulisan kaligrafi ayat-ayt Al-Qur’an dari bahan kuningan, bagian kubah serta intalasi air mancur di dalam kolam halaman depan. Dan pada tahun 1991 M, dimasa Gubernur Ibrahim Hasan terjadi perluasan kembali yang meliputi halaman depan dan belakang serta masjidnya itu sendiri. Bagian masjid yang diperluas,meliputi penambahan dua kubah, bagian lantai masjid tempat shalat, ruang perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula dan ruang tempat wudhuk, dan 6 lokal sekolah. Sedangkan. perluasan halaman meliputi, taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama dan dua buah minaret. Dilihat dari sejarah, Masjid Raya Baiturrahman ini mempunyai nilai yang tinggi bagi rakyat Aceh, karena sejak Sultan Iskandar Muda sampai sekarang masih berdiri megah di tengah jantung kota Banda Aceh. Mesjid Raya ini mempunyai berbagai fungsi selain shalat, yaitu tempat mengadakan pengajian, perhelatan acara keagamaan seperti maulid Nabi Besar Muhammad SAW, peringatan 1 Muharram, Musabaqah Tilawatil Qur’an (yang baru selesai MTQ Telkom-Telkomsel Nasional), tempat berteduh bagi warga kota serta para pendatang, salah satu obyek wisata Islami. Waktu gempa dan tsunami (26 Desember 2004) yang menghancurkan sebagian Aceh, mesjid ini selamat tanpa kerusakan yang berarti dan banyak warga kota yang selamat di sini. Kawasan/lingkungan mesjid ini juga dijadikan kawasan syariat Islam, jadi sebaiknya kita jaga dan jangan dikotori oleh perbuatan-perbuatan yang melecehkan mesjid serta melanggar syariat Islam. Sumber: Dari berbagai sumber
Sejarah ulama Aceh yang belajar-mengajar dan mencari Ilmu serta membina kader-kader Islam, mahsyur hingga ke pelosok Nusantara. Diantaranya Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib Asyi.
Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib Asyi, tidak banyak dikenal oleh generasi Aceh kini. Padahal karya Tajul Muluk, sering dibaca sampai sekarang. Sebelum berangkat ke Mekkah beliau berguru pada Syeikh Ali Asyi di Aceh, dan sewaktu beliau berada di Mekkah diantara guru gurunya adalah, Syeikh Daud bin Abdullah Al Fathani dan Syeikh Ahmad al-Fathani.

Kedua ulama ini memang sangat disegani, tidak hanya di tanah Arab, tetapi juga di rantau Melayu, seperti di Aceh, Pattani, dan Kelantan. Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib Asyi, agaknya tidak lepas dari jaringan keilmuan Nusantara ini. Kendati, sampai sekarang hampir tidak ada peneliti yang berani melakukan pengkajian terhadap biografinya secara lengkap.Aceh, pulau jawa, sumatera, dan juga Kalimantan, ada kitab yang selalu dibaca oleh kaum santri atau siapapun yang tertarik dengan ilmu pegobatan, yakni Kitab Tajul Muluk. Kitab ini menggunakan bahasa Jawi (jawoe), maka siapapun bisa membacanya bila mengerti.Anak Aceh yang sudah belajar di pesantren modern atau Madrasah ‘Aliyah, diantara cita-cita mereka adalah bisa belajar di Kairo, Mesir. Negeri yang sudah mencetak ribuan ulama, bahkan tidak sedikit jiwa pembaruan di Nusantara, disemai dari mereka yang pernah menimba ilmu di Mesir.
Sehingga anak muda Aceh yang merantau ke Mesir itu tidak sedikit. Saat ini sudah ada yang berbakti di Darussalam, seperti Prof. Dr. Tgk. Muslim Ibrahim. Juga ada Prof. Dr.Tgk. Azman Ismail (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh). Di dalam era kontemporer, dunia Islâm di Aceh memang tidak dapat dilepaskan dari tradisi keilmuan Islam yang didapatkan oleh sarjana-sarjana Aceh yang pernah menuntut ilmu di Kairo ini.Ini merupakan impian setiap anak muda Aceh, yang mau menuntut ilmu ke mesir. Karena mesir gudangnya Ilmu Pengetahuan, dan Mesir tempat Ilmu pertama kali yang terbaik dalam hal masalah agama dan Ilmu pengobatan.
Selain Tajul Muluk, ada karyanya yang masih ada sampai saat ini adalah Jam’u Jawami’il Mushannifat. Salah satu kitab yang wajib dibaca di dayah-dayah, tidak hanya di Aceh, melainkan juga di Pattani dan Kelantan. Di dalam kitab tersebut, Syeikh Ismail menulis sepenggal kalimat yang sangat puitis:Di dalam hal ini, Syeikh Ismail selain mentashihkan kitab-kitab ulama Aceh pada saat itu agar mudah dibaca umum. Selain itu ia juga mengarang kitab sendiri seperti Muqaddimatul Mubtadi-in, yang dicetak oleh Mathba’ah al-Miriyah, Mekah, 1307 Hijrah/1889 Masehi. Tuhfatul Ikhwan fi Tajwidil Quran, diselesaikan pada waktu Dhuha hari Jumaat dua likur Jamadilawal 1311 Hijrah/1893 Masehi. Cetakan pertama Mathba’ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1311 Hijrah/1893 Masehi. Terdapat lagi cetakan Mathba’ah al-Miriyah, Mekah, 1324 Hijrah/1906 Masehi, Fat-hul Mannan fi Bayani Ma’na Asma-illahil Mannan, diselesaikan tahun 1311 Hijrah/1893 Masehi.
Cetakan kedua oleh Mathba’ah al-Miriyah al-Kainah, Makkah, 1311 Hijrah/1893 Masehi, Fat-hul Mannan fi Hadits Afdhal Waladi ‘Adnan, diselesaikan tahun 1311 Hijrah/1893 Masehi.Berawal dari kisah Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib al-Asyi, lalu mencoba mencari apakah ada ulama Aceh yang cukup disegani di Mesir? Dalam beberapa ‘catatan tercecer’ telah dikupas beberapa nama ulama Aceh di Mekkah serta jasa mereka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Mekkah berikut Serambinya (Aceh). Tanpa sengaja kemudian tersentak bahwa pengarang kitab Tajul Muluk adalah ulama Aceh yang pernah menetap di Mesir.
Lagi-lagi, nama beliau tidak pernah terdengar di Aceh, walaupun hanya untuk nama jalan, seperti yang terlihat sekarang, dimana ada nama-nama ulama besar hanya dijadikan sebagai nama-nama jalan di kota besar Aceh.Wan Muhammad Sangir Abdullah, pengumpul hasil karya ulama Nusantara, mengatakan bahwa Syeikh Ismail Abdul Muthalib Asyi, setelah lama belajar dan mengajar di Mekkah oleh gurunya Syeikh Ahmad Fathani mengirim beliau ke Mesir untuk mengurus dan membina kader kader muda Islam Nusantara yang lagi belajar di Al Azhar Kairo bersama Syeikh Muhammad Thahir Jalaluddin, Syeikh Ahmad Thahir Khatib, Syeikh Abdurrazak bin Muhammad Rais, dan Syeikh Muhammad Nur Fathani.Sesampainya di sana beliau mendirikan wadah pemersatu pelajar pelajar Nusantara disana dan beliau diangkat menjadi ketua pertama persatuan pelajar pelajar Melayu di Mesir oleh gurunya Syeikh Ahmad Fathani. Syeikh Ismail Asyi meninggal dunia di Mesir dan sedangkan keturunannya ramai menetap di Makkah. Sampai sekarang belum diketahui dimana pusaranya.
Namun, jasa dan embrio keilmuan yang ditiupkan oleh Syeikh Ahmad Fathani kepada Syeikah Ismail Abdulmuthalib Asyi sudah berhasil. Buah dari hijrah ini sudah dapat kita rasakan sampai hari ini, tidak hanya bagi orang Aceh, tetapi juga bagi umat Islâm di Indonesia, Malaysia, dan Thailand Selatan.Inilah kisah kecil dan peran Syeikh Ismail bin Abdulmuthalib Asyi. Ada banyak hal yang perlu dipelajari lebih lanjut. Perlu dilacak lagi bagaimana jaringan keilmuannya di Mesir. Sehingga ada ‘alasan sejarah’ mengapa generasi Aceh selalu bermimpi untuk menuntut ilmu ke negeri itu. kisah ini ternyata sudah dilakukan oleh Syeikh Ismail Abdulmuthalib Asyi melalui dorongan dari gurunya yang berasal dari Pattani. Untuk itu, kita berharap nama ulama ini bisa mendapat tempat yang terhormat di Aceh, tidak lantas kemudian menjadi nama-nama jalan di kota besar.Menghormati dan menghargai ulama, adalah dengan cara membaca karyanya dan berdoa atas jasa yang telah diberikan kepada kita saat ini. Begitu banyak manfaat kitab Tajul Muluk, namun tidak seimbang dengan pengetahuan pembaca akan penulis kitab ini.
Akhirnya ‘sejarah tercecer’ dan tersebar entah kemana, kali ini bisa menjadi perhatian bagi masyarakat dan pemerintah Aceh. Sudah saatnya digagas untuk menulis dan mencari dimana ulama-ulama Aceh di Timur Tengah..Kita berharap ada upaya nyata dari pemerintah untuk menggali dan mencari jejak-jejak ulama Aceh, yang telah berjasa dalam pengembangan keislaman dan keilmuan sehingga menjadi iktibar bagi generasi Aceh selanjutnya.
Secara sejarah, modernisasi pendidikan di Mesir berawal dari pengenalan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi Napoleon Bonaparte pada saat penaklukan Mesir. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang dicapai Napoleon Bonaparte yang berkebangsaan Perancis ini, memberikan inspirasi yang kuat bagi para pembaharu Mesir untuk melakukan modernisasi pendidikan di Mesir yang dianggapnya stagnan. Diantara tokoh-tokoh tersebut Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Ali Pasha. Dua yang terakhir, secara historis, kiprahnya paling menonjol jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain.
Sistem Pendidikan di negara Mesir meliputi: Sekolah Dasar (Ibtida’i); Sekolah Menengah Pertama (I’dadi);  Sekolah Menengah Atas (Tsanawiyah ‘Ammah); Pendidikan Tinggi.Mesir dengan luas  wilayah sekitar 997.739 km², mencakup Semenanjung Sinai (dianggap sebagai bagian dari Asia Barat Daya), sedangkan sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika Utara. Mesir berbatasan dengan Libya di sebelah barat, Sudan di selatan, jalur Gaza dan Israel di utara-timur.
Perbatasannya dengan perairan ialah melalui Laut Tengah di utara dan Laut Merah di timur.Asal nama Mesir, Orang Qibti (Mesir kuno) menyebut negeri ini di zaman dahulu dengan istilah Kemy dan Takemy yang berarti hitam atau tanah yang hitam, sebagai simbol dari warna tanah yang subur. istilah Mesir paling kuno adalah Tawey yang berarti dua tanah. Karena secara geografis Mesir terbagi kepada dua, Tasymaao (dataran tinggi) dan Tsameho (permukaan laut atau ardh wajhul bahri). Nama ini muncul sejak akhir 4000 tahun SM. [modusaceh.com]
Friday, October 19, 2012 Penegakan Syariat di Aceh Sering Terancaman

Penegakan dan pelaksanaan syariat Islam secara kaffah di Aceh adalah ketentuan konstitusi negara sebagaimana dalam UU Nomor 11 tentang Pemerintah Aceh. Implementasinya, setiap muslim di Aceh apapun status dan profesinya bertanggung jawab terhadap wibawa tegaknya konstitusi negara ini. 

Lebih dari itu, terlepas dari asas legalitas tersebut, merupakan konsekwensi logis bagi setiap orang yang telah mengucap dua kalimah syahadah untuk mengatur berbagai aspek kehidupannya sesuai dengan ketentuan Allah dan RasulNya Muhammad SAW sebagaimana dalam syariat Islam. 

Dengan dasar pemahaman seperti ini, kewajiban pelaksanaan syariat Islam bagi setiap muslim di Aceh adalah perintah Allah dan RasulNya, serta tuntutan konstitusi negara. Hanya saja diperlukan pemahanan konprehensif terhadap syariat Islam itu sendiri, bahwa syarait Islam itu mencakup berbagai aspek kehidupan, relasi dengan Allah dan relasi dengan sesama manusia, alam raya, serta lat batee kayee batee.

Adalah pembonsaian yang nyata terhadap syariat Islam, apabila syariat Islam diarahkan dan atau diformalkan sebatas ritual atau hanya berkaitan dengan beberapa qanun yang terkenal selama ini, yakni tentang maisir (judi), khamar (miras, narkoba), khalwat (pergaulan dan bersunyi-sunyi antara laki-laki dan perempuan akil baligh yang bukan mahram) serta hijab (menutup aurat). Sejatinya apapun aktivitas dalam hidup dan kehidupan setiap muslim di Aceh, politik, ekonomi, hukum, sosial budaya, tata kerja birokrasi dan lain-lain harus dilakoni sesuai dengan syariat Islam.

Faktanya, seperti yang terlihat sekarang, agaknya kita dapat terhibur dengan satu istilah “maala yudraku kulluh laa yutrau kulluh” (apa yang tidak didapatkan seluruhnya, tidak ditinggalkan seluruhnya). Lebih memprihatinkan lagi, ketika Islam kaffah belum terwujud di Aceh, sebagian kecil yang telah diformalkan berdasarkan qanunpun, dengan rupa-rupa dalih dan modus operandi, atas nama ini dan itu banyak yang menentangnya. 

Ancaman terhadap  Kadis Syariat Islam Langsa baru-baru ini, adalah salah satu contoh wujud penentangan itu. Kasus brutalitas dan penganiayaan terhadap Tgk. Saiful Bahri yang sedang berkhutbah di atas mimbar masjid Keumala Pidie beberapa bulan yang lalu juga contoh dari penentangan terhadap penegakan syariat Islam di Aceh. Demikian pula yang saya alami ketika sedang berdakwah di atas mimbar dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar di satu gampong pedalaman Pidie. Dengan brutal sekelompok kaum fasis memaksa saya turun dari mimbar, namun saya tetap bertahan hingga mimbar hancur berantakan, jamaah histeris dan dakwahpun bubar. 

Juga pengalaman yang saya alami, diancam akan dilakukan keributan dalam masjid kalau saya berkhutbah. Ini  terjadi menjelang Pilkada lalu di Masjid Amud Kecamatan Glumpang Tiga Pidie. Saya kira kasus ancaman terhadap Kadis Syariat Islam Langsa, kualitasnya tidak jauh berbeda dengan perilaku brutalitas terhadap  juru dakwah  sebelumnya. Hanya yang berbeda, kasus ancaman terakhir itu radius dan segmen masyarakat  yang menunjukkan kepedulian  lebih luas. 

Sedangkan kasus brutalitas sebelumnya sunyi senyap belaka, namun ketika masyarakat tidak peduli dengan kasus yang dialami Tgk. Saiful Bahri dan lain-lain, alhamdulillah kasus ancaman terhadap Kadis Syariat Islam Langsa mendapat perhatian luas. Memang demikianlah semestinya. Tidak kurang MPU Aceh begitu garang mengeluarkan pernyataan dan membela profesionalitas sang Kadis itu. Sayapun sepakat  dan mendukung pernyataan  dan sikap MPU serta siapapun yang memiliki komitmen dalam rangka tegak dan terlaksananya syariat Islam kaffah di Aceh.

Ghazali Abbas Adan : Anggota Majelis Syura Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Aceh.
RAJA ATJEH
RUMAH ALLAH
MARI KITA AMALKAN SURAT AL-FATIHAH UNTUK PEDOMAN DAN PETUNJUK KITA UMAT ISLAM ACEH BANSIGOM BUMOU ALLAH CIPTAKAN
T.INAYATSYAH S1 KELAUTAN UNIV.YOGYA ADIK TGK M.NUR,M.A
YANG INGIN PASANG BEHEL HUB 082167817173 - 085370641972 www.potongigi.blogspot.com KLINIK MAS KIKI
www.potonggigi.blogspot.com klinik Mas Kiki Gigi
POTONG GIGI TUJUAN PENGOBATAN GIGI
 
Temen temen semua, pastinya udah tau kan tentang kawat gigi yang sedang marak bangetbelakangan ini, mulai dari anak kecil sampai orang dewasa, mulai dari laki laki sampeperempuan, mulai dari yang perlu sampai yang buat gaya-gayaan. Padahalmenggunakan kawat gigi alias behel itu ngga murah lho! Dan seharusnya juga nggaasal pakai, karena segala hal ada aturannya, sekarang kita liat aturan ini dalam sudutpandang Islam ya! Buat muslim seharusnya bisa mempertimbangkan ulang nih.1. Apa sih hukum pake kawat gigi untuk orang-orang yang mungkin berkeinginan untukmerapikan giginya? dan terkadang dokter gigi tersebut harus mengikir permukaan gigiterlebih dahulu lhoJawabannya: Perbuatan ini diharamkan, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihiwa sallam.“Artinya : Para wanita yang mengikir gigi untuk berhias dan yang merubah ciptaanAllah”Mengikir gigi merupakan perbuatan yang merubah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’aladan menyibukkan diri dengan perbuatan sia-sia yang tidak ada manfaatnya, dan hanyamembuang-buang waktu yang seharusnya dipergunakan untuk hal-hal lain yang lebihbermanfaat bagi manusia. Perbuatan tersebut juga merupakan penipuan danpenggelapan serta menunjukkan kerdilnya manusia.[Zinatul Mar’ah, hal. 84]2. Apa sih hukum wanita yang mengikir giginya untuk keindahan, dengan caramendinginkan gigi-giginya dengan pendingin, lalu membuat jarak antara gigi-giginya,hal itu dilakukannya untuk menambah keindahan?Jawabannya: Diharamkan bagi wanita muslim untuk mengikir gigi-giginya dengantujuan memperindah diri, dengan cara mendinginkan gigi-giginya dengan pendinginsehingga tampak merenggang jarak antara gigi-giginya supaya kelihatan cantik.Namun apabila terdapat kotoran pada gigi-giginya yang mengharuskannyamengubahnya, dengan tujuan untuk menghilangkan kotoran tersebut, atau karenaterdapat ketidaknyamanan yang mengharuskannya untuk memperbaikinya dengantujuan untuk menghilangkan ketidaknyamanan tersebut, maka perbuatan tersebuttidak mengapa, karena hal itu termasuk dalam berobat dan membuang kotoran, yanghanya bisa dilakukan oleh dokter spesialis.[Tanbihat “ala Ahkamin Takhushshu bil Mu’minat, Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal 11]3. Terus gimana dengan hukum mengikir gigi untuk pengobatan dan menghilangkankekurangan?Jawabannya: Mengubah gigi untuk tujuan memperindahnya dan untuk menampakkanketajamannya adalah perbuatan haram. Namun apabila untuk tujuan pengobatan,maka tidak mengapa. Jika tumbuh gigi pada wanita yang menyusahkannya, makadiperbolehkan untuk mencabutnya karena gigi tersebut merusak pemandangan danmenyulitkannya dalam makan, sedangkan membuang aib (kekurangan) diperbolehkanmenurut syari’at. Demikian pula apabila terdapat kelainan yang memerlukanpengobatan, maka diperbolehkan.[Ziantul Mar’ah, Syaikh Abdullah Al-Fauzan hal. 85]4. Boleh ngga meluruskan gigi dan mendekatkan antara gigi-gigi hingga tidak tampakterpisah-pisah?

Change Agen

1Share
Kisah Nabi Muhammad SAW OPINI | 26 August 2010 | 22:13 Dibaca: 43174   Komentar: 2   1 Bermanfaat

Kisah Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir. Setelah nabi Muhammad SAW tidak ada nabi lagi. Nabi Muhammad SAW adalah panutan atau teladan bagi umat Islam. Berikut ini sekelumit kisahnya:

1. Masa Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Kebiasaan Masyarakat Jahiliyah

Pada masa kelahiran Nabi Muhammad SAW terdapat kejadian yang luar biasa yaitu ada serombongan pasukan Gajah yang dipimpin Raja Abrahah (Gubernur kerajaan Habsyi di Yaman) hendak menghancurkan Kakbah karena negeri Makkah semakin ramai dan bangsa Quraisy semakin terhormat dan setiap tahunnya selalu padat umat manusia untuk haji. Ini membuat Abrahah iri dan Abrahah berusaha membelokkan umat manusia agar tidak lagi ke Makkah. Abrahah mendirikan gereja besar di Shan’a yang bernama Al-Qulles. Namun tak seorang pun mau datang ke gereja Al Qulles itu. Abrahah marah besar dan akhirnya mengerahkan tentara bergajah untuk menyerang Kakbah. Didekat Makkah pasukan bergajah merampas harta benda penduduk termasuk 100 ekor Unta Abdul Muthalib

Dengan tak disangka Abdul Munthalib kedatangan utusan Abrahah supaya menghadap ke Abrahah. Yang pada akhirnya Abdul Munthalib meminta Untanya untuk dikembalikan dan bersedia mengungsi bersama penduduk dan Abdul Munthalib berdo’a kepada Allah supaya Kakbah diselamatkan.

Keadaan kota Makkah sepi tentara Abrahah dengan leluasa masuk Makkah dan siap untuk menghancurkan Kakbah. Allah SWT mengutus burung Ababil untuk membawa kerikil Sijjil dengan paruhnya. Kerikil itu dijatuhkan tepat mengenai kepala masing-masing pasukan bergajah tersebut hingga tembus ke badan sampai mati. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al Fiil ayat 1-5. (QS 105 :1-5). Pasukan bergajah hancur lebur mendapat adzab dari Allah SWT.

Pada masa itu lahir bayi yang diberi nama Muhammad dari kandungan ibu Aminah dan yang ber-ayahkan Abdullah. Muhammad lahir sudah yatim karena saat nabi Muhammad SAW masih dalam kandungan ayahnya sudah meninggal dunia. Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah dan bertepatan tanggal 22 April 571 M.

2. Kebiasaan Masyarakat Jahiliyah

Pada zaman kelahiran nabi Muhammad SAW masyarakat Makkah mempunyai kebiasaan jahiliyah yaitu kebiasaan menyembah patung atau berhala. Jahiliyah artinya zaman kebodohan. Yang disembah bukan Allah tetapi patung atau berhala dan kebiasaannya sangat buruk yaitu mabuk, berjudi, maksiat dan merendahkan derajat wanita. Mereka hidup berpindah-pindah dan terpecah dalam suku-suku yang disebut kabilah. Hidup serba bebas tidak ada aturan dalam bermasyarakat. Sehingga kehidupan sangat kacau balau.

Nah, di saat kekacaubalauan masyarakat Makkah itu lahir Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmat bagi seluruh alam.

3. Masa Kanak-Kanak Nabi Muhammad SAW hingga Masa Kerasulannya

Kebiasaan di kalangan pemuka pada saat itu apabila mempunyai bayi, maka bayi yang baru lahir itu dititipkan kepada kaum ibu pedesaan. Dengan tujuan agar dapat menghirup udara segar dan bersih serta untuk menjaga kondisi tubuh ibunya agar tetap sehat.

Menurut riwayat, setelah Muhammad dilahirkan disusui oleh ibunya hanya beberapa hari saja, Tsuaibah menyusui 3 hari setelah itu oleh Abdul Munthalib disusukan kepada Halimah Sa’diyah istri Haris dari kabilah Banu Saad.

Semenjak kecil Muhammad memiliki keistimewaan yaitu badannya cepat besar, umur 5 bulan sudah dapat berjalan dan umur 9 th sudah lancar berbicara serta umur 2 th sudah menggembalakan kambing dan wajahnya memancarkan cahaya.

Muhammad diasuh Halimah selama 6 th. Pada usia 4 th Muhammad didekati oleh malaikat Jibril dan menelentangkannya lalu membelah dada dan mengeluarkan hati serta segumpal darah dari dada nabi Muhammad SAW lalu Jibril mencucinya kemudian menata kembali ke tempatnya dan Muhammad tetap dalam keadaan bugar.

Dengan adanya peristiwa pembelahan dada itu, Halimah khawatir dan mengembalikan Muhammad ke ibundanya. Pada usia 6 th nabi diajak Ibunya untuk berziarah ke makam ayahnya di Yatsrib dengan perlalanan 500 km. Dalam perjalanan pulang ke Makkah Aminah sakit dan akhirnya meninggal di Abwa yang terletak antara Makkah dan Madinah.

Nabi Muhammad lantas ditemani Ummu Aiman ke Makkah dan diantarkan ke tempat kakeknya yaitu Abdul Munthalib. Sejak itu Nabi menjadi yatim piyatu tidak punya ayah dan ibu. Abdul Munthalib sangat menyayangi cucunya ini (Muhammad) dan pada usia 8 th 2 bl 10 hari Abdul Munthalib wafat. Kemudian Nabi diasuh oleh pamannya yang bernama Abu Thalib.

Abu Thalib mengasuh menjaga nabi sampai umur lebih dari 40 th. Pada usia 12 th nabi diajak Abu Thalib berdagang ke Syam. Di tengah perjalanan bertemu dengan pendeta Bahira. Untuk keselamatan nabi Bahira meminta abu Thalib kembali ke Makkah.

Ketika Nabi berusia 15 th meletus perang Fijar antara kabilah Quraisy bersama Kinanah dengan Qais Ailan. Nabi ikut bergabung dalam perang ini dengan mengumpulkan anak-anak panah buat paman-paman beliau untuk dilemparkan kembali ke musuh.

Pada masa remajanya Nabi Muhammad biasa menggembala Kambing dan pada usia 25 th menjalankan barang dagangan milik Khadijah ke Syam. Nabi Muhammad SAW dipercaya untuk berdagang dan ditemani oleh Maisyarah. Dalam berdagang nabi SAW jujur dan amanah serta keuntungannya melimpah ruah.

Peristiwa tentang cara dagangnya nabi SAW itu diceritakan Maisyarah ke Khadijah. Lantas Khadijah tertarik dan mengutus Nufaisah Binti Mun-ya untuk menemui Nabi agar mau menikah dengan Khadijah. Setelah itu Nabi memusyawarahkan kepada pamannya dan disetujuinya akhirnya Khadijah menikah dengan Nabi Muhammad SAW dengan mas kawin 20 ekor Onta Muda.

Usia Khadijah waktu itu 40 th dan Nabi Muhammad SAW 25 th.

Dalam perkawinannya Nabi dianugerahi 6 putra-putri yaitu Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kulsum dan Fatimah. Semua anak laki-laki nabi wafat waktu masih kecil dan anak perempuannya yang masih hidup sampai nabi wafat adalah Fatimah.

Masa Kerasulan Nabi Muhammad SAW

Pada usia 35 th lima tahun sebelum kenabian ada suatu peristiwa yaitu Makkah dilanda banjir besar hingga meluap ke baitul Haram yang dapat meruntuhkan Kakbah. Dengan peristiwa itu orang-orang Quraisy sepakat untuk memperbaiki Kakbah dan yang menjadi arsitek adalah orang Romawi yang bernama Baqum.

Ketika pembangunan sudah sampai di bagian Hajar Aswad mereka saling berselisih tentang siapa yang meletakkan hajar Aswad ditempat semula dan perselisihan ini sampai 5 hari tanpa ada keputusan dan bahkan hampir terjadi peretumpahan darah. Akhirnya Abu Umayah menawarkan jalan keluar siapa yang pertama kali masuk lewat pintu Masjid itulah orang yang memimpin peletakan Hajar Aswad. Semua pada sepakat dengan cara ini. Allah SWT menghendaki ternyata yang pertama kali masuk pintu masjid adalah Rasulullah SAW dan yang berhak adalah Rasulullah.

Orang-orang Quraisy berkumpul untuk meletakkan Hajar Aswad . Rasulullah meminta sehelai selendang dan pemuka-pemuka kabilah supaya memegang ujung-ujung selendang lalu mengangkatnya bersama-sama. Setelah mendekati tempatnya Nabi mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya ke tempat semula akhirnya legalah semua. Mereka pada berbisik dan menjuluki “Al-Amin” yang artinya dapat dipercaya.

Nabi Muhammad SAW mempunyai kelebihan dibanding dengan manusia biasa, beliau sebagai orang yang unggul, pandai, terpelihara dari hal-hal yang buruk, perkataannya lembut, akhlaknya utama, sifatnya mulia, jujur terjaga jiwanya, terpuji kebaikannya, paling baik amalnya, tepat janji, paling bisa dipercaya sehingga mendapat julukan Al-Amin dan beliau juga membawa bebannya sendiri, memberi kepada orang miskin, menjamu tamu dan menolong siapapun yang hendak menegakkan kebenaran.

Pada saat Nabi Muhammad SAW hampir berusia 40 th kesukaannya mengasingkan diri dengan berbekal Roti dan pergi ke Gua Hira di Jabal Nur. Rasulullah di Gua Hira beribadah dan memikirkan keagungan alam. Pada usia genap 40 th Nabi dianggkat menjadi Rasul. Beliau menerima wahyu yang pertama di gua Hira dengan perantaraan Malaikat jibril yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5.

Ketika Nabi berada di gua Hira datang malaikat Jibril dan memeluk Nabi sambil berkata “Bacalah”. Jawab Nabi “Aku tidak dapat membaca” Lantas Malaikat memegangi dan merangkul Nabi hingga sesak kemudian melepaskannya dan berkata lagi “Bacalah”. Jawab Nabi”Aku tidak bisa membaca”. Lantas Malaikat memegangi dan merangkulnya lagi sampai ketiga kalinya sampai Nabi merasa sesak kemudian melepasknnya. Lalu Nabi bersedia mengikutinya (Surat Al-Alaq ayat 1-5). QS 96 : 1-5)

Rasulullah mengulang bacaan ini dengan hati yang bergetar lalu pulang dan menemui Khadijah (isterinya) untuk minta diselimutinya. Beliau diselimuti hingga tidak lagi menggigil tapi khawatir akan keadaan dirinya.

Khadijah menemui Waraqah bin Naufal dan menceritakan kejadian yang dialami oleh Nabi. Waraqah menanggapi “Maha suci, Maha suci, Dia benar-benar nabi umat ini, katakanlah kepadanya, agar dia berteguh hati.

4. Rasulullah Berdakwah

Rasulullah SAW di kala mengasingkan diri di Gua Hira dengan perasaan cemas dan khawatir tiba-tiba terdengan suara dari langit, beliau menengadah tampak malaikat jibril. Beliau menggigil, ketakutan dan pulang minta kepada isterinya untuk menyelimutinya. Dalam keadaan berselimut itu datang Jibril menyampaikan wahyu yang ke dua yaitu surat Al Muddatsir (QS 74 ayat 1-7).

Dengan turunnya wahyu ini Rasulullah SAW mendapat tugas untuk menyiarkan agama Islam dan mengajak umat manusia menyembah Allah SWT.

1). Menyiarkan Agama Islam Secara Sembunyi-Sembunyi

Setelah Rasulullah SAW menerima wahyu kedua mulailah beliau dakwah secara sembunyi-sembunyi dengan mengajak keluarganya dan sahabat-sahabat beliau seorang demi seorang masuk Islam.

Orang-orang yang pertama-tama masuk Islam adalah:

a). Siti Khadijah (Istri Nabi SAW)

b). Ali Bin Abi Thalib (Paman Nabi SAW)

c). Zaid Bin Haritsah (Anak angkat Nabi SAW)

d). Abu Bakar Ash-Shidiq (Sahabat Dekat Nabi SAW)

Orang-orang yang masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Ash-Shidiq yaitu:

a). Utsman Bin Affan

b). Zubair Bin Awwam

c). Saad Bin Abi Waqqash

d). Abdurahman Bin Auf

e). Thalhah Bin “Ubaidillah

f). Abu Ubaidillah Bin Jarrah

g). Arqam Bin Abil Arqam

h). Fatimah Binti Khathab

Mereka itu diberi gelar “As-Saabiqunal Awwaluun” Artinya orang-orang yang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam dan mendapat pelajaran tentang Islam langsung dari Rasulullah SAW di rumah Arqam Bin Abil Arqam.

2). Menyiarkan Agama Islam Secara Terang-Terangan

Tiga tahun lamanya Rasulullah SAW dakwah secara sembunyi sembunyi dari satu rumah ke rumah lainnya. Kemudian turun surat Al Hijr: 94 (QS 15 ayat 94).

Artinya”Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik (QS Al Hijr : 15).

Dengan turunnya ayat ini Rasulullah SAW menyiarkan dakwah secara terang-terangan dan meninggalkan cara sembunyi-sembunyi. Agama Islam menjadi perhatian dan pembicaraan yang ramai dikalangan masyarakat Makkah. Islam semakin meluas dan pengikutnya semakin bertambah.

Bagaimana tanggapan orang-orang Quraisy?

Orang-orang quraisy marah dan melarang penyiaran islam bahkan nyawa Rasul terancam. Nabi beserta sahabatnya semakin kuat dan tangguh tantangan dan hambatan dihadapi dengan tabah serta sabar walaupun ejekan, cacian, olok-olokan dan tertawaan, menjelek-jelekkan, melawan al-Qur’an dan memberikan tawaran bergantian dalam penyembahan.

Dakwah secara terangan ini walaupun banyak tantangan banyak yang masuk Agama Islam dan untuk penyiaran Islam Nabi SAW ke Habasyah (Etiopia),Thaif, dan Yatsrib (Madinah). Sehingga Islam meluas dan banyak pengikutnya.

Pada masa kerasulan Nabi Muhammad SAW th ke 10 pada saat “Amul Khuzni”artinya tahun duka cita yaitu Abu Thalib (pamannya wafat) dan siti Khadijah (istri nabi juga wafat) serta umat Islam pada sengsara. Ditengah kesedihan ini Nabi Muhammad dijemput oleh Malaikat Jibril untuk Isra’ Mi’raj yaitu sebuah perjalanan dari masjidil Aqsha ke Masjidil Haram dan dari Masjidil Haram menuju ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT untuk menerima perintah shalat lima waktu.

6. Rasulullah SAW sebagai Uswatun Hasanah

Uswatun Hasanah artinya teladan yang baik. Panutan dan teladan umat Islam adalah Nabi Muhammad SAW. seorang laki-laki pilihan Allah SWT yang diutus untuk menyampaikan ajaran yang benar yaitu Agama Islam. Oleh sebab itu, kita sebagai muslim harus meniru dan mencontoh kepribadian beliau. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS Al Ahzab ayat 21 yang berbunyi:

Artinya”Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SAW suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap rahmat Allah SWT dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS Al Ahzab:21).

Untuk dapat meneladani Rasulullah SAW harus banyak belajar dari Al-Qur’an dan Al Hadits. Sebagai salah satu contoh saja yaitu tentang kejujuran dan amanah atau dapat dipercayanya nabi Muhammad SAW.

7. Sifat Rasulullah SAW

Rasulullah SAW mempunyai sifat yang baik yaitu:

1). Siddiq

Siddiq artinya jujur dan sangat tidak mungkin Rasulullah bersifat bohong

(kidzib)

Rasulullah sangat jujur baik dalam pekerjaan maupun perkataannya. Apa yang

dikatakan dan disampaikan serta yang diperbuat adalah benar dan tidak bohong.

Karena akhlak Rasulullah adalah cerminan dari perintah Allah SWT.

2). Amanah

Amanah artinya dapat dipercaya.

Sangat tidak mungkin Rasulullah bersifat Khianat atau tidak dapat dipercaya.

Rasulullah tidak berbuat yang melanggar aturan Allah SWT. Rasulullah taat

kepada Allah SWT. Dan dalam membawakan risalah sesuai dengan petunjuk

Allah SWT tidak mengadakan penghianatan terhadap Allah SWT maupun

kepada umatnya.

3). Tabligh

Tabligh artinya menyampaikan.

Rasulullah sangat tidak mungkin untuk menyembunyikan (kitman).

Setiap wahyu dari Allah disampaikan kepada umatnya tidak ada yang ditutup-

tutupi atau disembunyikan walaupun yang disampaikan itu pahit dan bertentangan dengan tradisi orang kafir.

Rasulullah menyampaikan risalah secara sempurna sesuai dengan perintah Allah SWT.

4). Fathonah

Fathonah artinya cerdas

Sangat tidak mungkin Rasul bersifat baladah atau bodoh.

Para Rasul semuanya cerdas sehingga dapat menyampaikan wahyu yang telah

diterima dari Allah SWT. Rasul adalah manusia pilihan Allah SWT maka sangat tidak mungkin Rasul itu bodoh. Apabila bodoh bagaimana bisa menyampaikan wahyu Allah.

8. Haji Wada’ Rasulullah SAW

Pada tahun 10 H, nabi Muhammad SAW melaksanakan haji yang terakhir yautu haji wada’. Sekitar 100 ribu jamaah yang turut serta dalam ibadah haji bersama beliau. Pada saat wukuf di arafah Nabi SAW menyampaikan khutbahnya dihadapan umatnya yaitu yang berisi pelarangan melaksanakan penumpahan darah kecuali dengan cara yang benar, melarang mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar, melarang makan makanan yang riba dan menganiaya, hamba sahaya harus diperlakukan dengan baik, dan umatnya supaya berpegang teguh dengan Al Qur’an dan sunah Nabi SAW.

Dalam surat Al Maidah ayat 3 telah diungkapkan bahwa:

Artinya: “ Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan sungguh telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (Q.S. Al Maidah (5) : 3).

Ayat ini menjelaskan bahwa dakwah nabi Muhammad SAW telah sempurna. Nabi Muhammad SAW dakwah selama 23 tahun. Pada suatu hari beliau merasa kurang enak badan, badan beliau semakin tambah melemah, beliau menunjuk Abu Bakar sebagai imam pengganti beliau dalam shalat. Pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 Hijriyah beliu wafat dalam usia 63 tahun.

B. Nabi Muhammad SAW Rahmatan Lil ‘Alamin

Nabi Muhammad SAW adalah nabi akhiruzzaman yaitu nabi yang terakhir di dunia ini. Maka setelah nabi Muhammad Saw tidak ada nabi lagi di dunia ini. Allah SWT mengutus nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil ‘Alamin yaitu untuk semua manusia dan bangsa. Nabi Muhammad Saw diutus untuk memberikan bimbingan kepada manusia agar menjalani hidup yang benar sehingga dapat memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akherat.

Misi Nabi Muhammad SAW

Misi yang dibawa nabi Muhammad SAW adalah cerminan atau panutan bagi seluruh umat manusia yaitu sebagai berikut:

a. Menyiarkan agama Islam

Islam disiarkan atau didakwahkan Rasulullah SAW secara sempurna terhadap umat manusia yaitu selama 23 tahun.

b. Menyampaikan wahyu Allah SWT

Wahyu Allah SWT yaitu berupa Al Qur’an. Al Qur’an ini di dakwahkan kepada umat manusia dan bangsa sebagai pedoman hidup.

c. Menyampaikan kabar gembira dan peringatan kepada umat manusia

d. Menyempurnakan akhlak yaitu akhlak Qurani

Misi nabi Muhammad SAW tidak hanya dikalangan kaum tertentu saja akan tetapi Rasulullah SAW diutus untuk seluruh kaum dan bangsa dan ajarannya berlaku untuk seluruh umat manusia sepanjang masa. Dari berbagai sumber

SPONSOR DARI SUZUKI
sponsor
sponsor
KLINIK KESEHATAN AN-NUR RADIO MUSLIM
AN-NUR HERBAL OBAT TRADISIONAL
Obat Darah Tinggi Tradisional
Belakangan ini, hipertensi atau tekanan darah tinggi, seolah menjadi bagian kehidupan masyarakat. Hipertensi dimaknai sebagai suatu kondisi medis dimana terjadi peningkatan tekanan darah dalam jangka waktu yang lama atau kronis. Angkanya melebihi 140/90 mmHg ketika sedang istirahat.

Kondisi ini patut diwaspadai karena hipertensi merupakan salah satu faktor resiko serangan jantung, stroke, gagal jantung kronis, dan aneurisma arterial. Orang yang mengalami darah tinggi harus cepat dilakukan pengobatan, mengonsumsi obat darah tinggi tradisional dapat menjadi suatu alternatif.

Obat Darah Tinggi Tradisional - Obat yang Aman dan Alami
Siapapun pasti tidak ingin disinggahi oleh penyakit apapun, terutama peyakit darah tinggi. Namun pada kenyataannya, banyak sekali orang yang mengidap penyakit darah tinggi ini. Penyakit ini ditandai dengan naiknya tekanan darah yang di atas batas normal. Apabila tidak segera ditangani, maka penyakit darah tinggi ini dapat berpotensi menyebabakan penyakit yang membahayakan nyawa kita.

Sudah waktunya bagi Anda untuk menyisihkan waktu sejenak, terutama bagi Anda yang memiliki hipertensi untuk mencari pengobatan terbaik. Siapa sangka kalau sebenarnya obat darah tinggi tradisional ada di sekitar kita. Dengan begitu, kita tidak usah mengeluarkan biaya yang banyak dengan pergi ke dokter untuk mengobati penyakit ini. Dengan memilih obat yang alami dan bisa kita temukan di sekitar kita ini, kita dapat menggunakan obat yang aman dan tetap manjur, tak kalah dengan obat-obatan dari dokter.

Ragam Obat Darah Tinggi Tradisional
Darah tinggi tidak selalu menampakkan ciri-ciri fisik tertentu atau gejala yang jelas. Kalau sudah dialami seseorang dalam tempo yang lama atau bertahun-tahun, biasanya darah tinggi memunculkan gejala, seperti kelelahan, mual, sakit kepala, sesak napas, tidak tenang/gelisah, mual yang disertai muntah-muntah, serta pandangan mata mengabur. Terjadinya pengaburan mata ini karena terjadi kerusakan pada mata, ginjal, otak, dan jantung.

Kalau kondisi penderita sudah akut, tidak jarang hingga mengalami penurunan kesadaran dan berujung koma. Kalau tidak ingin menjadi fatal, tentu satu-satunya jalan adalah darah tinggi itu harus mendapat perhatian. Salah satunya yaitu dengan menggunakan cara alternatif untuk obat darah tinggi tradisional. Berikut ini akan dikupas beberapa obat darah tinggi tradisional, sehingga bisa menjadi referensi bagi Anda.

1. Rosella
Berdasarkan sejumlah penelitian, rosella memiliki bermacam-macam khasiat untuk kesehatan. Pada saat sekarang, kita banyak menemukan rosella ini dalam bentuk yang praktis seperti dalam bentuk serbuk yang siap seduh. Sementara itu, khasiat yang dimiliki rosella, yaitu sebagai berikut:
  • Melancarkan peredaran darah, BAB, dan kencing
  • Mengatasi batuk, ambeien, panas dalam
  • Menurunkan asam urat
  • Memaksimal kesehatan mata
  • Bisa sebagai langkah preventif pada kanker
  • Menurunkan kadar gula penderita diabetes
  • Meningkatkan kesehatan jantung
  • Menurunkan tekanan darah dan lain-lain
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rosella sangat bermanfaat sebagai obat darah tinggi tradisional. Khasiat rosella sebagai penurun tekanan darah, tentu ini berita menggembirakan bagi penderita darah tinggi. Manfaat bunga rosella, yaitu bisa meningkatkan produksi urine, membuka pembuluh darah sehingga lebih melebar, dan menurunkan kekentalan darah sehingga sangat berguna sebagai obat tradisional bagi penderita darah tinggi.

Pada tahun 2004, Phytomedicine mempublikasikan sebuah penelitian pada pasien yang setiap hari disuruh meminum 10 gram bunga rosella yang sudah kering dan diminum selayaknya teh. Ternyata hasilnya amat mencengangkan karena rosella memang ternyata dapat berfungsi dengan baik sebagai obat tradisional, baik jenis yang ringan atau sedang. Rosella tak kalah dengan manjur dengan kegunaan Captopril, yakni obat yang sudah biasa dipergunakan untuk mengatasi gagal ginjal maupun hipertensi.

Cara meminum rosella yang digunakan sebagai obat darah tinggi tradisional, yaitu sebanyak 3-5 bunga ditaruh dalam gelas. Kemudian, tuangi air panas dan diamkan kurang lebih 5–10 menit. Beri gula batu/putih secukupnya jika suka. Minum dalam keadaan hangat. Cita rasanya yang menyegarkan dan aromanya yang khas akan terasa nikmat kala diminum.

2. Bawang Putih
Tanaman bawang putih sudah lama dibudidayakan masyarakat Asia. Di China, yang dikenal sebagai salah satu penghasil utama bawang putih, tanaman ini disebut dengan nama ‘suan’. Masyarakat China tidak hanya menggunakan bawang putih sebagai bumbu masakan, namun juga untuk dicampur dengan minuman teh. Dipercayai bawang putih sangat manjur sebagai antibiotik alami, penurun panas, dan obat darah tinggi tradisional.

Berbeda halnya dengan masyakat Jepang yang lebih suka mengomsumsi bawang putih untuk dijadikan jus. Minuman jus bawang putih di Jepang, gampang ditemui di berbagai jalan besar dan sudah lama populer untuk obat darah tinggi tradisional dan minuman penjaga kesehatan. Sangat beralasan menggunakan bawang putih sebagai obat darah tinggi tradisional dan minuman kesehatan karena pada dasarnya tanaman ini memang mengandung senyawa kimia yang sangat berguna untuk manusia. Kandungan senyawa kimia itu berupa berikut ini:
  • Saltivine yang berfungsi mempercepat pertumbuhan sel, jaringan serta merangsang susunan sel syaraf.
  • Minyak atsiri, berguna sebagai anti bakteri dan antiseptik.
  • Allicin dan aliin, amat bermanfaat sebagai anti-kolesterol untuk mencegah penyakit jantung koroner.
  • Kalsium, bersifat menenangkan sehingga sesuai sebagai pencegah hipertensi.
Sejumlah dokter di Austria merekomendasikan bawang putih untuk obat darah tinggi tradisional, sebagai pelengkap obat medis. Rekomendasi ini dilakukan karena bawang putih mempunyai khasiat yang efektif untuk mengatasi tekanan darah tinggi dan berbagai penyakit lainnya. Tak hanya mengeluarkan rekomendasi, para dokter tersebut juga telah melakukan percobaan terhadap tidak kurang 50 pasien agar mengonsumsi bawang putih sebagai obat darah tinggi tradisional, selain obat medis.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa pasien yang mendapatkan empat kapsul ekstrak bawang putih per harinya, mempunyai tekanan darah yang lebih rendah. Tetapi para dokter juga mengingatkan bahwa penggunaan bawang putih sebagai obat darah tinggi tradisional serta pelengkap obat medis, sebaiknya dikonsultasikan dahulu kepada dokter. Alasannya yaitu karena bawang putih juga dapat mengencerkan darah dan menimbulkan interaksi terhadap beberapa obat medis.

3. Mentimun
Mentimun dikenal dengan nama ilmiah Cucumis sativus. Pohon mentimun tumbuh merambat, berdaun tunggal, dan mempunyai bunga kuning cerah. Masyarakat membudidayakan mentimun dengan tujuan buahnya digunakan sebagai sayuran lalapan, minuman penyegar atau acar.

Bukan cuma sebagai bahan makanan, mentimun juga lazim digunakan sebagai bahan kecantikan. Irisan buah mentimun bisa dipakai untuk penutup mata ketika seseorang menggunakan masker. Buah mentimun juga sangat bagus untuk menghaluskan dan menyegarkan kulit. Buah mentimun mengandung 2,2 % karbohidrat, 0,65% protein, dan 0,1% lemak.

Kandungan lain yang tidak kalah penting adalah fosfor, kalsium, zat besi, vitamin A, vitamin B1, magnesium, vitamin C, dan vitamin B2. Mentimun juga dikenal dengan kandungan air yang tinggi serta berbagai zat porganik yang sangat berkhasiat untuk obat darah tinggi tradisional. Untuk mengatasi tekanan darah tinggi, ambillah dua buah mentimun, lalu dicuci hingga bersih. Setelah itu, mentimun diparut. Kemudian, parutan timun diperas dan kemudian disaring. Minumlah air saringan mentimun tersebut sebanyak 2 kali sehari.

4. Daun Murbei
Tanaman murbei tergolong dalam klasifikasi famili Moraceae dengan nama Latin Morus indica L. Murbei berasal dari China, tetapi dapat beradaptasi dengan baik di tanah air. Flora ini mampu tumbuh secara maksimal pada ketinggian lebih dari 100 meter dpl serta mendapat paparan cahaya matahari yang cukup.

Di beberapa daerah, murbei mempunyai beberapa nama yang berbeda. Misalnya, arbei, kitau atau kerto. Ciri yang gampang dikenali dari tanaman ini adalah daunnya tunggal dan letakkan berselang-seling, buahnya jika masak akan berwarna ungu kehitaman, rasanya asam manis, berair, dan tingginya bisa mencapai 9-10 meter.

Tak banyak masyarakat yang menyadari bahwa daun murbei sangat bermanfaat sebagai obat tradional darah tinggi. Daun murbei disebut-sebut ampuh untuk obat darah tinggi tradisional karena mempunyai kandungan polifenol, flavonoida, dan alkaloida, sehingga amat bermanfaat untuk mengobati demam, flu, malaria, batuk, diabetes melitus, rematik, anemia, memperbanyak keluarnya ASI, dan darah tinggi. Khusus penggunaan daun murbei sebagai obat darah tinggi tradisional, bisa dilakukan cara sebagai berikut:
  1. Daun murbei sekitar 15 gr dicuci bersih
  2. Setelah bersih, kemudian daun direbus dengan air sebanyak tiga gelas, selama 20 menit
  3. Dinginkan air rebusan, lalu disaring hingga menjadi dua gelas
  4. Minum air rebusan pada pagi dan sore hari

5. Seledri
Sudah sejak berabad-abad silam, seledri digunakan sebagai bahan pengobatan. Tepatnya, seledri sudah digunakan pada jaman Romawi, Yunani, dan Mesir. Sedang di Indonesia, pada keseharian, masyarakat sering menggunakan daun seledri sebagai bahan campuran masakan karena mempunyai aroma khas yang menyegarkan.

Selain daun, akar seledri juga mempunyai fungsi untuk memacu enzim pencernaan. Biji dan buah mentimun manjur sebagai anti rematik, menurunkan asam urat, meredakan kejang, flu, masalah percernaan, hati, limpa, dan obat darah tinggi tradisional.

Selain bermanfaat sebagai obat darah tinggi tradisional, seledri pun dikenal memiliki kandungan natrium yang berguna sebagai pelarut untuk melepaskan deposit kalsium yang menyangkut di sendi dan ginjal. Kandungan lain dalam seledri, yaitu magnesium, kalsium, belerang, besi, fosfor, vitamin A, vitamin C dan B1, serta psoralen, yakni zat kimia yang bisa menghancurkan radikal bebas, yang merupakan penyebab kanker.

Masyarakat Indonesia juga telah lama mengetahui seledri sebagai obat darah tinggi tradisional. Cara menggunakannya, yaitu daun seledri diiris-iris, lalu ditumbuk sampai halus dan dicampur dengan air dan disaring. Air saringan tersebut lalu diminum.
LAGU UROU PENGANTEN INI HAMPIR SAMA DENGAN KISAH CINTA M.NUR DGN SURYATI BLG R
RADIO AN-NUUR ADALAH STASIUN PENGISI SENGGANG TGK M.NUR DI SAAT NGANGGUR DI TAHUN 2012 INI DI AN-NUUR RADIO TGK M.NUR SBG PENAWAR DUKA LARA AKIBAT NGANGGUUR DI PUTUSKAN HUBUNGAN KERJA DI PT. ARUN LNG BLANG LANCANG LHOKSEUMAWE ACEH TGK M.NUR JUGA PERNAH KERJA DI PT.PLN DI SUB KONTRAKTOR ANDY JUSFAR
KAMI HANYA ADA DI ALAM MAYA KLO TANPA ADA DUKUNGAN MITRA TETAP KAMI DLM MAYA
17 Habaib Paling Berpengaruh di Indonesia
17 Habaib Paling Berpengaruh di Indonesia Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani - Makkah
Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di Makkah pada tahun 1365 H. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah beliau Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki.

Beliau juga belajar kepada ulama-ulama Makkah terkemuka lainnya, seperti Sayyid Amin Kutbi, Hassan Masshat, Muhammad Nur Sayf, Sa’id Yamani, dan lain-lain. Sayyid Muhammad memperoleh gelar Ph.D-nya dalam Studi Hadits dengan penghargaan tertinggi dari Jami’ al-Azhar di Mesir, pada saat baru berusia dua puluh lima tahun. Beliau kemudian melakukan perjalanan dalam rangka mengejar studi Hadits ke Afrika Utara, Timur Tengah, Turki, Yaman, dan juga anak benua Indo-Pakistan, dan memperoleh sertifikasi mengajar (ijazah) dan sanad dari Imam Habib Ahmad Mashhur al Haddad, Syaikh Hasanayn Makhluf, Ghumari bersaudara dari Marokko, Syekh Dya’uddin Qadiri di Madinah, Maulana Zakariyya Kandihlawi, dan banyak lainnya. Sayyid Muhammmad merupakan pendidik Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seorang
7
Si Pitung : Jagoan Betawi Yang Sakti Mandraguna






[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]] Betawi Oktober 1893. Rakyat Betawi di kampung-kampung tengah berkabung. Dari mulut ke mulut mereka mendengar si Pitung atau Bang Pitung meninggal dunia, setelah tertembak dalam pertarungan tidak seimbang dengan kompeni. Bagi warga Betawi, kematian si Pitung merupakan duka mendalam. Karena ia membela rakyat kecil yang mengalami penindasan pada masa penjajahan Belanda. Sebaliknya, bagi kompeni sebutan untuk pemerintah kolonial Belanda pada masa itu, dia dilukiskan sebagai penjahat, pengacau, perampok, dan entah apa lagi.

Jagoan kelahiran Rawa Belong, Jakarta Barat, ini telah membuat repot pemerintah kolonial di Batavia, termasuk gubernur jenderal. Karena Bang Pitung merupakan potensi ancaman keamanan dan ketertiban hingga berbagai macam strategi dilakukan pemerintah Hindia Belanda untuk menangkapnya hidup atau mati. Pokoknya Pitung ditetapkan sebagai
7
 
Kitab Kuning Makna ala Pesantren REP | 09 February 2012 | 05:39 Dibaca: 736   Komentar: 6   Nihil

Kitab kuning menururut paman Wikipedia, dalam agama Islam, merujuk kepada sebuah kitab tradisional yang berisi pelajaran-pelajaran agama islam (diraasah al-islamiyyah), mulai dari fiqh, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa arab (`ilmu nahwu dan `ilmu sharf), hadits, tafsir, `ulumul qur’aan, hingga pada ilmu sosial dan kemasyarakatan (mu`amalah).

Disebut juga dengan kitab gundul karena memang tidak memiliki harakat (fathah, kasrah, dhammah, sukun), tidak seperti kitab al-Quran pada umumnya. Oleh sebab itu, untuk bisa membaca kitab kuning berikut arti harfiah kalimat per kalimat agar bisa dipahami secara menyeluruh, dibutuhkan waktu lama.

Sampai sekarang belum ada kajian sejarah mengenai asal-muasal kitab kuning. Namun banyak naskah para ulama pasca Khulafaa al-Rasyidin berkuasa ditulis dengan menggunakan Bahasa Arab tanpa harakat.

Clifford Geertz seorang ahli antropologi dari Amerika Serikat dalam bukunya yang terkenal berjudul “Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa” (judul aslinya The Religion of Java) memuat sekelumit ceria tentang kitab kuning. Ada pula buku karangan peneliti Belanda Martin van Bruinessen yang berjudul “Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat”, yang membahas sejarah kitab kuning dan pendidikan Islam tradisional di Indonesia.

Beberapa kitab kuning yang terkenal seperti Tafsir Jalalain, Tafsir Munir, Riyadussholihin, Bulughul Marom, Fathul Mu’in, Fathul Qorib, dan masih banyak yang lainnya. Kitab-kitab kuning tersebut sekarang masih banyak menjadi kurikulum wajib di Pondok pesantren di Indonesia.Salah satu Pondok pesantren yang masih setia mengaji klasik adalah Pondok pesantren Hidayatut Thullab yang berada di Petuk Semen Kediri.

Sejak tahun 1993, Pondok ini sudah mempublikasikan 137 judul kitab kuning dilengkapi dengan makna berbahasa Jawa. Pemberian makna sempit pada setiap kata dalam 137 judul kitab kuning itu telah dicetak secara massal oleh Ponpes Hidayatut Thullab dan didistribusikan seantero Nusantara bahkan Malaysia.

Kemudian yang sekarang menjadi tren adalah kitab kuning dengan dilengkapi makna bahasa Jawa. Kalangan santri salaf menyebutnya dengan “Kitab bima`na Petuk” lantaran kitab kuning bermakna ini dipopulerkan oleh Pondok Pesantren Hidayatut Thullab di Dusun Petuk, Desa Puhrubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Sehingga ini mampu menyita perhatian publik salaf karena gagasannya mencetak kitab kuning dengan dilengkapi makna Bahasa Jawa itu telah memberikan kemudahan bagi santri salaf.

Kitab kuning ini sudah banyak digunakan sebagai kurikulum santri Madrasah Diniyah, Majlis Ta’lim dan Pondok Pesantren di Indonesia.Untuk Katalog Kitab Kuning makna ala Pesantren Petuk, selengkapnya kunjungi blog ini http://kitabmaknapetuk.wordpress.com/
pacara Perkawinan Adat Aceh

Tahapan Melamar (Ba Ranub)

Untuk mencarikan jodoh bagi anak lelaki yang sudah dianggap dewasa maka pihak keluarga akan mengirim seorang yang bijak dalam berbicara (disebut theulangke) untuk mengurusi perjodohan ini. Jika theulangke telah mendapatkan gadis yang dimaksud maka terlabih dahulu dia akan meninjau status sang gadis. Jika belum ada yang punya, maka dia akan menyampaikan maksud melamar gadis itu.
Pada hari yang telah di sepakati datanglah rombongan orang2 yang dituakan dari pihak pria ke rumah orang tua gadis dengan membawa sirih sebagai penguat ikatan berikut isinya seperti gambe, pineung reuk, gapu, cengkih, pisang raja, kain atau baju serta penganan khas Aceh. Setelah acara lamaran iini selesai, pihak pria akan mohon pamit untuk pulang dan keluarga pihak wanita meminta waktu untuk bermusyawarah dengan anak gadisnya mengenai diterima-tidaknya lamaran tersebut.

Tahapan Pertunangan (Jakba Tanda)

Bila lamaran diterima, keluarga pihak pria akan datang kembali untuk melakukan peukeong haba yaitu membicarakan kapan hari perkawinan akan dilangsungkan, termasuk menetapkan berapa besar uang mahar (disebut jeunamee) yang diminta dan beberapa banyak tamu yang akan diundang. Biasanya pada acara ini sekaligus diadakan upacara pertunangan (disebut jakba tanda)

acara ini pihak pria akan mengantarkan berbagai makanan khas daerah Aceh, buleukat kuneeng dengan tumphou, aneka buah-buahan, seperangkat pakaian wanita dan perhiasan yang disesuaikan dengan kemampuan keluarga pria. Namun bila ikatan ini putus ditengah jalan yang disebabkan oleh pihak pria yang memutuskan maka tanda emas tersebut akan dianggap hilang. Tetapi kalau penyebabnya adalah pihak wanita maka tanda emas tersebut harus dikembalikan sebesar dua kali lipat.

Persiapan Menjelang Perkawinan

Seminggu menjelang akad nikah, masyarakat aceh secara bergotong royong akan mempersiapkan acara pesta perkawinan. Mereka memulainya dengan membuat tenda serta membawa berbagai perlengkapan atau peralatan yang nantinya dipakai pada saat upacara perkawinan. Adapun calon pengantin wanita sebelumnya akan menjalani ritual perawatan tubuh dan wajah serta melakukan tradisi pingitan. Selam masa persiapan ini pula, sang gadis akan dibimbing mengenai cara hidup berumah tangga serta diingatkan agar tekun mengaji.

Selain itu akan dialksanakan tradisi potong gigi (disebut gohgigu) yang bertujuan untuk meratakan gigi dengancara dikikir. Agar gigi sang calon pengantin terlihat kuat akan digunakan tempurung batok kelapa yang dibakar lalu cairan hitam yang keluar dari batok tersebut ditempelkan pada bagian gigi. Setelah itu calon pengantin melanjutkan dengan perawatan luluran dan mandi uap.

Selain tradisi merawat tubuh, calon pengantin wanita akan melakukan upacara kruet andam yaitu mengerit anak rambut atau bulu-bulu halus yang tumbuh agar tampak lebih bersih lalu dilanjutkan dengan pemakaian daun pacar (disebut bohgaca) yang akan menghiasi kedua tangan calon pengantin. Daun pacar ini akan dipakaikan beberapa kali sampai menghasilkan warna merah yang terlihat alami.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan mengadakan pengajian dan khataman AlQuran oleh calon pengantin wanita yang selanjutnya disebut calon dara baro (CBD).Sesudahnya, dengan pakaian khusus, CBD mempersiapkan dirinya untuk melakukan acara siraman (disebut seumano pucok) dan didudukan pad asebuah tikaduk meukasap.

Dalam acara ini akan terlihat beberapa orang ibu akan mengelilingi CBD sambil menari-nari dan membawa syair yang bertujuan untuk memberikan nasihat kepada CBD. Pada saat upacara siraman berlangsung, CBD akan langsung disambut lalu dipangku oleh nye’wanya atau saudara perempuan dari pihak orang tuanya. Kemudian satu persatu anggota keluarga yang dituakan akan memberikan air siraman yang telah diberikan beberapa jenis bunga-bungaan tertentu dan ditempatkan pada meundam atau wadah yang telah dilapisi dengan kain warna berbeda-beda yang disesuaikan dengan silsilah keluarga.

Upacara Akad Nikah dan Antar Linto

Pada hari H yang telah ditentukan, akan dilakukan secara antar linto (mengantar pengantin pria). Namun sebelum berangkat kerumah keluarga CBD, calon pengantin pria yang disebut calon linto baro(CLB) menyempatkan diri untuk terlebih dahulu meminta ijin dan memohon doa restu pada orang tuanya. Setelah itu CLB disertai rombongan pergi untuk melaksanakan akad nikah sambil membawa mas kawin yang diminta dan seperangkat alat solat serta bingkisan yang diperuntukan bagi CDB.

Sementara itu sambil menunggu rombongan CLB tiba hingga acara ijab Kabul selesai dilakukan, CDB hanya diperbolehkan menunggu di kamarnya. Selain itu juga hanya orangtua serta kerabat dekat saja yang akan menerima rombongan CLB. Saat akad nikah berlangsung, ibu dari pengantin pria tidak diperkenankan hadir tetapi dengan berubahnya waktu kebiasaan ini dihilangkan sehingga ibu pengantin pria bisa hadir saat ijab kabul. Keberadaan sang ibu juga diharapkan saat menghadiri acara jamuan besan yang akan diadakan oleh pihak keluarga wanita.

Setelah ijab kabul selesai dilaksanakan, keluarga CLB akan menyerahkan jeunamee yaitu mas kawin berupa sekapur sirih, seperangkat kain adat dan paun yakni uang emas kuno seberat 100 gram. Setelah itu dilakukan acara menjamu besan dan seleunbu linto/dara baro yakin acara suap-suapan di antara kedua pengantin. Makna dari acara ini adalah agar keduanya dapat seiring sejalan ketika menjalani biduk rumah tangga.

Upacara Peusijeuk

Yaitu dengan melakukan upacara tepung tawar, memberi dan menerima restu dengan cara memerciki pengantin dengan air yang keluar dari daun seunikeuk, akar naleung sambo, maneekmano, onseukee pulut, ongaca dan lain sebagainya minimal harus ada tiga yang pakai. Acara ini dilakukan oleh beberapa orang yang dituakan(sesepuh) sekurangnya lima orang.

Tetapi saat ini bagi masyarakat Aceh kebanyakan ada anggapan bahwa acara ini tidak perlu dilakukan lagi karena dikhawatirkan dicap meniru kebudayaan Hindu. Tetapi dikalangan ureungchik (orang yang sudah tua dan sepuh) budaya seperti ini merupakan tata cara adat yang mutlak dilaksanakan dalam upacara perkawinan. Namun kesemuanya tentu akan berpulang lagi kepada pihak keluarga selaku pihak penyelenggara, apakah tradisi seperti ini masih perlu dilestarikan atau tidak kepada generasi seterusnya.

66 Tahun lalu ada peristiwa menarik dan menyedihkan terjadi Aceh, mungkin ini tepat untuk kita baca dan pahami disaat kondisi kisruh Pilkada saat ini. Perang Cumbok didasari oleh cara pandang, masyarakat atau yang memilki akses ke Ulama atau Ulama merasa tidak lurus memandang Ule Balang, Ule Blang sangat luas akses, dan mampu serta berkuasa, karena mereka termasuk yang beruntung dikala Belanda berada di Aceh.

Sementara kalangan masyarakat atau segelintir yang mengklaim diri Ulama tinggal didesa dan pasti tidak mendapatkan kesempatan berkuasa. Entah salah ngomong atau lebih meyakinkan kemajuan, menurut sejarah, hanya  Ule Balang dari Pidie yaitu Tengku Daud Cumbok, yang dilukiskan sangat kasar, dan memerintahkan grebek rumah orang PUSA. Dan membuat kemaksiatan lain.

Begitu paparan sejarahnya. Kemudian orang PUSA menyerang markas Daud Cumbok. Rumahnya dibakar harta di rampas oleh barisan yang di kordinir Daud Bereu eh. Dalam sejarah disebutkan Tidak semua Ule Balang seperti Daud Cumbok yang menginginkan Belanda kembali ada di Aceh.

Namun provokasi bawa “Ule Balang pengundang penjajah” Ule Balang Aneuk Haram, dan Halal Darahnya, dan pengkhianat,  menjadi bahan bakar ampuh bagi PUSA  agar masyarakat bangkit dan melawan.

Walaupun ada sejumlah Ule Balang tidak berprilaku seperti Tengku Daud Cumbok Pidie, tapi pejuang yang berlebelkan Islam itu menyemaratakan, Ule Balang . Padahal T. Nyak Arif memiliki tujuan yang baik untuk segera membangun Aceh pasca penjajahan.

Teuku Hamid Azwar, dan Teuku Ahmad Jeunib yang mendukung Republik Begitu juga Ampon Chik Peusangan Matang Gelumpang II Bireuen, dia tidaklah seperti yang dilukiskan terhadap Daud Cumbok Pidie,   Teuku Haji Cik Mohamad Johan Alam Syah, dari Peusangan memakmurkan rakyatnya. Ia mengadopsi teknologi irigasi dan pendidikan, dan akomodatif terhadap ulama, hingga Peusangan cepat maju.

Tapi dibawah provokasi dan ada rada rada tipu-tipu dengan melebelkan diri Ulama masyarakat bangkit dan membunuh Ule Balang,  Istri Ule Balang yang cantik  disikat, begitu juga dengan harta warisan.

Kata kunci disini adalah, bagi PUSA Ule Balang itu, pengundang Penjajah, orang tidak baik, pengkhianat, dan sumpah serapah yang lain. Itulah yang dikembangkan, istilahnya Pusalah yang berhak dan sangat berkompeten, apalagi dalam kontek menegak Islam.

Tengku Daud Beure eh sangat piawai dalam mengobarkan semangat rakyat untuk setuju dengan misinya, padahal belum tentu semua benar yang dianggap oleh PUSA. Tapi berbicara kepentingan dan kebencian serta posisi, semua terjadi, yang salahpun dipaksakan untuk benar.

Dan se-akan akan “Pusa adalah demi Republic, Sementara Ule Balang Mengundang Penjajah“

Dalam berbagai tulisan tentang Perang Cumbok, disana juga terlihat Gerakan PUSA ada kaitan perebutan nama dan kekuasaan dalam menyambut kemerdekaan Republic Indonesia.

Tak heran jika Ule Balang tidak dibantai,  niat itu tak bakal dicapai, pasalnya Ule Balang lebih mengerti dalam pemerintahan dan dalam mengatur pemerintahan, karena sudah berpengalaman diajarkan Belanda.

Daud Bereu eh tidak bakal setuju dengan kondisi ini, Bahkan pasukan bentukan pemerintah Indonesia sebagai tentera resmi di Aceh dibawah pimpinan Teuku Nyak Arif kelompok Ule Balang di Perangi. T.Nyak arif dibuang ke Takengon hingga meninggal.

Seorang tentara T.Nyak Arif yang selamat dari kepungan pasukan PUSA, melarikan diri keluar Aceh, sesampai di kaki gunung Seulawah, dengan isak tangis dan keterpaksaan “Ia bersumpah “Hai Gunong Hai, ku meujanji han akan kuwo u Aceh yang lagenyoe rupa, Aceh yang Ku-eh [Sirik], Peculok [Provokasi] dan Peusuna [menghasut]


Endingnya, Sejak itu citra ulama melambung. Daud Beureueh kian populer sebagai pemimpin revolusi. Soekarno yang tahu besarnya pengaruh Beureueh, membujuknya untuk membentuk pasukan militer di Aceh.

Akhirnya pada 1948, seluruh pasukan yang berafiliasi ke PUSA melebur ke TNI. Sedangkan Daud Beureueh diangkat jadi gubernur militer membawahi Aceh, Langkat, dan Tanah Karo dengan pangkat Mayor Jenderal. Ule Balang terbenam, dan Daud Bereu’eh berkuasa.

 ” Banyak pihak tidak mau membahas persoalan ini, “ Terlalu pahit”

"Saya tidak mau membicarakannya," kata Profesor Teuku Ibrahim Alfian, ahli sejarah dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ayah dan ibu Ibrahim memang selamat dari Perang Cumbok, Aceh, 1946.

Tapi nenek, kakek, pamaaan, juga banyak sepupunya jadi korban massa yang marah pada keluarga uleebalang, bangsawan. "Saya tak tahu di mana kubur mereka sampai kini," kata Ibrahim dengan suara bergetar. Sebagaimana dilansir Majalah TEMPO. -bersambung -Bau Peuculok &  Peusuna Ala Perang Cumbok Dalam Pilkada Aceh [2]
Lagenda Putri Pukes Antara Mitologi dan Fakta Sejarah
Written By Noval Ariandi on Minggu, 17 Juni 2012 | 06:23
Tidak bisa dipungkiri bahwa takengon adalah daerah yang sejuk dan pas untuk mencari ketenangan setelah berastagi. Bagaimana tidak ?!, Takengon, wilayah yang merupakan bagian dari provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) ini memiliki alam Aceh yang lain dari wilayah Aceh lainnya, yaitu : daerah berhawa sejuk sehingga jika kita berkunjung kesana maka yang akan tersirat dibenak kita adalah betapa sejuknya daerah ini. 
Daerah berhawa sejuk ini menyimpan sebuah cerita rakyat yang dikenal dengan “Lagenda Putri Pukes”. Lagenda aceh “Putri Pukes”, menceritakan manusia menjadi batu. Gua putri pukes terletak didaerah takengon tepatnya jika kita mengelilingi danau laut tawar maka akan menemukan sebuah gua yang menghadap Kampung Nosar, Kecamatan Bintang. Jika dari Kampung Mandale, Kecamatan Kebayakan berjarak sekitar 5 KM dan dari Kampung Bintang, Kecamatan Bintang sekitar 22 KM. Gua putri pukes merupakan salah satu objek wisata andalan Aceh di Kabupaten Aceh Tengah, Takengon. 
Cerita rakyat yang dikenal dengan lagenda ini berdiri antara 2 gerbang misteri, yaitu sebuah mitologi belaka atau sebuah sejarah Aceh (fakta Aceh). Anggapan demikian muncul karena pada maret 2009 tim arkeologi dari Medan, Sumatera Utara melakukan penelitian situs sejarah di Takengon, Aceh Tengah menemukan kerangka manusia yang diperkirakan berusia 3.500 tahun di gua putri pukes. Menurut tim arkeologi bahwa komunitas orang-orang purba disitus ini mempunyai kebiasaan mengebumikan mayat dengan menindihkan batu diatasnya untuk menghindari mayat tidak dimakan binatang buas. Tapi, betul tidaknya lagenda ini hingga sekarang belum ada yang bisa memastikan walaupun telah ditemukannya fakta sejarah oleh tim arkeologi dari Medan. 
Sangat disayangkan gua putri pukes tempat lagenda itu diceritakan sudah disemen dan ditambah-tambah sehingga tidak lagi alami. Didalam gua putri pukes terdapat batu yang dipercayai adalah putri pukes yang telah menjadi batu, kemudian sumur besar, kendi yang sudah menjadi batu, tempat duduk  untuk orang masa dahulu dan alat pemotong zaman dahulu.
Menurut anggapan masyarakat sekitar batu putri pukes yang makin membesar disebabkan karena kadang-kadang putri pukes menangis sehingga air mata yang keluar menjadi batu juga kemudian air sumur yang terdapat digua putri pukes setiap 3 bulan kering dan tidak ada airnya, tidak diketahui apa penyebabnya akan tetapi jika sumur tersebut berisi air  maka akan ada orang pintar atau paranormal datang untuk mengambil air tersebut. Disamping itu hal yang menarik lainnya adalah kendi yang telah menjadi batu dimana pernah ada seseorang yang mengambil kendi itu tetapi ia mengembalikannya karena ia dilanda resah setelah mengambilnya dan adanya tempat bertapa yang digunakan oleh orang zaman dahulu untuk bertapa guna mencari ilmu serta alat pemotong peninggalan manusia purba ditemukan dalam gua putri pukes. 
Tempat wisata Aceh yang terletak dialam Aceh nan sejuk, ternyata tidak semua orang atau suku gayo yang mendiami tempat ini mengetahui cerita tentang putri pukes. Sebagian dari orang gayo mengetahui lagenda itu tetapi tidak mengetahui alur cerita putri pukes. 

Berikut merupakan cerita putri pukes yang dikutip dari berbagai sumber dan informasi, yaitu : 
Putri pukes adalah sebuah kisah yang terjadi saat mayoritas orang gayo masih menganut agama hindu. Putri pukes adalah nama seorang gadis kesayangan dan anak satu-satunya sebuah keluarga diKampung Nosar. Suatu ketika, ia dijodohkan dengan seorang pria yang berasal dari Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama kabupaten Aceh Tengah (sekarang Kabupaten Bener Meriah). Pernikahan pun dilaksanakan berdasarkan adat setempat. Mempelai wanita harus tinggal dan menetap ditempat mempelai pria. Dimasyarakat gayo ada beberapa model perkawinan adat gayo, seperti : Angkap, Kuso-Kini dan Juelen. 
1. Perkawinan Angkap 
Perkawinan ini terjadi, jika salah satu keluarga tidak mempunyai keturunan anak laki-laki yang berminat mendapat seorang menantu laki-laki maka keluarga tersebut meminang sang pemuda (umumnya laki-laki berbudi baik dan alim). Inilah yang dinamakn “angkap berperah, juelen berango” (angkap dicari, juelen diminta). Menantu laki-laki, diisyaratkan supaya selamanya tinggal dalam lingkungan keluarga pengantin wanita dan dipandang sebagai pagar pelindung keluarga. Sang menantu mendapat harta warisan dari keluarga istri. Dalam konteks ini dikatakan “anak angkap penyapuni kubur kubah, si muruang iosah umah, siberukah iosah ume” (menantu laki-laki penyapu kubah kuburan, yang ada tempat tinggal beri rumah, yang ada lahan beri sawah).
  
2. Perkawinan Kuso-Kini 
Perkawinan ini termasuk jenis perkawinan adat yang modern, karena meletakkan syarat bahwa kedua mempelai bebas menentukan pilihan, dimana mereka akan tinggal menetap dan tidak membeda-bedakan kedudukan kedua orang tua masing-masing. Perkawinan model ini dipandang paling toleransi dan demokrasi karena mengakui hak menentukan pilihan serta menempatkan derajat laki-laki dan wanita sejajar dalam ukuran hukumadat, hukum positif dan kekuatan syariah. Itu sebabnya model perkawinan ini menjadi pilihan dari kebanyakan orang gayo dibandingkan perkawinan lainnya terutama bagi masyarakat yang menetap di kota-kota atau perantauan. 

3. Perkawinan Juelen 
Perkawinan ini adalah jenis perkawinan yang agak unik dalam masyarakat gayo, sebab mempelai wanita dianggap sudah dibeli dan disyaratkan mesti tinggal selamanya dalam lingkungan keluarga mempelai laki-laki. Kata “Juelen” sendiri secara harfiah mengandung arti sebagai barang jual, artinya dengan sudah terjadinya ijab qabul maka keluarga pengantin wanita secara hukum telah menjual anak perempuannya dan suami berkuasa dan bertanggung jawab penuh terhadap wanita yang sudah dibelinya. Inilah yang disebut “sinte berluwah” (pengantin wanita dilepas). Secara ekstrim digambarkan “juelen bertanas mupinah urang”(pengantin wanita dilepas maka bertukar kampung, marga, suku, dan belah). Hubungan kekeluargaan antara pengantin wanita dengan keluarga asal menjadi renggang, walau tidak terputus sama sekali. Status wanita dalam perkawinan ini seperti budak yang sudah dibeli dan “koro jamu” (kerbau tamu) dalam lingkungan masyarakat suaminya. Tidak ada hak sosial yang melekat dalam dirinya selain mengabdi kepada suami/keluarga, membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Hak mengunjungi orang tua asal tidak lagi bebas karena segalanya sudah bertukar kepada keluarga mempelai laki-laki baik kampung, marga, suku dan belah kecuali dalam hal-hal tertentu, seperti : keluarga meninggal dunia dan berkunjung di hari raya. 
Dalam kisah putri pukes adat perkawinan yang dipakai adalah perkawinan dengan sistem “juelen”.  Hal ini diketahui karena berdasarkan kisah setelah selesai resepsi pernikahan dirumah mempelai wanita, ia diantar menuju tempat tinggal mempelai laki-laki. Pihak mempelai wanita diantar ketempat tinggal mempelai laki-laki didalam bahasa gayo disebut “munenes”. 
Pada acara “munenes”pihak keluarga mempelai wanita dibekali sejumlah peralatan rumah tangga, seperti kuali, kendi, lesung, alu, piring, periuk dan sejumlah perlengkapan rumah tangga lainnya. Adat “munenes” biasanya dilakukan pada acara perkawinan yang dilaksanakan dengan sistem “juelen”, dimana pihak wanita tidak berhak lagi kembali ketempat orang tuanya. 
Pada saat putri pukes akan dilepas oleh orang tuanya ketempat mempelai laki-laki dengan iring-iringan pengantin, ibu putri pukes berpesan kepada putri pukes yang sudah menjadi istri sah mempelai laki-laki (Nak, sebelum kamu melewati daerah pukes, yaitu rawa-rawa yang sekarang menjadi Danau Laut Tawar. Kamu jangan pernah melihat ke belakang, kaqta ibu putri pukes). 
Sang putri pun berjalan sambil menangis dan menghapus air matanya yang keluar terus-menerus. Karena tidak sanggup menahan rasa sedih, ia lupa akan pantangan yang disampaikan oleh ibunya tadi. Secara tak sengaja putri pukes menoleh ke belakang seketika itu petir pun menyambar, awan menjadi gelap kemudian sang putri berubah menjadi batu seperti yang sekarang kita jumpai di dalam gua putri pukes.
Apakah ini sebuah mitologi atau sejarah Aceh (fakta Aceh)?, tetapi warga setempat percaya kalau cerita putri pukes benar adanya. Nah! Penasaran aku pikir tak ada salahnya kalau kita tak hanya sekedar melihat danau laut tawar tapi kta juga harus mengunjungi gua putri pukes yang menarik ini. Disana nantinya kamu-kamu bisa menilai sendiri apakah objek wisata ini mitologi atau benar-benar terjadi!. Ayo kita kunjungi besama-sama gua putri pukes ini ajak om, tante, ayah, ibu, kakek, nenek kamu atau semua orang-orang yang kamu sayangi lainnya. Pokoknya dijamin asyik dan menyenangkan karena plus ada fanorama alam nanindah dan sejak disana.(Sumber)
Share this article :
0 komentar:

Speak up your mind
Kisah Karomah Habib Munzir Al Musawwa
Cerita Karomah Habib Munzir Al Musawwa

Cerita dari jamaah Majelis Rasulullah tentang Karomah Habib Munzir Al Musawwa

Artikel dibawah ini awalnya, dari web pembaca blog saya. Kemudian si pemilik web, mas yogo saptono memberikan sumber aslinya dari milist MajelisRasulullah majelisrasulullah@yahoogroups.com. Artikel dibawah ini merupakan postingan dalam milist tersebut yang dikirim oleh pemudasuci@yahoo.com. Beberapa bagian saya potong untuk mempermudah pembacaan. Selanjutnya tulisan dibawah ini merupakan isi postingan dimilist tersebut.

Ketika ada orang yg iseng bertanya padanya : wahai habib, bukankah Rasul saw juga punya rumah walau sederhana??, beliau tertegun dan menangis, beliau berkata : iya betul, tapikan Rasul saw juga tidak beli tanah, beliau diberi tanah oleh kaum anshar, lalu bersama sama membangun rumah.., saya takut dipertanyakan Allah kalau ada orang muslim yg masih berumahkan koran di pinggir jalan dan di gusur gusur, sedangkan bumi menyaksikan saya tenang tenang dirumah saya..

pernah ada seorang wali besar di Tarim, guru dari Guru Mulia Almusnid alhabib Umar bin Hafidh, namanya Hb Abdulqadir Almasyhur, ketika hb munzir datang menjumpainya, maka habib itu yg sudah tua renta langsung menangis.. dan berkata : WAHAI MUHAMMAD…! (saw), maka Hb Munzir berkata : saya Munzir, nama saya bukan Muhammad.., maka habib itu berkata : ENGKAU MUHAMMAD SAW..!, ENGKAU MUHAMMAD.. SAW!, maka hb Munzir diam… lalu ketika ALhabib Umar bin Hafidh datang maka segera alhabib Abdulqadir almasyhur berkata : wahai umar, inilah Maula Jawa (Tuan Penguasa Pulau Jawa), maka Alhabib Umar bin Hafidh hanya senyam senyum.. (kalo ga percaya boleh tanya pada alumni pertama DM)

lihat kemanapun beliau pergi pasti disambut tangis ummat dan cinta, bahkan sampai ke pedalaman irian, ongkos sendiri, masuk ke daerah yg sudah ratusan tahun belum dijamah para da’i, ratusan orang yg sudah masuk islam ditangannya, banyak orang bermimpi Rasul saw selalu hadir di majelisnya,

bahkan ada orang wanita dari australia yg selalu mimpi Rasul saw, ia sudah bai’at dengan banyak thariqah, dan 10 tahun ia tak lagi bisa melihat Rasul saw entah kenapa, namun ketika ia hadir di Majelis Hb Munzir di masjid almunawar, ia bisa melihat lagi Rasulullah saw..

maka berkata orang itu, sungguh habib yg satu ini adalah syeikh Futuh ku, dia membuka hijabku tanpa ia mengenalku, dia benar benar dicintai oleh Rasul saw, kabar itu disampaikan pada hb munzir, dan beliau hanya menunduk malu..

beliau itu masyhur dalam dakwah syariah, namun mastur (menyembunyikan diri) dalam keluasan haqiqah dan makrifahnya. .

bukan orang yg sembarangan mengobral mimpi dan perjumpaan gaibnya ke khalayak umum

ketika orang ramai minta agar Hb Umar maulakhela didoakan karena sakit, maka beliau tenagn tenang saja, dan berkata : Hb Nofel bin Jindan yg akan wafat, dan Hb Umar Maulakhela masih panjang usianya.. benar saja, keesokan harinya Hb Nofel bin Jindan wafat, dan Hb Umar maulakhela sembuh dan keluar dari opname.., itu beberapa tahun yg lalu..

ketika Hb Anis Alhabsyi solo sakit keras dan dalam keadaan kritis, orang orang mendesak hb munzir untuk menyambangi dan mendoakan Hb Anis, maka beliau berkata pd orang orang dekatnya, hb anis akan sembuh dan keluar dari opname, Insya Allah kira kira masih sebulan lagi usia beliau,..

betul saja, Hb Anis sembuh, dan sebulan kemudian wafat..

ketika gunung papandayan bergolak dan sudah dinaikkan posisinya dari siaga 1 menjadi “awas”, maka Hb Munzir dg santai berangkat kesana, sampai ke ujung kawah, berdoa, dan melemparkan jubahnya ke kawah, kawah itu reda hingga kini dan kejadian itu adalah 7 tahun yg lalu (VCD nya disimpan di markas dan dilarang disebarkan)

demikian pula ketika beliau masuk ke wilayah Beji Depok, yg terkenal dg sihir dan dukun dukun jahatnya., maka selesai acara hb munzir malam itu, keesokan harinya seorang dukun mendatangi panitya, ia berkata : saya ingin jumpa dg tuan guru yg semalam buat maulid disini..!, semua masyarakat kaget, karena dia dukun jahat dan tak pernah shalat dan tak mau dekat dg ulama dan sangat ditakuti, ketika ditanya kenapa??, ia berkata : saya mempunyai 4 Jin khodam, semalam mereka lenyap., lalu subuh tadi saya lihat mereka (Jin jin khodam itu) sudah pakai baju putih dan sorban, dan sudah masuk islam, ketika kutanya kenapa kalian masuk islam, dan jadi begini??, maka jin jin ku berkata : apakah juragan tidak tahu?, semalam ada Kanjeng Rasulullah saw hadir di acara Hb Munzir, kami masuk islam..!

kejadian serupa di Beji Depok seorang dukun yg mempunyai dua ekor macan jadi jadian yg menjaga rumahnya, malam itu Macan jejadiannya hilang, ia mencarinya, ia menemukan kedua macan jadi2an itu sedang duduk bersimpuh didepan pintu masjid mendengarkan ceramah hb munzir..

demikian pula ketika berapa muridnya berangkat ke Kuningan Cirebon, daerah yg terkenal ahli santet dan jago jago sihirnya, maka hb munzir menepuk bahu muridnya dan berkata : MA’ANNABIY.. !, berangkatlah, Rasul saw bersama kalian..

maka saat mereka membaca maulid, tiba tiba terjadi angin ribut yg mengguncang rumah itu dg dahsyat, lalu mereka mnta kepada Allah perlindungan, dan teringat hb munzir dalam hatinya, tiba tiba angin ribut reda, dan mereka semua mencium minyak wangi hb munzir yg seakan lewat dihadapan mereka, dan terdengarlah ledakan bola bola api diluar rumah yg tak bisa masuk kerumah itu..

ketika mereka pulang mereka cerita pd hb munzir, beliau hanya senyum dan menunduk malu..

demikian pula pedande pndande Bali, ketika Hb Munzir kunjung ke Bali, maka berkata muslimin disana, habib, semua hotel penuh, kami tempatkan hb ditempat yg dekat dengan kediaman Raja Leak (raja dukun leak) di Bali, maka hb munzir senyum senyum saja, keesokan harinya Raja Leak itu berkata : saya mencium wangi Raja dari pulau Jawa ada disekitar sini semalam..

maaf kalo gue ceplas ceplos, cuma gue lebih senang guru yg mengajar syariah namun tawadhu, tidak sesohor, sebagaimana Rasul saw yg hakikatnya sangat berkuasa di alam, namun membiarkan musuh musuhnya mencaci dan menghinanya, beliau tidak membuat mereka terpendam dibumi atau ditindih gunung, bahkan mendoakan mereka,

demikian pula ketika hb munzir dicaci maki dg sebutan Munzir ghulam ahmad..!, karena ia tidak mau ikut demo anti ahmadiyah, beliau tetap senyum dan bersabar, beliau memilih jalan damai dan membenahi ummat dg kedamaian daripada kekerasan, dan beliau sudah memaafkan pencaci itu sebelum orang itu minta maaf padanya, bahkan menginstruksikan agar jamaahnya jangan ada yg mengganggu pencaci itu,
kemarin beberapa minggu yg lalu di acara almakmur tebet hb munzir malah duduk berdampingan dg si pencaci itu, ia tetap ramah dan sesekali bercanda dg Da’i yg mencacinya sebagai murtad dan pengikut ahmadiyah..

Sumber Mailing list Majelis Rasulullah pemudasuci@yahoo.com

Sertilah FACEBOOK Kami : http://www.facebook.com/pondokhabib

KOLEKSI CERAMAH AGAMA : http://ceramahagamabaru.blogspot.com/

Forum ASWJ Sertailah kami di : http://fahamislam.com/forum/

Friday, November 9, 2007
Habib Bugak Aceh
(Habib Abdurrahman Bin Alwi Al-Habsyi)


Gelar Dari Sultan Aceh Darussalam:
- Teuku Chik Monklayu -
- Bentara Laksamana Di Monklayu -
- Tengku Habib, Qadhi, Imeum dan Khatib -
- Waliy al-Amri bi al-Darury Wa al-Syaukah -
(Wakil Sultan Urusan Keagamaan & Administrasi)

Disarikan Dari Proyek Penelitian ”Hubungan Aceh-Arab Pasca Penyebaran Islam”
Oleh: Al-Ustadz Hilmy Bakar dan Tim Acheh Red Crescent

RINGKASAN (SINOPSIS)

Dua tokoh Aceh, Dr. Al Yasa’ Abubakar (Kepala Dinas Syariat Islam NAD) dan Dr. Azman Isma’il, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh) telah mengeluarkan surat pernyataan tentang asal muasal Waqaf Habib Bugak Asyi. Beliau berdua menyebutkan bahwa seorang hartawan dan dermawan Aceh bernama Tgk. Haji Habib Bugak mewakafkan sebuah rumah di Qusyasyiah, tempat antara Marwah dengan Masjidil Haram Mekkah dan sekarang sudah berada di dalam masjid dekat dengan pintu Bab al Fatah.
Menurut akta ikrar Waqaf yang disimpan dengan baik oleh Nadzir, waqaf tersebut diikrarkan oleh Habib Bugak Asyi pada tahun 1224 Hijriyah (sekitar tahun 1800 Masehi) di depan Hakim Mahkamah Syar’iyah Mekkah. Di dalamnya disebutkan bahwa rumah tersebut diwaqafkan untuk penginapan orang yang datang dari Aceh untuk menunaikan haji, serta orang Aceh yang menetap di Mekkah. Dan Habib Bugak telah menunjuk Nadzir (pengelola) salah seorang ulama asal Aceh yang telah menetap di Mekkah. Nadzir diberi hak sesuai dengan tuntunan syariah Islam. Pada tahun 1420 H (1999 M) Mahkamah Syar’iyah Mekkah mengukuhkan Syekh Abdul Ghani bin Mahmud bin Abdul Ghani Asyi (generasi keempat pengelola wakaf) sebagai Nadzir yang baru. Sejak tahun 1424 H (2004 M) tugas Nadzir dilanjutkan oleh sebuah tim yang dipimpin anak beliau Munir bin Abdul Ghani Asyi (generasi kelima) serta Dr. Abdul Lathif Baltho.
Habib Bugak Asyi telah mewariskan kepada masyarakat Aceh harta yang kini telah berharga lebih 200 juta Riyal atau 5,2 Trilyun rupiah sebagai waqaf fi sabilillah. Pada saat ini harta waqaf telah berupa aset, diantaranya hotel Ajyad (Funduk Ajyad) bertingkat 25 sekitar 500 meter dari Masjidil Haram dan Menara Ajyad (Burj Ajyad) bertingkat 28 sekitar 600 meter dari Masjidil Haram. Kedua hotel besar ini mampu menampung lebih 7000 jamaah yang dilengkapi dengan infrastruktur lengkap. Pada musim haji tahun 1427 lalu, Nadzir (pengelola) Wakaf Habib Bugak Asyi telah mengganti sewa rumah jamaah haji asal Aceh selama di Mekkah sebesar sewa yang telah dibayar Pemerintah Indonesia kepada pemilik pemondokan atau hotel yang ditempati para jamaah haji asal Aceh, yang besarnya sekitar antara SR 1.100 sd SR 2.000, dengan jumlah total 13,5 milyar rupiah. Dan untuk musim haji tahun 1428 tahun ini, Nadzir Waqaf Habib Bugak mengganti biaya pemondokan haji sebesar 25 milyar rupiah.
Namun sampai saat ini belum banyak yang mengetahui secara pasti, siapa sebenarnya Habib Bugak yang telah memberikan manfaat besar kepada masyarakat Aceh, walau beliau sudah wafat ratusan tahun lalu. Demikian pula belum ada literatur yang memuat sejarah hidup beliau. Bahkan ketika penulis bertanya kepada Prof. Dr. Al Yasa’ Abubakar perihal nama asli Habib Bugak, karena beliau adalah salah seorang yang diutus oleh pemda NAD mewakili perundingan di Mekkah. Beliau menjawab bahwa sampai saat ini belum ada data pasti tentang Habib Bugak, karena di ikrar waqaf tidak tercantum nama asli, hanya disebutkan Habib Bugak Asyi. Beliau juga menambahkan agar Bugak juga ditelusuri, apakah yang dimaksud Bugak yang di Bireun atau lainnya. Menurut beliau sekurangnya ada nama Kuala Bugak yang berada di Aceh Timur.
Karena terdorong oleh kehebatan karamah yang dimiliki oleh Habib Bugak ini, Tim Red Crescent dan The Acheh Renaissance Movement, merasa tertarik untuk mengadakan penelitian terhadap sejarah hidup beliau. Karena tidak disangsikan beliau adalah wali Allah yang memiliki karamah besar, bahkan karamahnya tidak hilang dengan meninggalnya beliau, bahkan bertambah-tambah seperti yang terjadi pada waqaf yang beliau berikan. Berawal dari sebuah rumah yang mampu menampung puluhan orang, kini telah menjadi hotel besar yang mampu menampung 7000 orang dan menghasilkan dana besar untuk kepentingan perjuangan di jalan Allah. Diperkirakan jumlah asetnya akan meningkat terus karena diinvestasikan dengan profesional oleh para Nadzir (Pengelola) Wakaf di Mekkah.
Dengan mengadakan survei lapangan, pembacaan literatur dan dokumen terkait serta wawancara dengan beberapa tokoh selama hampir 2 bulan, maka Tim Peneliti menyimpulkan beberapa analisis dan kesimpulan dalam makalah ini yang diharapkan mudah-mudahan dapat memberikan titik terang siapa Habib Bugak Aceh dan apakah beliau adalah orang yang sama dengan Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi sebagaimana dinyatakan keturunan beliau.

A. Pendahuluan & Latar Belakang
Aceh adalah salah satu kawasan di wilayah dunia Islam yang senantiasa mendapat perhatian sejak dahulu kala sebagai pusat pertemuan budaya dan peradaban dunia. Letak strategis geografi Aceh di ujung barat pulau Sumatra telah menjadikanya sebagai wilayah lintasan peradaban dan budaya besar dunia yang dibuktikan dengan penemuan situs ataupun barang peninggalan dari budaya purbakala, Hindu, Budha maupun Islam. Sementara masyarakat Aceh adalah asimilasi dari masyarakat berperadaban tua, makanya Aceh akronim dari Arab, Cina, Eropah dan Hindia, yang merupakan perwakilan etnis terbesar umat manusia. Bukti-bukti terbaru menunjukkan bahwa masyarakat Aceh telah berinteraksi dan berhubungan dengan dunia Arab, terutama Mesir sejak zaman Fir’aun kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya beberapa jenis bahan pengawet mummi Fir’aun Mesir, diantaranya kafuuro atau kapur barus yang terdapat di sekitar Aceh. Bahkan tidak diragukan bahwa Barus yang dimaksud adalah di Lamuri wilayah Aceh Besar. Claudius Ptolemaeus, ahli ilmu bumi klasik dari Mesir menyebut nama ”Barousai” sebagai negeri yang terletak di pinggir jalan menuju Tiongkok.[1]
Dengan adanya hubungan masyarakat Aceh sejak 2000 sebelum Masehi lalu dengan Mesir, maka tidak mengherankan ketika nabi Muhammad saw membawa Islam pada awal abad ke 7 Masehi, langsung tersebar di kalangan para pedagang Nusantara Aceh yang memang sudah berhubungan melalui rute perdagangan di antara pelabuhan Yaman dan Hijaz Semenanjung Arabia. Dalam beberapa riwayat dari shahabat Nabi disebutkan sebuah bangsa dari sebelah timur yang bersama-sama berperang dan menyebarkan Islam. Penyebaran Islam secara langsung dilakukan para pedagang Nusantara-Aceh dan dilanjutkan dengan pengiriman misi dakwah dan perdagangan sejak zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Demikian pula halnya ketika keturunan bani Umayyah, terutama sejak Yazid bin Muawiyah melakukan pembantaian terhadap keturunan Sayyidina Husein ra, maka perpindahan keturunan Nabi saw dan ulama-ulama yang setia padanya semakin banyak ke Nusantara, terutama Aceh yang terletak paling Barat dan karena masyarakatnya sudah menerima dan memeluk ajaran Islam. Tidak diragukan bahwa Islamisasi Nusantara, termasuk penaklukan kerajaan terbesar Jawa-Hindu, Majapahit, dirancang dan digerakkan dari Aceh silih berganti sejak awal abad VIII Masehi berpusat di Jeumpa, Pasai, Perlak dan lainnya bibawah pimpinan sultan-sultan Islam yang merupakan mata rantai gerakan Islamisasi dunia yang menjadikan Makkah al-Mukarramah sebagai porosnya yang mendapat dukungan penuh para Khalifah Islam turun temurun.[2]
Kegemilangan peradaban masyarakat Aceh yang telah berkembang pesat sebelumnya telah memudahkan para pembawa Islam untuk memajukannya secara maksimal. Hal ini mengantarkan masyarakat Aceh sebagai bagian dari pergerakan internasional pembebasan umat manusia dari belenggu kegelapan yang membawanya sebagai masyarakat berperadaban tinggi berdasarkan nilai-nilai keuniversalan dan keagungan Islam. Dalam Bustanu’l Salatin, Syekh Nuruddin telah menggambarkan bagaimana tingginya pengetahuan dan pemikiran masyarakat Aceh, baik di kalangan para sultan, pejabat negara sampai kepada masyarakat umum sehingga banyak ulama yang datang ke Aceh harus kembali belajar agar cukup pengetahuannya untuk mengajar. Itulah sebabnya para pemuka Islam menjuluki Aceh sebagai “Serambi Mekkah”, sebagai satu-satunya serambi Mekkah di dunia, yang tidak lain bermakna sebenarnya adalah karena Aceh telah menjadi pusat rujukan ajaran dan fatwa Islam di Nusantara. Tradisi dan peradaban Islam di Aceh sudah berkembang pesat dan bahkan para ulama dan cerdik pandainya memiliki kaliber yang sederajad dengan para ulama Hijaz dan semenanjung Arabia lainnya. Kasus ini dapat dilihat pada diamnya (tawaquf) ulama-ulama Hijaz di Mekkah atas kepemimpinan wanita selama lebih 50 tahun pemerintahan 4 orang Sultanah Aceh atas dukungan fatwa Mufti dan Qadhi Malik al-Adhil, Syekh Abdul Rauf al-Singkili (Maulana Syiah Kuala). Hal ini tidak lain untuk mengormati ijtihad beliau yang didasarkan pada pengetahuan mendalam dan luas terhadap ajaran Islam. Setiap utusan Syarief Mekkah yang datang kepada beliau harus mengakui ketinggian ilmunya serta kesahihan ijtihad dan fatwanya sehingga hujjahnya tak terpatahkan. Namun setelah beliau wafat, maka Ketua Mufti Mekkah mengeluarkan fatwa yang memakzulkan (memberhentikan) Sultanah Kamalat Ziatuddinsyah pada 1699 dengan hujjah bahwa syari’at Islam tidak membenarkan perempuan menjadi pemimpin negara.[3]
Pemikir Islam kontemporer Ismail R. Faruqi[4] menjuluki muslim nusantara, terutama pejuang Aceh sebagai "One of the oldest and bloodiest struggle of the Muslims have waged against Christian-Colonialist aggression". Salah satu rumpun bangsa yang paling tertua dan paling berdarah diantara bangsa Muslim dalam menentang agresi kaum Kristen-Kolonialis. Karena realitas sejarah membuktikan hampir 500 tahun lebih masyarakat Muslim Aceh dibawah kepemimpinan para Sultan berperang silih berganti melawan kaum Imprialis-Kolonialis ”kaphe” yang hendak menjajah Aceh. Dengan gagah perkasa dan senjata apa adanya mereka bangkit melawan tentara-tentara Salib dari Portugis maupun Belanda yang telah memiliki persenjataan modern pada masa itu.[5]
Aceh dengan segala kegemilangan sejarah peradabannya sejak dahulu kala telah melahirkan tokoh-tokoh berkaliber dunia pada bidangnya masing-masing. Nama-nama besar dari Aceh telah menghiasi perjalanan sejarah umat manusia, diantaranya seperti Sultan Malikus Saleh, Sultan Iskandar Muda, Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniri, Ratu Safiatuddin, Maulana Syiah Kuala, Laksamana Malahayati, Tgk. Chik Di Tiro, Teuku Umar, Cut Nya’ Dhien dan lain-lainnya.[6]

B. Tujuan Penelitian
Berdasarkan beberapa dokumen resmi yang dikeluarkan Kesultanan Aceh Darussalam bertahun antara 1206 H (1785 M) sampai 1289 H (1870 M), diketahui bahwa Habib Abdurrahman bin Alwi bin Syekh Al-Habsyi adalah salah seorang tokoh Aceh yang memiliki peranan penting dalam sejarah rekonsiliasi masyarakat Aceh. Terutama saat terjadinya ketegangan yang timbul pada awal abad ke 18 Masehi, akibat lain dari pemberhentian Sultanah Kamalat Ziatuddinsyah pada tahun 1699 yang digantikan oleh suaminya Sultan Badrul Alam Sayyid Ibrahim Syarif Hasyim Jamaluddin Syah Jamalullayl (1699-1702) atas fatwa dari Ketua Mufti Syarief Mekkah setelah wafatnya Mufti-Qadhi Malikul Adil Maulana Syiah Kuala. Fatwa ini telah mengantarkan para Sayyid (keturunan Nabi Muhammad saw) sebagai Sultan Aceh selama hampir 30 tahun. Naiknya kembali keturunan garis Sultan asal Pasai dari keturunannya di Bugis, Sultan Alaidin Ahmad Shah (1733) dan para pelanjutnya telah menimbulkan kegusaran dan ketakutan dari keturunan para sayyid, terutama keturunan dari garis Sultan yang dikhawatirkan dapat menimbulkan pembantaian. Apalagi pada saat itu, tokoh kharismatis dari kalangan Habib belum ada yang setaraf dengan Habib Abu Bakar Balfaqih (Habib Dianjung), wafat pada tahun 1680an, sementara belum ada Habib menggantikan kedudukan beliau yang dihormati serta disegani oleh masyarakat Aceh, baik kalangan istana, ulama dan masyarakat luas. Bersamaan pada saat itu kaum Imperialis-kolonialis Barat kaphe sedang mencari-cari cara untuk masuk menaklukkan Aceh dan telah mempersiapkan strategi pecah belah di antara Sultan dan kekuatan politik lainnya dengan berbagai provokasi. Maka para tokoh sayyid di Aceh meminta Syarief Mekkah yang masih memiliki otoritas keagamaan atas Aceh agar mengirim para tokoh kharismatis, Habib dan Ulama yang dapat membawa kedamaian dan rekonsiliasi masyarakat Aceh. Di antara utusan yang datang dari Mekkah adalah Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi yang kemudian dikenal dengan Habib Teuku Chik Monklayu, yang juga dikenal dengan Habib Bugak Aceh, karena beliau tinggal serta maqamnya di Pante Sidom, Bugak, Bireuen.
Namun sampai saat ini belum banyak yang mengetahui sejarah kehidupan Habib Abdurrahman Al-Habsyi Bugak. Demikian pula belum ditemukan literatur yang memuat sejarah hidup, perjuangan dan kiprah beliau dalam masyarakat Aceh. Adalah sebuah keniscayaan sejarah untuk mengungkap jatidiri Habib Abdurrahman Al-Habsyi yang dikenal masyarakat sebagai Habib Bugak. Selain untuk (i) kepentingan wawasan dan khazanah ilmu pengetahuan bagi generasi Aceh, (ii) adalah penting juga untuk mengungkap sejauh mana peranan para Habib dalam sejarah peradaban Aceh sebagai tauladan kepada keturunannya dalam membangun kembali kegemilangan Aceh. (iii) Hal ini juga sangat diperlukan oleh masyarakat untuk menjaga kesimpangsiuran informasi yang berkembang. Karena banyak para peziarah yang ingin mengunjungi maqam Habib Bugak sebagai ungkapan rasa hormat atas perjuangan dan jasa beliau pada masyarakat Aceh, namun mereka belum mendapat kepastian dari para ulama dan cendekiawan kita. (iv) Rasulullah saw memberikan anjuran kepada kaum Muslim untuk menghormati dan mentauladani generasi terdahulu yang telah memberikan manfaat kepada masyarakatnya, dan bagaimana mungkin dapat ditauladani jika identitas dan sejarah hidupnyapun belum diketahui.
Menurut pandangan agama, Habib Abdurrahman Al-Habsyi Bugak termasuk hamba dan wali Allah yang mendapat kehormatan dan kemulyaan Allah (karamah). Selain beliau seorang Habib keturunan Nabi Muhammad saw, beliau adalah seorang ulama faqih, sufi dan seorang bentara-laksamana serta pemimpin masyarakat yang dipercaya oleh Sultan Aceh sebagai Teuku Chik yang kekuasaannya terbentang dari desa-desa di sekitar Jeumpa, Peusangan, Monklayu, Bugak sampai Cunda dan Nisam sebagaimana yang dituangkan dalam surat keputusan Sultan Mahmudsyah pada surat bertahun 1224 H (1800 M). Kedudukan beliau telah mengantarkannya sebagai salah seorang hartawan yang memiliki tanah pertanian luas serta menguasai jalur laut, namun kesolehan dan kesufiannyanya telah menjadikan beliau sebagai dermawan yang sangat mudah membantu masyarakat sebagai tradisi keluarga Nabi (ahl al-Bayt). Dikabarkan beliau banyak berinfak dan bersedekah kepada masyarakat sekitarnya, bahkan karena kecintaannya kepada Aceh yang telah memberikan keutamaan dan nikmat besar, beliau rela tidak kembali ke tanah kelahirannya di Makkah al-Mukarramah dan mewakafkan seluruh harta warisannya di Mekkah untuk kepentingan masyarakat Aceh. Dan amal saleh yang diwaqafkannya berkembang berlipat-lipat bahkan memberikan manfaat yang terus berdampak besar kepada masyarakat Aceh. Maka mentauladani amalannya adalah sesuatu hal yang diharapkan dapat mendekatkan diri kepada Allah serta mendapat kemulian dari-Nya sebagaimana yang telah diberikan Allah SWT kepada Habib Bugak.
Jadi penelitian dan penelusuran awal ini bertujuan utamanya untuk mengenal secara pasti jatidiri serta sejarah hidup Habib Abdurrahman Al-Habsyi Bugak dari berbagai sumber rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya secara ilmiyah. Disamping itu untuk mengungkap peranan keturunan Rasulullah (Habib) dalam sejarah peradaban masyarakat Aceh, sekaligus untuk mengungkap beberapa fakta sejarah yang belum tertulis dalam sejarah Aceh modern.

C. Peranan Sayyid dan Habib Dalam Masyarakat Aceh
Sayyid atau Habib adalah gelar yang diberikan kepada para keturunan Rasulullah dari keturunan Sayyidina Husein bin Ali ataupun dari keturunan Sayyidina Hasan bin Ali, biasa juga disebut dengan Syarief. Gelar Habib biasanya hanya diberikan kepada para pemuka atau tokoh yang telah lanjut usia dan memiliki pengetahuan serta keistimewaan dalam masyarakatnya. Biasanya para Habib adalah seorang tokoh yang berpengaruh serta memiliki pengetahuan luas yang dijadikan pemimpin keagamaan yang memiliki otoritas keagamaan kepada masyarakat muslim. Disamping memiliki kharisma yang besar, biasanya juga memiliki kelebihan-kelebihan supra-natural atau secara spiritual. Boleh dikata bahwa Habib adalah para pemuka atau Ulama dikalangan para sayyid ataupun syarief.
Para peneliti telah membuktikan bahwa para Sayyid atau Habib memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan Islam di Nusantara sejak awal kedatangannya. Terutama setelah terjadinya eksodus besar-besaran para keturunan Rasulullah dari Dunia Arab atau Parsia akibat konflik dan perang saudara yang terjadi dengan keturunan dari Dinasti Bani Umayyah atau Abbasyiah pada awal abad VIII Masehi. Karena memiliki garis keturunan dengan Rasulullah saw, berpengetahuan luas, memiliki kemampuan menggalang pengikut setia, memobilisasi dana serta kecakapan adminstrasi dan kepemimpinan, maka banyak diantaranya yang menjadi menantu para raja dan selanjutnya menggantikan kedudukannya sebagai Sultan.
Apalagi ada sebagian faham, terutama faham awal masyarakat Nusantara telah mewajibkan memberi penghormatan kepada para keturunan Rasulullah berdasarkan sebuah sabda beliau: ”Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, yang jika engkau berpegang kepada keduanya, maka engkau tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah (al-Qur’an dan Sunnah) dan Keturunanku”.[7] Dalam riwayat lain, Rasulullah saw bersabda: ”Aku tinggalkan bagi kalian dua hal. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian pasti tidak akan pernah tersesat. Salah satu dari dua hal itu lebih agung daripada yang lain; Kitabullah, sebuah tali yang terentang dari langit ke bumi; dan keturunanku, ahlul-baitku. Keduanya tidak akan terpisah satu sama lain hingga hari Kiamat nanti. Maka, pikirkanlah baik-baik bagaimana kalian akan berpegang teguh kepada keduanya setelah aku pergi.” Itulah sebabnya para keturunan Rasulullah saw selalu mendapat kedudukan terhormat dalam strata masyarakat di Nusantara, termasuk di Aceh.[8]
Menurut penelitian Snouck[9], para keturunan Rasulullah yang dipanggil Sayyid, Syarief atau Habib memiliki kedudukan terhormat di kalangan masyarakat Aceh sejak awal kemasukan Islam. Mereka diberikan penghormatan sebagai tokoh agama, hakim, pengajar bahkan terkadang sebagai pemimpin masyarakat dan pemegang admnistratur pemerintahan. Sejarah Aceh sendiri telah membuktikan bahwa Kesultanan Aceh pernah dipimpin oleh beberapa orang Sultan dari keturunan Rasulullah, seperti Sultan Badrul Alam dan lainnya. Namun Snouck sendiri menggambarkan para Sayyid dan Habib sebagai tokoh yang ambisius dan eksploitatif akibat kedengkiannya kepada Islam dan dorongan tugasnya sebagai agen Kerajaan Belanda yang akan menaklukkan Aceh Darussalam. Itulah sebabnya tidak mengherankan ketika dia menggambarkan Habib Abdurrahman Al-Zachir sebagai tokoh penghianat dan materialis yang rela menjual Aceh dan masyarakatnya kepada penjajah kafir, yang tidak pernah menjadi tradisi mulia dari keturunan Rasulullah saw apalagi sebagai seorang Habib yang mengerti dan faham akan ajaran agama.[10]
Sejak pertama kali berdirinya Kerajaan Islam di Aceh, baik di Jeumpa, Pasai, Perlak dan Kesultanan Aceh Darussalam dan selanjutnya, hubungan para Sultan dengan para keturunan Rasulullah terjalin dengan eratnya. Para Habib biasanya diberi tugas sebagai penasihat agama dan spiritual para Sultan, bahkan ada yang diangkat sebagai panglima, mangkubumi, sekretaris negara dan menteri luar negeri. Namun hubungan yang berdasarkan kepada keagamaanlah yang lebih dominan. Kedekatan para Sultan dan para Habib dapat juga dibuktikan dengan kedekatan para Sultan dengan para Syarief Mekkah yang dijadikan sebagai pemegang otoritas keagamaan atau sumber rujukan kepada masalah-masalah agama. Kedekatan antara Mekkah dengan Sultan dibuktikan dalam sejarah, ketika Sultan Iskandar Muda membuat peraturan keimigrasan di Banda Aceh (Kuta Raja) sebagaimana peraturan keimigrasian di Mekkah, bahwa orang non Muslim tidak diperbolehkan menetap tinggal di Bandar Aceh, kecuali hanya beberapa saat ketika mereka berdagang dan setelah selesai diperintahkan meninggalkan Banda Aceh atau bermalam di kapalnya.[11]
Dari waktu ke waktu Syarief Mekkah akan mengirimkan para Ulama dan Habib ke Aceh untuk mengajarkan agama kepada pemimpin dan masyarakat Aceh. Puncak hubungan ini terjadi utamanya ketika masyarakat Aceh mengalami perselisihan internal keagamaan yang memerlukan keputusan seorang figur yang kuat sebagai mufti atau qadhi. Diriwayatkan dalam Sejarah Melayu, bahwa pada pertengahan abad ke 13 Masehi, Syarief Mekkah telah mengirim Syekh Ismail dengan beberapa guru agama, untuk melakukan dakwah Islam di kawasan Aceh. Dalam rombongan tersebut turut juga Fakir Muhammad dari India.[12] Ketika terjadi perselisihan antara para pengikut Syamsuddin al-Sumatrani dengan Nuruddin al-Raniri yang berkelanjutan di zaman Maulana Syiah Kuala, Syarief Mekkah telah mengirim beberapa orang Ulama dan Habib yang ditugaskan untuk mendamaikan perselisihan faham yang tejadi. Mereka telah berhasil menciptakan pemahaman agama yang toleran dan moderat.[13]
Pada masa Iskandar Tsani (1637-1641) telah datang seorang Habib kharismatis yang menjadi pembimbing dan pendidik masyarakat Aceh yang menjadi utusan Syarief Mekkah bernama Habib Abu Bakar bin Husein Balfaqih (w.1100 H / 1680 M) yang bergelar Habib Dianjung yang terkenal dan dihormati Sultan dan masyarakat Aceh yang maqamnya di Peulanggahan Banda Aceh. Masih banyak lagi nama-nama para Habib, Syarief ataupun Sayyid yang tidak tercatat dalam sejarah masyarakat Aceh, terutama dalam mengembangkan ajaran Islam ataupun dalam membangun peradaban dan budaya masyarakat. [14]

D. Situasi Umum Aceh Sebelum Kedatangan Habib Abdurrahman Sekitar Abad 17
Kesultanan Aceh Darussalam didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1530) dan mengalami kegemilangan puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada tahun 1607 sampai 1636, dimana wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Aceh sampai ke Johor, Pahang dan Kedah di Semenanjung Malaya. Kesultanan Aceh menjadi sentra kekuatan Nusantara yang diperhitungan, pengekspor beras, tempat persinggahan kapal-kapal asing dan yang paling penting sebagai pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara. Dengan kemakmuran yang dicapai, masyarakat Aceh menjadi salah satu masyarakat yang berperadaban dan berbudaya maju.[15] Beaulieu mencatat jumlah pasukan darat Kesultanan Aceh sekitar 40 ribu orang, memiliki armada laut sekitar 100-200 kapal, diantaranya kapal selebar 30 meter dengan awak 600-800 orang yang dilengkapi tiga meriam.[16] Di zaman ini pemikiran dan peradaban Islam berkembang secara maksimal dibawah bimbingan ulama besar Syekh Samsuddin Al-Sumatrani sebagai mufti yang bergelar Syekh Islam. Beliau adalah murid ulama besar Hamzah Fansuri.[17]
Setelah kemangkatan Sultan Iskandar Muda, mulai terjadi kemunduran dalam kesultanan Aceh, terutama sejak pemerintahan dipegang oleh menantu beliau, Sultan Iskandar Tsani (1636-1641). Menurut sebagian peneliti, diantara penyebab kemunduran ini adalah karena diangkatnya seorang ulama asal India, Syekh Nuruddin al-Raniri sebagai Mufti dan Qadhi al-Malik al-Adil, yang dianggap kurang toleransi dalam menjalankan aliran keagamaan pada masyarakat sehingga menimbulkan konflik internal di kalangan masyarakat Aceh. Dia menfatwakan bahwa aliran Wahdatul Wujud yang diajarkan oleh Hamzah al-Fansuri dan kemudian dilanjutkan oleh Syamsuddin al-Sumatrani adalah sesat. Karena itu ajaran ini dilarang dan pengikutnya yang tidak mau bertaubat dan mengikuti faham al-Raniri dibunuh. Kitab-kitab karangan Hamzah Fansuri dan para ulama yang selama ini telah menjadi pegangan umum masyarakat Aceh yang telah mengantarkan mereka menuju kegemilangan peradaban di bakar di depan Masjid Raya Baiturrahman. Sikap intoleransi al-Raniri ini telah menimbulkan perpecahan besar pada masyarakat Aceh, bahkan sikap saling curiga dan saling benci yang sudah sampai pada tingkat pembunuhan.[18]
Perbedaan pendapat dalam menafsirkan ajaran Islam yang diikuti dengan sikap tidak toleransi yang dilakukan al-Raniri dan para pengikutnya telah menimbulkan kepanikan dan konflik horizontal di tengah masyarakat luas sampai di kalangan para pembesar dan ulama yang melemahkan roda pemerintahan Kesultanan Aceh.[19] Pada saat yang sama Sultan Iskandar Tsani memiliki kepemimpinan yang dianggap lemah dibandingkan dengan pendahulunya Sultan Iskandar Muda, yang tidak dapat mengendalikan keadaan dengan bijaksana.[20] Perpecahan masyarakat Aceh, utamanya kalangan istana, berawal dari dataran perbedaan teologis yang non kompromis telah menimbulkan kemunduran demi kemunduran, baik dalam bidang ekonomi, sosial sampai kepada tingkat pemikiran dan pengembangan peradaban Islam.[21]
Keadaan mulai membaik ketika Sultanah Tajul Alam Safiatuddin (1641-1675) istri dan pengganti Sultan Iskandar Tsani menetapkan Syekh Abdul Rauf al-Singkili yang dikenal dengan Maulana Syiah Kuala sebagai Mufti dan Qadhi al-Malik al-Adil. Karena beliau adalah seorang yang sangat alim dan memiliki toleransi yang besar dalam menjalankan aliran keagamaan yang selama ini menjadi ruh penggerak masyarakat Aceh. Beliau memahami benar sumber kekuatan masyarakat Aceh, persatuan yang tumbuh dari toleransi menjalankan faham keagamaan. Itulah sebabnya ketika ditanya tentang aliran para ulama pendahulunya Fansuri dan al-Sumatrani, al-Singkili menjawab dengan sangat bijak yang membawa persatuan kembali masyarakat Aceh. Beradasarkan fatwa gurunya, Syeikh Ibrahim al-Quruni, beliau menetapkan bahwa umat Islam dilarang mengkafirkan sesama muslim, karena akibatnya bila orang lain tidak kafir maka orang tersebut akan menjadi kafir. Ketinggian dan pemahaman keislaman al-Singkili diakui oleh para ulama yang menjadi utusan Syarief Mekkah yang datang pada zaman Sultanah Zakiyyat al-Din, yang memperkenankan kepemimpinan wanita atas dukungan fatwa Maulana Syiah Kuala. Setelah kemangkatan beliau, barulah Syarief Mekkah menurunkan fatwa tentang keharaman pemimpin wanita dan mengganti Sultanah Kamalatsyah dengan suaminya, Sultan Badrul Alam tahun 1699.[22] Pada masa ini pula sudah datang seorang Habib kharismatis yang menjadi pembimbing dan pengajar masyarakat Aceh, terutama sebagai rujukan para pemimpinnya. Beliau dikenal dengan julukan Habib Dianjung, yang berarti Habib Maha Guru yang disanjung. Ada juga yang menafsirkan gelar beliau diberikan karena beliau membuka pengajaran agama di sekitar anjungan istana sultan. Nama asli beliau adalah Habib Abu Bakar bin Husein Balfaqih yang wafat pada tahun 1100 H (1680an) dan dimaqamkan di Banda Aceh.[23]
Fatwa Syarief Mekkah telah mengantarkan Sultan Badrul Kamal Sayyid Ibrahim Habib Jamaluddin Syarif Hasyim Syah Jamalullayl (1699-1707) sebagai Sultan Aceh yang mengawali dipimpinnya Kesultanan Aceh oleh keturunan para Sayyid atau keturunan Rasulullah saw sampai dengan hampir 30 tahun, yang berakhir pada tahun 1726.[24] Peranan para Uleebalang yang berasal dari bekas raja-raja yang menguasai kerajaan-kerajaan kecil sebelum terbentuknya konfederasi Kerajaan Aceh Darussalam pada abad ke-XVI sangat menentukan kembali. Sejak awal peranan Syarief Mekkah sangat besar dalam pemerintahan Kesultanan Aceh, yang sebelumnya memang menjadi rujukan dari para Mufti yang mendampingi Sultan.[25] Sepanjang 30 tahun pemerintahan yang didukung oleh Ulama Mekkah ini tidak mampu menaikkan citra kegemilangan Kesultanan Aceh kembali. Namun prestasi utama para Sultan adalah keseriusan mereka dalam proses Islamisasi Nusantara sehingga menjadikannya sebagai salah satu bangsa yang mayoritas memeluk Islam.[26]
Kenaikan kembali keturunan garis Sultan asal Pasai dari keturunannya di Bugis, Sultan Alauddin Ahmad Shah (Maharaja Lela Melayu) pada 1735 telah menimbulkan kegusaran dari keturunan para Sayyid, terutama keturunan dari garis Sultan yang selama ini memegang kendali Kesultanan Aceh. Pergantian kepemimpinan ini dikhawatirkan dapat menimbulkan perang saudara dan pembantaian terhadap keluarga Sultan sebelumnya. Karena bersamaan pada saat itu kaum Imperialis-kolonialis Barat kaphe sedang mencari-cari cara untuk masuk menaklukkan Aceh dan telah mempersiapkan strategi pecah belah di antara Sultan dan kekuatan politik lainnya dengan berbagai provokasi. Maka para tokoh Sayyid di Aceh meminta Syarief Mekkah yang masih memiliki otoritas keagamaan atas Aceh agar mengirim Habib dan Ulama yang dapat membawa kedamaian dan rekonsiliasi di Aceh. Syarief Mekkah mengutus beberapa orang Habib dan Ulama yang diharapkan mampu memberikan bimbingan dan pengajaran kepada masyarakat Aceh yang membawa kedamaian dan persatuan. Maka datanglah ke Banda Aceh setelah mangkatnya Habib Dianjung, atau pada sekitar awal abad ke 18 Masehi yang terus datang secara bergelombang mengingat keadaan Aceh yang sedang dicekam dan diambang perang saudara. Bahkan sebagian para ahli sejarah menganggap masa ini sebagai periode perang saudara Aceh.[27]
Mengingat peristiwa yang krusial ini, yang ditambah dengan tantangan eksternal penjajah kafir yang mau menguasai Aceh, maka Syarief Mekkahpun telah mengutus beberapa Habib dan Ulama dengan berbagai latar belakang pengetahuannya, baik dalam bidang pengajaran agama, administrasi pemerintahan sampai kepada strategi perang. Di antara rombongan utusan Syarief Mekkah tersebut adalah Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi yang kemudian dikenal dengan Habib Teuku Chik Monklayu, yang juga dikenal dengan Habib Bugak Aceh, karena tinggal dan dimaqamkan di Pante Sidom, Bugak, Bireuen.[28]
E. Kelahiran dan Nasab Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi Bugak
Tanggal, bulan dan tahun kelahiran Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi secara rinci sampai sekarang belum didapatkan, baik pada dokumen-dokumen yang tersimpan ataupun dari nara sumber. Menurut perhitungan dari generasi di bawah beliau, dan disesuaikan dengan beberapa peristiwa yang menyertainya, terutama dokumen yang ditemukan di Alue Ie Puteh yang memuat silsilah dan tahun wafatnya Habib Husein bin Abdurrahman, yaitu anak Habib Abdurrahman di Monklayu pada hari senin bulan ramadhan tahun 1304 atau sekitar tahun 1880an, maka Habib Abdurrahman diperkirakan wafat lebih awal 25-30an tahun, sekitar tahun 1280an H atau sekitar tahun 1865an M. Menurut cerita keluarga besar Al-Habsyi, Habib Abdurrahman berumur sekitar 150an tahun, maka beliau diperkirakan lahir pada sekitar awal tahun 1130an H atau sekitar tahun 1710-an Masehi. Asumsi ini juga didasarkan ketika datang ke Banda Aceh beliau berumur antara 35 atau 40 tahun sebagai batas dewasanya seorang Habib Ulama utusan Syarief Mekkah. Hal ini juga merujuk kepada dokumen Kesultanan Aceh bertahun 1206 H atau 1785 M yang memberikan keterangan akan tugas beliau di Bugak dan sekitarnya.
Menurut Sayed Dahlan bin Sayed Abdurrahman Al-Habsyi yang didengarnya dari kakek buyutnya, Habib Abdurrahman dilahirkan di Makkah Al-Mukarramah dalam lingkungan keluarga Al-Habsyi Ba’alwy Hasyimy yang memiliki kedudukan khusus dan terhormat di kalangan para petinggi Penguasa Mekkah. Sebagaimana diketahui bahwa sampai dengan awal abad ke 19 M, para Syarief Mekkah atau penguasa Mekkah adalah dari kalangan Ahlul Bayt Nabi saw yang diberikan amanah oleh para Khalifah Islam sampai berakhirnya masa Khalifah Usmaniyah di Turki pada tahun 1924 M.
Menurut data dari beberapa sumber, terutama dari Sayed Zein bin Habib Abdullah bin Habib Zein bin Habib Shafi Al-Habsyi dan dari Sayed Dahlan bin Sayed Abdurrahman bin Habib Shafi Al-Habsyi yang dikuatkan dengan lembaran silsilah yang tersimpan pada keluarga Alm. Sayed Abdurrahman bin Habib Abdullah bin Habib Zein bin Habib Shafi Al-Habsyi, silsilah Habib Abdurrahman adalah berasal dari Mekkah yang bersambung dengan garis Rasulullah saw, beliau adalah anaknya Habib Alwi bin Syekh Al-Habsyi.
Secara lengkap nasab beliau adalah Habib Abdurrahman bin Alwi bin Syekh bin Hasyim bin Abu Bakar bin Muhammad bin Alwi bin Abu Bakar Al-Habsyi bin Ali bin Ahmad bin Muhammad Hasadillah bin Hasan Attrabi bin Ali bin Fakeh Muqaddam bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Baalwi Al-Habsyi bin Abdullah bin Ahmad Al-Muhadjir bin Isa Al-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Jafar Siddiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husein bin Sayyidah Fatimah (Ali bin Abi Thalib) binti Sayyidina Muhammad Rasulullah saw.
Sedangkan jika diurut dari bawah saat ini, maka Habib Abdurrahman adalah generasi yang ke 8. Sayed Maimun (Bugak,1958-skrg) bin Sayed Abdurrahman (Bugak,1927-2003) bin Habib Abdullah (Bugak,1903-1984) bin Habib Zein (Monklayu,w.?) bin Habib Shofi (Idi,w.?) bin Habib Ahmad (Monklayu, w.?) bin Habib Husein (Monklayu, w.1304 H / 1880 M) bin Habib Abdurrahman (Bugak-Pante Sidom, w.?) bin Alwi (Mekkah,w.?) bin Syekh dan seterusnya.
Banyak orang yang mengkritik tradisi keturunan Rasulullah (ahlul bayt) yang selalu menjaga dan memelihara silsilah keturunan. Namun bagi para keturunan Rasulullah, hal ini adalah sangat penting, terutama dari segi fiqih, agar keturunan Rasulullah tetap menjalankan syariatnya. Salah satunya adalah keturunan Rasulullah tidak boleh atau diharamkan memakan harta zakat atau shadaqah, tetapi boleh menerima hadiyah. Bagaimana hukum fiqih ini dapat terlaksana, jika keturunan Rasulullah tidak mengetahui nasab keturunannya. Agar jangan melanggar syariat inilah, maka sangat perlu bagi keturunan Rasulullah menjaga silsilah keluarganya.
Sudah menjadi tradisi masyarakat Aceh dan nusantara memberikan gelar kepada ahlul bayt atau keturunan nabi Muhammad saw dengan julukan Sayyid, Syarif, Habib untuk laki-laki dan Syarifah untuk wanita. Habib adalah salah seorang keturunan nabi Muhammad yang telah memiliki pengetahuan dan dihormati dilingkungannya. Tidak umum memberikan gelar Habib kepada mereka yang bukan keturunan Rasulullah, bahkan hampir tidak pernah ditemukan seorang Ulama atau tokoh masyarakat yang diberikan gelar Habib sedangkan mereka bukan dari golongan keturunan Rasulullah. Memang ada beberapa nama yang memakai Habib, seperti Habib Adnan atau Habib Chirzin, namun Habib disisi bukan gelar, tapi memang nama mereka adalah Habib.
Menurut tradisi kaum Hadramiyin (bangsa Arab) yang datang ke Nusantara, biasanya mereka memiliki kunyah (nama gelar) yang kadangkala dinisbatkan kepada tempat tinggal ataupun maqamnya seperti misalnya Sunan Bonang, Sunan Ampel, Pangeran Jayakarta, Habib Dianjung dan dikuti oleh Ulama, termasuk di Aceh seperti Maulana Syiah Kuala dan lain-lainnya. Demikian pula dengan Habib Abdurrahman, menurut tradisi memiliki nama gelar yang dikenal oleh kaum keluarganya yaitu Habib Bugak, karena beliau tinggal dan dimaqamkan di Pante Sidom Bugak.

F. Peranan Habib Abdurrahman Dalam Kesultanan Aceh Darussalam
Menurut penelitian Sayed Dahlan bin Habib Abdurrahman Al-Habsyi (60 thn), kakek buyut beliau Habib Abdurrahman bin Alwi bin Syekh Al-Habsyi adalah Habib dan Ulama terkemuka yang sebelumnya tinggal di lingkungan Ka’bah Mekkah Almukarramah sebagai salah seorang anggota penasihat kepada Syarif Mekkah pada pertengahan abad 18 M (1740-1760an M). Pada masa itu Syarief Mekkah yang dipegang para Habib, Sayyid dan Syarief keturunan Rasulullah memiliki tempat khusus di kalangan Sultan dan Penguasa Muslim di Nusantara, terutama Kesultanan Aceh Darussalam yang merupakan tradisi sejak Kerajaan Islam Pasai pada abad ke 13 M. Jika ada masalah-masalah yang tidak dapat diselesaikan, maka mereka akan meminta fatwa dari Habib dan Ulama di Mekkah. Sementara Aceh memiliki kedudukan yang sangat khusus sebagai Serambi Mekkah, yang menurut satu pendapat dikatakan sebagai tempat mengambil keputusan atau fatwa agama dan sumber rujukan bagi Nusantara karena para Ulama Aceh memiliki drajat pengetahuan yang sama dengan Ulama di Yaman, Hijaz maupun Mesir. Karena sebagai serambi Mekkah inilah, maka Aceh selalu mendapat perhatian khusus Syarief Mekkah yang memiliki otoritas dalam bidang keagamaan. Hal senada disampaikan pula oleh Sayed Muhammad bin Sayed Husein bin Habib Shafi Al-Habsyi (80 thn) yang tinggal di Sampoinit Baktia Barat Aceh Timur.
Menurut kedua nara sumber ini (Sayed Dahlan dan Sayed Muhammad) yang diceritakan melalui lisan dari generasi ke generasi sebagai tradisi para Sayed, Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi datang ke Bandar Aceh Darussalam, ibu kota dan pusat pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam masa itu, sekitar awal atau pertengahan abad ke 18 (kira-kira thn 1760-an) bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan Ala’addin Mahmudsyah (1767-1787) atas perintah dari Syarief Mekkah untuk menyelesaikan perbedaan faham antara Keturunan Sayid/Habib dengan keturunan para Sultan sejak zaman pemerintahan Sultan Ahmadsyah Johan (1735). Perbedaan ini terjadi ketika Sultan Badrul Alam Sayyid Ibrahim Syarif Hasyim Syah Jamalullayl sebagai keturunan Sayyid menggantikan Sultanah Kamalat Ziatuddinsyah, yang juga istrinya, dari keturunan Sultan Aceh atas dasar fatwa Syarief Mekkah dan dukungan uleebalang atau raja-raja kecil. Pertikaian ini selanjutnya berterusan sampai zaman Tuanku Sayid Hussein al-Aidit dengan keturunan Sultan Alaudin Ahmad Syah Johan.
Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi datang ke Bandar Aceh, menurut Sayed Dahlan, bersama dengan beberapa orang Habib, Syekh dan Ulama sebagai utusan Syarief Mekkah yang akan meneruskan tugas-tugas yang telah dijalankan sebelumnya oleh Habib Abu Bakar bin Husein Balfaqih (w.1100 H) yang terkenal dengan Habib Dianjung, terutama dalam mendamaikan masyarakat Aceh yang sedang berada pada konflik internal yang disebabkan oleh perebutan kekuasaan dan juga oleh faham teologi keagamaan yang tidak toleran yang diajarkan Syekh Nuruddin al-Raniry sebelumnya yang menimbulkan perpecahan dan perang saudara di Aceh. Karena para Habib dan Ulama ini berhasil mendamaikan dan mengawal perdamaian para pemimpin Aceh yang menghasilkan sebuah rekonsiliasi masyarakat, maka mereka diberi kehormatan dan diminta menetap di Aceh. Para utusan Syarief Mekkah ini, semuanya memilih tinggal di Aceh memberikan pelajaran agama, administrasi, kemiliteran dan pelajaran lainnya kepada masyarakat Aceh.
Bersama-sama dengan para Habib dan Ulama lainnya, Habib Abdurrahman Al-Habsyi membimbing dan mengajar masyarakat Aceh, sekaligus menjadi penasihat kepada Sultan Aceh, baik yang berhubungan dengan masalah keagamaan, sosial, politik sampai kepada pertahanan. Kerena kelebihannya dalam ilmu agama dan ilmu pemerintahan, Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi diminta Sultan Aceh untuk pindah ke wilayah utara Aceh dan diberi kehormatan dengan diangkat sebagai Teuku Chik, jabatan yang dibentuk Sultan untuk menggantikan peranan Uleebalang sebelumnya, yang memiliki kekuasaan meliputi daerah Peusangan, Bugak, Pante Sidom, Monklayu, Teluk Iboh, Maney, Lapang, Paya Kambi, Nisam sampai Cunda dan sekitarnya sebagaimana yang tercantum dalam dokumen bertahun 1224 H (1800 M), 1270 H (1855 M) dan 1289 H (1872 M) di atas logo cop Sekureng yang merupakan surat resmi Kesultanan Aceh Darussalam di tandatangani oleh Sultan Mahmud Syah dan Sultan Mansyur Syah yang ditemukan di rumah Sayed Abdurrahman bin Sayed Burhanuddin bin Sayed Abdurrahman bin Habib Shafi Al-Habsyi di Panton Labu Aceh Utara.
Dari dokumen-dokumen tersebut pula diketahui bahwa tugas Habib Abdurrahman bukan hanya mengurus administrasi pemerintahan semata, namun sekaligus sebagai seorang hakim (Qadhi) yang memutuskan perselisihan menurut hukum agama, Imam masjid, khatib jum’at, ulama sampai kepada wali hakim dalam pernikahan ataupun perceraian fasakh. Disebutkan pula tugas sebagai penerima waqaf mewakili Sultan, mengumpulkan pajak nangroe untuk Sultan dan beberapa tugas sosial lainnya. Dalam sebuah dokumen yang bertahun 1785 M (1206 H) bahkan disebutkan bahwa Habib Abdurrahman telah mengusir hama tikus yang merusak padi masyarakat di sekitar wilayah kekuasaannya, Peusangan dan sekitarnya. Atas kedudukannya tersebut, Habib Abdurrahman dan anak keturunannya kemudian dianugrahkan tanah luas oleh Sultan yang terbentang di antara Jeumpa sampai Monklayu Gandapura.
Menurut penelitian Sayed Dahlan yang dikuatkan dengan dokumen Kesultanan Aceh bertahun 1224 H (1800 M) yang ditandatangani Sultan Mahmud Syah, Habib Abdurrahman diangkat menjadi Bentara Laksamana karena memiliki kelebihan dalam bidang kemiliteran dan kelautan, yang bertugas menghalau kapal-kapal perang penjajah Belanda yang ingin menguasai Aceh. Markas besar beliau adalah di delta Sungai Krueng Tingkeum Monklayu yang sangat strategis. Maka sejak saat itu Habib Abdurrahman kemudian tinggal di Monklayu sebagai tokoh pemerintah dan ulama yang dipercaya Sultan yang seterusnya dilanjutkan oleh anak keturunan beliau.
Sejak Habib Abdurrahman menjadi Teuku Chik yang berkedudukan di Monklayu, maka mulai berkembanglah daerah tersebut, terutama Kuala Ceurapee menjadi salah satu daerah pelabuhan yang ramai dikunjungi para pedagang, baik dalam dan luar negeri. Tempatnya yang strategis di delta sungai yang dapat menghubungkan dengan daerah hulu sungai sebagai sarana hubungan yang penting pada masa itu. Bersamaan dengan itu tumbuhlah pelabuhan-pelabuhan kecil seperti pelabuhan Kuala Peusangan (sekarang Jangka) yang terkenal memiliki hubungan dagang dengan Pulau Pinang Malaysia dan menjadi kota satelit perdagangan di sekitar utara Aceh. Hikayat-hikayat yang dijumpai disekitar daerah Kuala Peusangan/Jangka ataupun Kuala Ceurapee dan Monklayu menggambarkan bagaimana kemakmuran masyarakat di sekitar pelabuhan yang sangat sibuk dan penuh dengan perdagangan rempah dan hasil bumi lainnya. Itulah sebabnya pada awal abad 20an, Kota Bugak dan Kewedanaan Peusangan, yang sekarang menjadi Matang Glumpang berkembang pesat menjadi sentra bisnis yang menampung hasil bumi dari wilayah sekitarnya. Kemajuan daerah ini pada awal 1930an dibuktikan dengan berdirinya perguruan tinggi (al-Jami’ah) yang akan menjadi cikal bakal Universitas Al-Muslim. Pendeklarasian PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) di tempat ini sudah menggambarkan kedudukan startegisnya.
Di ujung hayatnya, sekitar pertengahan abad ke 19 M (1850-1880 an M), bertepatan dengan dimulainya serangan-serangan Kolonialis Belanda terhadap Aceh, maka beberapa kapal armada laut Kesultanan Aceh ditempatkan di sekitar delta sungai Krueng Tiengkem, di Monklayu yang sangat strategis. Karena Habib Abdurrahman adalah Teuku Chik di Monklayu, maka secara otomatis Sultan memberikan tugas untuk menjaga armada kapal perang Kesultanan Aceh. Menurut cerita yang berkembang pada anak cucu beliau, Habib Abdurrahman ikut memimpin perlawanan terhadap Kolonialis Belanda, terutama dalam memimpin armada kapal perang dengan jabatan sebagai Bentara Laksamana yang berkedudukan di Monklayu.
Menurut Sayed Dahlan yang didasarkan pada penuturan dan cerita nenek moyang beliau, setelah menyerahkan tugas-tugasnya kepada anak sulungnya bernama Habib Husein di Monklayu, maka Habib Abdurrahman hidup dan menetap di sekitar Pante Sidom, Bugak, Peusangan sebagaimana juga tercantum dalam dokumen bertahun 1206 H atau sekitar tahun 1785 M yang menerangkan tentang aktivitas Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi. Sedangkan dokumen bertahun 1224 H atau sekitar 1800 M, yang berlogo Sultan Muhammad Syah, menerangkan tentang kehidupan Habib Abdurrahman dengan segala aktivitasnya sebagai seorang penguasa disekitar Bugak, Pante Sidom, Monklayu dan lainnya.
Setelah menjalankan kewajibannya, Habib Abdurrahman wafat pada usia 150an tahun, yang jika dihitung dari tahun wafat anak beliau Habib Husein pada 1304 H dikurangi sekitar 25-30 tahun lebih awal, maka beliau diperkirakan wafat pada sekitar tahun 1280an H atau 1860an M dan dimaqamkan di Pante Sidom, Bugak. Itulah sebabnya beliau dikenal oleh masyarakatnya sebagai Habib Bugak.
Menurut penuturan Sayed Dahlan, anak tertua Habib Abdurrahman bernama Habib Husein bin Abdurrahman AlHabsyi berangkat ke Mekkah untuk menunaikan amanah Habib Abdurrahman, termasuk untuk mengurus harta warisan beliau di Mekkah. Diantaranya berupa rumah disekitar Ka’bah sebagai warisan turun temurun keluarga besar Al-Habsyi. Karena mendapat nikmat dan penghormatan yang besar di bumi Aceh, maka Habib Husein atas wasiat Habib Abdurrahman mewaqafkan sebuah rumah untuk kepentingan masyarakat Aceh di Mekkah, baik jamaah haji ataupun mereka yang tinggal belajar. Itulah sebabnya, dalam ikrar waqaf tidak disebutkan nama pemberi waqaf, namun hanya mencantumkan Habib Bugak Asyi, untuk menghormati beliau yang telah tinggal di Bugak. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa beliau sempat berangkat ke Mekkah kembali dan mewaqafkan hartanya sendiri dengan nama Habib Bugak Asyi. Karena sudah menjadi tradisi orang-orang zahid dan saleh untuk tidak mengungkapkan jati dirinya dalam beramal soleh dan bersedekah.
G.Analisis:Habib Abdurrahman AlHabsyi=Habib Bugak Asyi (Waqif Rumah Aceh)
Dua tokoh Aceh, Dr. Al Yasa’ Abubakar (Kepala Dinas Syariat Islam NAD) dan Dr. Azman Isma’il, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh) telah mengeluarkan surat pernyataan tentang asal muasal Waqaf Habib Bugak Asyi. Seorang hartawan dan dermawan Aceh bernama Tgk. Haji Habib Bugak mewakafkan sebuah rumah di Qusyasyiah, tempat antara Marwah dengan Masjidil Haram Mekkah dan sekarang sudah berada di dalam masjid dekat dengan pintu Bab al Fatah.
Menurut akta ikrar Waqaf yang disimpan dengan baik oleh Nadzir, waqaf tersebut diikrarkan oleh Habib Bugak Asyi pada tahun 1222 Hijriyah (sekitar tahun 1800 Masehi) di depan Hakim Mahkamah Syar’iyah Mekkah. Di dalamnya disebutkan bahwa rumah tersebut diwaqafkan untuk penginapan orang yang datang dari Aceh untuk menunaikan haji, serta orang Aceh yang menetap di Mekkah. Dan Habib Bugak telah menunjuk Nadzir (pengelola) salah seorang ulama asal Aceh yang telah menetap di Mekkah. Nadzir diberi hak sesuai dengan tuntunan syariah Islam.
Habib Bugak Asyi telah mewariskan kepada masyarakat Aceh harta yang kini telah berharga lebih 5,2 Trilyun rupiah sebagai waqaf fi sabilillah berupa 2 buah aset, hotel Ajyad (Funduk Ajyad) bertingkat 25 sekitar 500 meter dari Masjidil Haram dan Menara Ajyad (Burj Ajyad) bertingkat 28 sekitar 600 meter dari Masjidil Haram. Kedua hotel besar ini mampu menampung lebih 7000 jamaah yang dilengkapi dengan infrastruktur lengkap. Pada musim haji tahun 1427 lalu, Nadzir (pengelola) Wakaf Habib Bugak Asyi telah mengganti sewa rumah jamaah haji asal Aceh selama di Mekkah sebesar sewa yang telah dibayar Pemerintah Indonesia kepada pemilik pemondokan atau hotel yang ditempati para jamaah haji asal Aceh, yang besarnya sekitar antara SR 1.100 sd SR 2.000, dengan jumlah total 13,5 milyar rupiah. Dan untuk musim haji tahun 1428 tahun ini, Nadzir Waqaf Habib Bugak mengganti biaya pemondokan haji sebesar 25 milyar rupiah.
Namun sampai saat ini belum banyak yang mengetahui secara pasti, siapa sebenarnya Habib Bugak yang telah memberikan manfaat besar kepada masyarakat Aceh, walau beliau sudah wafat. Demikian pula belum ada literatur yang memuat sejarah hidup beliau. Bahkan ketika penulis bertanya kepada Prof.Dr. Al Yasa’ Abubakar melalui sms perihal nama asli Habib Bugak, karena beliau adalah salah seorang yang diutus oleh pemda NAD mewakili perundingan di Mekkah. Beliau menjawab bahwa sampai saat ini belum ada data pasti tentang Habib Bugak, karena di ikrar waqaf tidak tercantum nama asli, hanya disebutkan Habib Bugak Asyi. Beliau juga menambahkan agar Bugak juga ditelusuri, apakah yang dimaksud Bugak yang di Bireun atau lainnya. Menurut beliau sekurangnya ada nama Kuala Bugak yang berada di Aceh Timur.
Karena terdorong oleh kehebatan karomah yang dimiliki oleh Habib Bugak ini, penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian terhadap sejarah hidup beliau. Karena menurut penulis beliau adalah wali Allah yang memiliki karamah besar, bahkan karomahnya tidak hilang dengan meninggalnya beliau, bahkan bertambah-tambah seperti yang terjadi pada waqaf yang beliau berikan. Berawal dari sebuah rumah yang mampu menampung puluhan orang, kini telah menjadi hotel besar yang mampu menampung 7000 orang dan menghasilkan dana besar untuk kepentingan perjuangan di jalan Allah.

Analisis Pertama: Bugak Asyi, Asal Habib Bugak
Bugak Asyi dalam bahasa Arab artinya daerah Bugak dalam wilayah Aceh. Dalam tulisan Arab, Bugak terdiri dari huruf: ba, waw, kaf, alif dan hamzah. Maka harus ditelusuri sebuah wilayah, daerah, kampong atau mukim yang bernama Bugak dengan huruf-huruf di atas dalam seluruh Aceh, terutama yang termasuk dalam wilayah Kesultanan Aceh Darussalam pada sekitar tahun 1800an, atau tahun dibuatnya ikrar waqaf.
Menurut penelusuran penulis, untuk saat ini ada beberapa yang berkaitan dengan Bugak. Pertama, Bugak yang masuk dalam wilayah Peusangan, Matang Glumpangdua di Kabupaten Bireuen. Menurut mantan Bupati Bireuen, Mustafa A.Glanggang, daerah Bugak tanpa tambahan kata di muka atau belakang, hanya terdapat di wilayah Bireuen saja dan tidak ada terdapat di wilayah/kabupaten lainnya. Menurut sejarahnya, Bugak (sekarang jadi bagian kecamatan Jangka) dahulunya adalah sebuah pusat kota berdekatan dengan daerah pesisir Kuala Peusangan dan Monklayu. Bugak menjadi pertemuan dari kedua kota pelabuhan tersebut dan berkembang menjadi kota maju yang dapat dilihat bekas-bekas peninggalannya hingga kini berupa rumah besar dan mewah serta toko tua yang menjadi tempat tinggal para hartawan yang berprofesi sebagai tuan tanah, saudagar dan lainnya. Dalam sebuah dokumen yang dikeluarkan oleh Sultan Mansyur Syah bertahun 1278 H lengkap dengan cop sekureng, disebutkan sebuah wilayah bernama Bugak yang menjadi wilayah Kesultanan Aceh Darussalam. Di antara kata Bugak disebutkan pula beberapa nama wilayah lain seperti Glumpang Dua, Kejrun Kuala, Bugak, Pante Sidom, Peusangan, Monklayu dan lainnya, yang sebagian nama-nama tersebut memang masih eksis sampai sekarang yang menjadi bagian dari wilayah kecamatan Peusangan, kecamatan Jangka dan kecamatan Gandapura yang terletak di sekitar Matang atau Kabupaten Bireuen.
Kedua, Kuala Bugak, terletak di Peurelak Aceh Timur. Sampai saat ini penulis belum mendapatkan dasar-dasar yang menguatkan bahwa wilayah ini yang sebut Bugak. Disamping karena ada tambahan Kuala di depannya, kehidupan sosial masyarakatpun di sekitar Kuala Bugak tidak mendukung fakta. Setelah mengadakan survey di sekitar Kuala Bugak, penulis bertambah yakin, bahwa Kuala Bugak bukanlah daerah yang dimaksud, karena di sekitar daerah tersebut tidak terdapat situs atau peninggalan dari seorang Habib atau keturunan Rasulullah yang memiliki peranan besar. Penulis hanya menemui beberapa keturunan sayyid yang tinggal sebagai nelayan empat generasi lalu, yang berasal dari Malaysia. Kondisi sosial ekonomi yang memprihatinkan juga tidak menggambarkan peran Kuala Bugak sebagai sebuah pusat perekonomian pada masa itu.
Ketiga, Bugak-Bugak lain. Diantaranya ada yang menyebutkan Matang Buga, dan lainnya. Namun sejauh ini penulis belum mendapat fakta yang berkaitan dengan obyek yang diteliti. Dengan kata lainnya, tidak adanya dasar fakta yang dapat mengaitkannya sebagai wilayah yang dinamakan Bugak, sebagaimana dimaksud pada ikrar waqaf tersebut.

Hipotesa: Berdasarkan beberapa hasil survey dan analisisnya tersebut di atas, maka dapat disimpulkan untuk sementara bahwa Bugak yang terdapat di sekitar kecamatan Jangka, adalah wilayah yang memiliki peluang besar sebagai Bugak yang disebutkan pada perjanjian ikrar waqaf tersebut. Disamping analisis di atas, ada beberapa fakta yang memperkuat dugaan tersebut sebagaimana akan dibahas selanjutnya.

Analisis Kedua: Habib dan Keturunannya di Bugak
Masayarakat Nusantara, khususnya di Aceh telah memberikan gelar Habib kepada para keturunan Rasulullah dari keturunan Sayyidina Husein bin Ali ataupun dari keturunan Sayyidina Hasan bin Ali, biasa juga disebut dengan Sayyid atau Syarief. Gelar Habib biasanya hanya diberikan kepada para pemuka atau tokoh yang telah lanjut usia dan memiliki pengetahuan serta keistimewaan dalam masyarakatnya. Biasanya para Habib adalah seorang tokoh yang berpengaruh serta memiliki pengetahuan luas yang dijadikan pemimpin keagamaan yang memiliki otoritas keagamaan kepada masyarakat muslim. Disamping memiliki kharisma yang besar, biasanya juga memiliki kelebihan-kelebihan supra-natural atau secara spiritual. Boleh dikata bahwa Habib adalah para pemuka atau Ulama dikalangan para sayyid ataupun syarief. Masyarakat yang bukan keturunan Rasulullah, tidak akan diberikan gelar Habib, bahkan mereka tidak biasa atau tidak berani memakai gelar terhormat tersebut. (Lihat pembahasan sebelumnya menurut Snouck dan Muhammad Said)
Di sekitar daerah Bugak, terdapat banyak keturunan Sayyid, terutama dari keturunan Jamalullayl, al-Mahdali, Alaydrus dan mayoritasnya adalah Al-Habsyi. Keturunan Al-Habsyi sangat mendominasi, terutama yang berasal dari sekitar Monklayu. Menurut penelitian dan penelusuran penulis, kebanyakan Sayyid di sekitar Bugak adalah dari keturunan Al-Habsyi. Keturunan ini berasal dari Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi yang hingga saat ini sudah turun temurun menjadi 8 generasi. Menurut beberapa Orang Tuha dan Tgk. Imeum di sekitar Bugak, Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi adalah salah seorang yang pertama membuka Bugak dan memiliki kedudukan terhormat sebagai wakil Sultan. Hal ini diperkuat dengan dokumen yang dikeluarkan Sultan Mansyur Syah bertahun 1270 H/ 1825 M yang menyebutkan dengan terang nama Habib Abdurrahman dengan Bugak.

Analisis Ketiga: Kunyah Habib Abdurrahman = Habib Bugak
Menurut tradisi kaum Hadramiyin (bangsa Arab) yang datang ke Nusantara, biasanya mereka memiliki kunyah (nama gelar) yang kadangkala dinisbatkan kepada tempat tinggal ataupun maqamnya seperti misalnya Sunan Bonang, Sunan Ampel, Pangeran Jayakarta, Habib Chik Dianjung dan dikuti oleh Ulama, termasuk di Aceh seperti Maulana Syiah Kuala dan lain-lainnya. Demikian pula dengan Habib Abdurrahman, menurut tradisi memiliki nama gelar yang dikenal oleh kaum keluarganya sebagai Habib Bugak, karena beliau tinggal di Bugak.
Menurut penelitian penulis di sekitar Bugak dan wilayah yang berhampiran dengannya, tidak ada seorang Habib yang melebihi kemasyhuran Habib Abdurrahman bin Alwi, karena beliau adalah Teungku Chik dan kepercayaan Sultan Aceh untuk wilayah Bugak dan sekitarnya yang memiliki wewenang pemerintahan sekaligus wewenang keagamaan, yang jarang diperoleh seorang pembesar sebagaimana tercantum dalam dokumen sultan tahun 1206 H dan lainnya. Dan sampai saat ini belum penulis temukan seorang Habib yang memakai kunyah Habib Bugak kecuali kepada Habib Abdurrahman bin Alwi.

Analisis Keempat: Masa Hidup Habib Abdurrahman Berdekatan Dengan Ikrar Waqaf
Ikrar waqaf Habib Bugak di Mekkah terjadi pada tahun 1222 H. Sementara dokumen Kesultanan Aceh yang ditandatangani oleh Sultan Mahmudsyah pada tahun 1206 H dan dokumen Kesultanan Aceh yang ditandatangani oleh Sultan Mansyur Syah pada tahun 1270 H menyebutkan dengan tegas nama dan tugas Sayyid Abdurrahman bin Alwi atau Habib Abdurrahman bin Alwi. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa Habib Abdurrahman pernah hidup di Bugak sebagai orang kepercayaan Sultan Aceh Darussalam antara tahun 1206 H sampai dengan tahun 1270 H, hampir bersesuaian dengan tahun waqaf di buat pada tahun 1222 H. Bahkan ada dokumen Sultan yang menyebutkan kuasa Habib pada tahun 1224 H.

Analisis Kelima: Waqif adalah Habib Hartawan-Dermawan Dari Bugak
Sebagaimana dinyatakan Dr. Al Yasa’, bahwa waqif mestilah seorang Habib dari Bugak yang hartawan lagi dermawan. Harta waqaf di Mekkah tersebut boleh jadi beliau beli lalu diwaqafkan atau memang harta warisan nenek moyang beliau dan beliau waqafkan mengingat banyaknya nikmat yang diperoleh di Aceh.
Menurut penelusuran penulis, di daerah Bugak dan sekitarnya, belum ditemukan dari kalangan Habib yang melebihi Habib Abdurrahman bin Alwi AlHabsyi serta anak keturunannya dalam hal kehormatan maupun kehartawanannya. Hal ini dibuktikan oleh beberapa dokumen yang ditandatangani Sultan Aceh yang menyebut wilayah kekuasaan yang dimiliki oleh Habib Abdurrahman dan keturunannya. Sebagai orang yang terpandang, berpangkat serta dekat dengan Sultan, tentulah beliau memiliki banyak konsesi yang diberikan Sultan atau para uleebalang kepada beliau yang menjadikan beliau sebagai salah seorang hartawan di Bugak dan sekitarnya pada masa itu. Hal serupa juga disampaikan oleh keturunan beliau dan diperkuat dengan dokumen Kesultanan. Namun pada zaman revolusi sosial, terutama pasca perang cumbok antara uleebalang dengan ulama, banyak harta benda miliki uleebalang yang disita para ulama, termasuklah tanah-tanah yang selama ini di bawah kendali Habib Abdurrahman.
Jika dibandingkan harta yang diperolehnya ketika berada di Aceh, maka tentu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan harta warisan yang beliau tinggalkan di Mekkah pada zaman itu. Dan pada umumnya mereka yang datang dari Arab yang penuh padang pasir dan sudah tinggal di Aceh, akan tetap memilih tinggal di sini, tentu karena alamnya bagaikan surga. Mungkin inilah salah satu yang menjadi pertimbangan Habib Bugak mewaqafkan hartanya di Mekah karena ketertarikan yang besar kepada alam Aceh. Maka adalah sangat wajar apabila beliau mewaqafkan hartanya di Mekah, namun khusus untuk kepentingan masyarakat Aceh, tempat beliau mendapat kenikmatan yang besar.

H. Kesimpulan
Kesultanan Aceh Darussalam adalah salah satu kesultanan di Nusantara yang memiliki peran besar dalam proses Islamisasi yang mendapat dukungan dari Syarief Mekkah. Adapun hubungan antara Kesultanan Aceh dengan Syarief Mekkah ditandai oleh utusan-utusan dari kalangan Habib, Syekh dan Ulama yang datang silih berganti dan memiliki perannya masing-masing. Diantara utusan itu terdapat nama yang sudah populer seperti Habib Abu Bakar Balfaqih yang dikenal dengan Habib Diajung. Namun banyak pula yang tidak terekam dalam litertur sejarah Aceh, seperti Habib Abdurrahman bin Alwi Alhabsyi yang memiliki peran cukup signifikan dalam rekonsiliasi masyarakat Aceh pasca pertikaian kalangan Sayyid dan Uleebalang.
Dari bukti-bukti dokumen yang sah dan ditandatangani oleh Sultan Muhammad Syah dan Sultan Mansyur Syah, maka diketahui bahwa Habib Abdurrahman bin Alwi AlHabsyi adalah seorang kepercayaan Sultan dalam mengurus roda pemerintahan sekaligus dalam menjalankan hukum agama, baik sebagai hakim, wali maupun khatib dan mubaligh. Itulah sebabnya Habib Abdurrahman mendapat kehormatan masyarakat dan mendapat rizki berlimpah ruah yang menjadikan beliau salah satu hartawan di daerah Bugak dan sekitarnya. Sebagai seorang Habib, keturunan Rasulullah yang zahid, tentu beliau adalah seorang yang dermawan dan murah hati dalam membantu masyarakatnya.
Sehubungan dengan waqaf Habib Bugak, apakah waqif dari rumah Aceh adalah Habib Abdurrahman bin Alwi AlHabsyi. Maka dengan bertaqwa dan berserah diri kepada Allah Yang Maha Tahu sepenuhnya, dengan segala kekuarangan analisis dan sumber-sumber yang diperoleh, untuk sementara ini, sampai adanya bukti yang lebih kuat untuk membenarkannya ataupun menyanggahnya, penulis berkesimpulan bahwa yang dimaksud Habib Bugak dalam ikrar waqaf rumah Aceh adalah Habib Abdurrahman bin Alwi AlHabsyi yang datang dari Mekkah pada sekitar pertengahan abad 18an sebagai utusan Syarief Mekkah ke Bandar Aceh, Kesultanan Aceh Darussalam.
Penelitian dan penelusuran ini adalah langkah yang sangat awal sekali untuk memulai sebuah langkah kongkrit dan nyata dalam meneliti selanjutnya sejarah Habib Bugak ataupun Habib Abdurrahman AlHabsyi, baik beliau adalah satu orang yang sama atau berbeda. Diharapkan dengan adanya penelitian awal ini akan mendorong para cendekiawan dan ahli sejarah yang berkompeten untuk mengungkap fakta sesuai dengan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.
Kepada Allahlah kita semua berserah diri, semoga Dia Yang Maha Tahu senantiasa memberi petunjuk dan hidayahnya kepada kita semua, amin.

Tentang Peneliti & Penulis

Al-Ustadz Hilmy Bakar, adalah Pendiri dan Presiden Hilal Merah sebagai rekomendasi Mudzakarah Nasional Ulama, Habaib dan Cendekiawan Muslim ke XI di Medan Sumut. Pernah menjabat sebagai: Panglima Operasi Kemanusiaan DPP-Front Pembela Islam (FPI) dan Ormas Islam di NAD, Ketua DPP Front Pembela Islam, Wakil Ketua PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Ketua Umum Aliansi Peduli Aktivis, Kordinator Nasional Mudzakarah Ulama, Habaib dan Cendekiawan Muslim, Ketua Persaudaraan Pekerja Muslim (PPMI), Direktur R&D Universitas Islam Azzahra, Anggota Pleno Partai Bulan Bintang, Bendahara Umum Partai Daulat Rakyat, Preskom Madani Group, Pendiri dan Deputy Presiden Intelektual Muda Muslim Asia Tenggara, Direktur di beberapa Perusahaan Multinasional Malaysia dan beberapa jabatan dan konsultan di pemerintah. Dosen dan Direktur Institut Pendidikan Safa Malaysia, Ketum Yayasan Islam An-Nur NTB. Pernah aktiv di Pelajar Islam Indonesia (PII), Persekutuan Pelajar Islam Asia Tenggara (PEPIAT), Pengkajian Risalah Tauhid BKPMI, Darul Arqam dan Gerakan Mujahidin Ansharullah sebagai Kepala Staf KTWB.
Lahir di Mataram, NTB pada 01 Agustus 1966. Mendapat Pendidikan di SD Kristen Jayapura Irian (Papua) dan Madrasah Diniyah Islamiyah (1978), Madrasah Tsanawiyah Mataram (1982), Madrasah Aliyah Jogyakarta (1984), Islamic College Malaysia (1986), Ma’had Aly Al-Dakwah-Sekolah Tinggi Islam (1988), Diploma Madya Pentadbiran Perniagaan ITTAR Malaysia (1993), Pasca Sarjana Fakultas Pentadbiran Perniagaan Universiti Kebangsaan Malaysia-UKM (1995), Doktor Ekonomi-Manajemen, International Institute of Management Studies akredetasi Assocations of University and College-USA (1999).
Menulis Risalah: Problematika Umat Islam Indonesia (Furqon Press, Yogya-1983), Studi Kritis Terhadap Idiologi Pancasila di Zaman Soeharto (Tanpa Penerbit, Yogya-1983), Risalah Panduan Jihad (Annur, 1987).
Menulis buku : Ummah Melayu Kuasa Baru Abad 21 (Berita Publ. Malaysia-1994), Generasi Penyelamat Ummah (Berita Publ. Malaysia-1995), Panduan Jihad untuk Aktivis Islam (GIP-JKT, 2001), Membangun Kembali Sistem Pendidikan Kaum Muslimin (Azzahra Press, 2002). Buku yang akan terbit : Manhaj Tanzily dan Heurmenotika al-Qur’an Kontemporer dan The Acheh Renaissance. Mempersiapkan : Kecerdasan Ketujuh, Menggerakkan Kecerdasan Ilahiyah Menuju Manusia Sempurna.
Menulis di berbagai koran dan majalah nasional dan regional, terutama Malaysia. Menjadi nara sumber di berbagai seminar/konferensi nasional dan regional. Pernah diwawancarai media masa lokal dan internasional, CNN, BBC, CNBC, Al-Jazeera, Spain TV, La Monde, TheWashington Post, Newsweek dll. Pada 2001 majalah internasional ASIAWEEK meletakkannya sebagai cover dan menjuluki sebagai tokoh jembatan Moderat Islam dengan Radikal Islam di Asia Tenggara.
Sekarang tinggal di Aceh sebagai peneliti, aktivis kemanusiaan dan penggerak pembangunan ekonomi & peradaban masyarakat.
Catatan Kaki
[1] N.J. Kroom, Zaman Hindu, terjemahan Arief Effendi, Jakarta: Pembangunan, 1956, hlm. 10-12. D.G.E. Hall, A History of South East Asia, London: Macmillan & Co. Ltd., 1960, hlm. 1-5. D.H. Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15. Ma Huan, Ying-yai Sheng-lan, terjemahan dan edisi J.V.G. Mills, Hakluyt Society, 1970, hlm. 120. W.P. Groeneveldt, Historical Notes on Indonesia & Malaya Compiled from Chinese Source, Jakarta: Bharata, 1960, hlm. 209. B. Schrieke, Indonesian Sociological Studies, Part Two, The Hauge-Bandung: W. Van Hoeve Ltd, 1957, hlm. 17. M.A.P. Meilink-Roelofsz, Asian Trade and European Influence in the Indonesian Archipelago between 1500 and abaout 1630, The Hague: Martinus Nijhoff, 1962, hlm. 354.
[2] Rita Rose di Meglio, “Arab Trade with Indonesia and the Malay Peninsula from the 8th to the 16th Century”. Papers on Islamic History II, Islam and the Trade of Asia: A Colloquium, edited by D.S. Ricard, University of Pennsylvania Press 1970, hlm. 115 (catatan no.29). S.M.N. Al-Attas, “Prelimenary Statement on A General Theory of the Islamization”, dalam Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969, hlm. 11. Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, Medan: Panitia Seminar, 1963, hlm. 87, 207. T.D. Situmorang dan A. Teeuw, Sejarah Melayu, Jakarta: Balai Pustaka, 1958, hlm. 65-66. T. Ibrahim Alfian (ed). Kronika Pasai, Yogjakarta: Gajah Mada University Press, 1973, hlm. 100. Muhammad Yamin, Gajah Mada, Jakarta: Balai Pustaka, 1972, hlm. 60. Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, Medan: Waspada, 1981. Teuku Iskandar, De Hikayat Atjeh, (S-gravenhage: NV. De Nederlanshe Boek-en Steendrukkerij V. H.L. Smits, 1959). Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1996)
[3] Husein Djajaningrat, Kesultanan Aceh: Suatu Pembahasan Tentang Sejarah Kesultanan Aceh Berdasarkan Bahan-bahan Yang Terdapat Dalam Karya Melayu, Teuku Hamid (terj.) (Banda Aceh: Depdikbud DI Aceh. 1983). Siti Hawa Saleh (edt), Bustanus as-Salatin, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1992). Denys Lombard, Kerajaan Aceh, Jaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636, (terj), (Jakarta: Balai Pustaka,1992). C. Snouck Hurgronje, Een- Mekkaansh Gezantscap Naar Atjeh in 1683”, BKI 65, (1991) hlm. 144. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 196. A. Hasymi, 59 Aceh Merdeka Dibawah Pemerintah Ratu (Jakarta: Bulan Bintang, 1997). Hlm. 32-40.
[4] Siddiq Fadhil, Rumpun Melayu Dalam Era Globalisasi, Makalah Seminar Serantau, (Kuala Lumpur: PEPIAT: 1993). Lihat juga karya beliau, Minda Melayu Baru, (Kuala Lumpur: IKD,1994). Hilmy Bakar Almascaty, Ummah Melayu Kuasa Baru Dunia Abad 21. (Kuala Lumpur: Berita Publishing, 1994)
[5] Lihat : Ali Hasymi, Perang Aceh, (Jakarta: Beuna: 1983). Ibrahim Alfian (edt), Perang Kolonial Belanda di Aceh, (Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, 1997). Lihat juga, Perang Di Jalan Allah, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987)
[6] Lihat misalnya : Edwin M. Luoeb, Sumatra Its History and People, (Kuala Lumpur: Oxford Univ. Press, 1972). Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, Medan: Waspada, 1981. Muhammad Ibrahim, Sejarah Daerah Provinsi DI Aceh, (Jakarta: Depdikbud, 1991). Abdul Hadi Arifin, Malikussaleh, (Lhokseumawe: Univ. Malikussaleh Press, 2005). Zakaria Ahmad, Sekitar Keradjaan Atjeh Dalam Tahun 1520-1675, (Medan: Monara, tt). C. Snouck Hurgronje, The Acehnese, (Leiden: AWS. O’Sullivan, 1906). SMN. Al-Attas, The Mysticism of Hamzah Fansuri, (Kuala Lumpur: UM Press, 1970). C.A.O. van Nieuwenhuize, Samsu’l-Din van Pasai (Leiden, 1945). D.A. Rinkers, Abdurrauf van Singkel, (Leiden: 1909). Ahmad Daudi, Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Sejarah Hidup, Karya dan Pemikiran (Banda Aceh: P3KI IAIN Ar-Raniry, 2006). Ismail Yakkub, Tgk. Tjik Di Tiro, (Jakarta: Bulan Bintang, 1952).
[7] Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori, disebutkan hanya Kitab Allah dan Sunnahku. Namun banyak yang meriwayatkan dengan bunyi di atas, seperti riwayat dari Imam Ja’far Shodiq dan lain-lain
[8] Lihat : Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, (Medan: Waspada, 1981).
[9] C. Snouck Hurgronje, The Acehnese, (Leiden: AWS. O’Sullivan, 1906).
[10] ibid
[11] Lihat misalnya : A.K. Dasgupta, Aceh in Indonesia Trade and Politic 1600-1641. Disertasi, Cornell Univ. 1962
[12] TD. Situmorang, op.cit., hlm. 59-61
[13] Nuruddin ar-Raniry, Bustanu’l-Salatin, hlm. 32-34. A.H. Johns, “Islam in Southeast Asia: Reflections and New Directions”, Indonesia, Cornell Modern Indonesia Project, 1975, no.19. hlm. 45
[14] Lihat : Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, (Medan: Waspada, 1981).
[15] Fadhlullah Jamil M.A., “Kerajaan Aceh Darussalam dan Hubungannya Dengan Semenanjung Melayu” dan Wan Hussein Azmi, “Islam di Aceh Masuk dan Berkembangnya Hingga Abad XVI”.dalam Ali Hasjmi, (ed). Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, (Bandung: Al-Maarif, 1981). Hlm.214-236.
[16] Lihat Denys Lombard, op.cit.
[17] Nuruddin ar-Raniry, Bustanu’l-Salatin, hlm.37-42. Lihat juga: T. Iskandar, De Hikajat Atjeh. Hlm.137-153. Encyclopaedia of Islam, artikel tentang ”Shaikh al-Islam”.
[18] Ahmad Daudy, Syekh Nuruddin Ar-Raniry, op.cit. hlm. 4-5.
[19] M. Hasbi Amiruddin, “Peran Ulama Dalam Penyelesaian Konflik Di Aceh”, dalam Anwar Daud & Husaini Husda, Peristiwa Cumbok di Aceh,(Banda Aceh: Dinas Kebudayaan DI Aceh, 2006), hlm. 135
[20] J. Kathirithamby-Well, “Achenese Control over West Sumatra up to the Treaty of 1663”. Journal of Southeast Asian History, Jilid X, no. 3, Desember 1969. hlm. 464
[21] Ahmad Daudi, op.cit. 39
[22] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 196.C. Snouck Hurgronje, Een- Mekkaansh Gezantscap Naar Atjeh in 1683”, BKI 65, (1991) hlm. 144. A. Hasymi, 59 Aceh Merdeka Dibawah Pemerintah Ratu (Jakarta: Bulan Bintang, 1997). Hlm. 32-40. D.A. Abdurrauf van Singkel, Leiden, 1909.
[23] Muhammad Said, ibid.
[24] ibid
[25] A. Mukti Ali, An Introduction to Government of Aceh’s Sultanate, (Yogyakarta: Nida, 1970) hlm. 12.
[26] Muhammad Said, ibid
[27] Lihat: Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (Bandung: Mizan, 1995)
[28] Sampai saat ini belum ditemukan literatur yang menguatkan sebab-sebab kedatangan Habib Abdurrahman Al-Habsyi ke Aceh sebagai utusan resmi Syarief Mekkah. Menurut cerita yang berkembang di kalangan keturunan beliau, sebagaimana diceritakan Sayed Dahlan bin Abdurrahman bin Shafi al-Habsyi (Lhoksemawe,60 th), Sayed Zein bin Abdullah bin Zein bin Shafi al-Habsyi (Monklayu,65 th)) dan Sayed Muhammad bin Husein bin Shafi (Sampoinet, 80 th), bahwa kakeknya Habib Abdurrahman datang ke Aceh bersama rombongan utusan dari Syarief Mekkah. Hal ini diperkuat dengan beberapa dokumen Kesultanan Aceh Darussalam yang bertahun 1785 M dan 1800 M, yang ditandatangani oleh Sultan Muhammad Syah dan Sultan Manshur Syah yang memberikan tugas-tugas Sultan kepada Habib Abdurrahman sebagai penguasa lokal, termasuk urusan agama. Secara rasional mana mungkin Habib Abdurrahman mendapat kepercayaan Sultan, apabila beliau tidak memiliki kedekatan dengan pusat kekuasaan di Banda Aceh, tempat dikeluarkannya surat tersebut. Disamping Habib Abdurrahman memang memiliki kepatutan dan kelayakan sebagai orang kepercayaan Sultan.
Labels: habib bugak
Rabu, 22 Februari 2012 Makam Hartawan Arab Masih Telantar : Rakyat Aceh (sambungan)

Untuk mencapai lokasi pemakaman Habib Bugak di Dusun Pante Sidom Desa Pante Peusangan, Kecamatan Jangka, harus berjalan kaki diantara jalan setapak dan pematang sawah sejauh 700 meter. Komplek makam hartawan yang mewakafkan hotel bernilai Rp 5,5 triliun di Kota Mekkah itu, tampak masih terabaikan dan luput dari perhatian.

Komplek pemakaman di tengah areal persawahan dengan luas 50 X 80 meter itu, merupakan satu-satunya situs sejarah Habib Bugak yang masih tersisa. Di lokasi kuburan tempat bersemayamnya mantan penguasa pesisir utara Aceh dan keluarga, telah dipugari dengan pagar kawat berduri. 18 batang pohon kelapa serta puluhan pohon pinang setinggi 10 meter, berjejer di pinggir pagar dalam komplek situs Habib Bugak.


Selain makam Habib Abdurrahman bin Alwi Al Habsy yang diapit dua kuburan keluarga, di tempat itu juga terlihat sejumlah batu besar yang diyakini nisan kerabat dekat Habib Bugak. Selama ini situs sejarah itu nyaris dilupakan, bahkan makam hartawan Arab yang mewakafkan hartanya untuk masyarakat Aceh di Mekkah masih terlantar.

Setelah ratusan tahun puncak kegemilangan kesultanan Aceh Darussalam, kisah Habib Bugak telah terlupakan meski warisan yang ditinggalkan terus memberi manfaat besar, karena tumbuh dan kian berkembang demi kepentingan syiar Islam. Khususnya bagi masyarakat Aceh yang menjadi tamu Allah, maupun yang menetap di Kota Mekkah.

Menurut keterangan yang dihimpun Rakyat Aceh dari beberapa sumber, Sayed Zein bin Habib Abdullah bin Habib Zein bin Shafi Al-Habsyi dan dari Sayed Dahlan bin Sayed Abdurrahman bin Habib Shafi Al-Habsyi yang dikuatkan dengan lembaran silsilah yang tersimpan pada keluarga Alm. Sayed Abdurrahman bin Habib Abdullah bin Habib Zein bin Habib Shafi Al-Habsyi, silsilah Habib Abdurrahman adalah berasal dari Mekkah yang bersambung dengan garis Rasulullah saw, beliau adalah anaknya Habib Alwi bin Syekh Al-Habsyi.

Secara lengkap nasab beliau adalah Habib Abdurrahman bin Alwi bin Syekh bin Hasyim bin Abu Bakar bin Muhammad bin Alwi bin Abu Bakar Al-Habsyi bin Ali bin Ahmad bin Muhammad Hasadillah bin Hasan Attrabi bin Ali bin Fakeh Muqaddam bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Baalwi Al-Habsyi bin Abdullah bin Ahmad Al-Muhadjir bin Isa Al-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Jafar Siddiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husein bin Sayyidah Fatimah (Ali bin Abi Thalib) binti Sayyidina Muhammad Rasulullah saw.

Sedangkan jika diurut dari bawah saat ini, maka Habib Abdurrahman adalah generasi yang ke 8.
Sayed Maimun (Bugak,1958-skrg) bin Sayed Abdurrahman (Bugak,1927-2003) bin Habib Abdullah (Bugak,1903-1984) bin Habib Zein (Monklayu,w.?) bin Habib Shofi (Idi,w.?) bin Habib Ahmad (Monklayu, w.?) bin Habib Husein (Monklayu, w.1304 H / 1880 M) bin Habib Abdurrahman (Bugak-Pante Sidom, w.?) bin Alwi (Mekkah) bin Syekh dan seterusnya.

Banyak orang mengkritik tradisi keturunan Rasulullah (ahlul bayt) yang selalu menjaga dan memelihara silsilah keturunan. Namun bagi para keturunan Rasulullah, hal ini adalah sangat penting, terutama dari segi fiqih, agar keturunan Rasulullah tetap menjalankan syariatnya. Salah satunya adalah keturunan Rasulullah tidak boleh atau diharamkan memakan harta zakat atau shadaqah, tetapi boleh menerima hadiyah. (Tamat) (Disarikan Dari Proyek Penelitian ”Hubungan Aceh-Arab

Click here to edit tex

al yasa abubakar
MENGENAL WAKAF HABIB BUGAK ASYI
  • September 21, 2012 6:58 am

Salah seorang hartawan dan dermawan Aceh  Tgk Haji Habib Bugak  mewakafkan sebuah rumah dua tingkat beserta tanahnya yang terletak di daerah Qusyasyiah (antara Marwah dan Mesjid Haram,  di sekitar pintu Bab al Fatah sekarang). Tanah dan rumah wakaf ini sering disebut dengan Baitul Asyi, dan kadang-kadang disebut juga dengan Wakaf Habib Bugak Asyi.

Menurut akta Ikrar Wakaf yang disimpan dengan baik oleh Nazhir, wakaf tersebut diikrarkan oleh Habib Bugak Asyi pada tanggal 18 Rabi’ul Akhir tahun 1224 Hijriyah (sekitar tahun 1800 Masehi) di depan Hakim Mahkamah Mekkah. Di dalam ikrar wakaf disebutkan bahwa:

  1. Rumah tersebut harus digunakan untuk penginapan orang Aceh yang datang dari Aceh untuk menunaikan haji, serta orang Aceh yang menetap di Mekkah baik untuk tujuan belajar ataupun tujuan lainnya, sesuai dengan daya tampung rumah tersebut.
  2. Sekiranya karena sesuatu sebab jemaah dari Aceh tidak ada lagi yang datang ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan orang aceh pun tidak ada lagi yang bermukim di mekkah, maka manfaat tanah dan rumah wakaf ini diserahkan untuk kesejahteraan para pelajar dan mahasiswa asal Jawi–Melayu (istilah yang waktu itu digunakan untuk enunjuk wilayah Asia Tenggara) yang belajar di Mekkah al Musyarrafah.
  3. Apabila mereka inipun karena sesuatu hal sudah tidak ada lgi di Mekkah, maka tanah wakaf ini digunakan untuk kemaslahatan para mahasiswa yang belajar agama di Tanah Haram.
  4. sekiranya karena sesuatu hal tidak ada lagi mahasiswa yang belajar agama di Mekkah  maka wakaf ini diserahkan kepada Imam Masjid Haram asy-Syarif, dan digunakan untuk perawatan dan kemaslahatan Masjid Haram.

Untuk menjadi nazhir beliau menunjuk salah seorang ulama asal Aceh yang telah menetap di Mekkah, yaitu Syaikh Muhammad Shalih bin almarhum Syeikh Abdussalam Asyi,  dengan tugas dan kewenangan sebagai berikut:

  1. Sekiranya karena sesuatu sebab dia merasa tidak mampu lagi mengelola wakaf ini atau dia memutuskan akan pindah atau pergi dari Mekkah (misalnya pulang ke Aceh) maka dia harus menunjuk salah seorang ulama asal Aceh yang ada di Mekkah sebagai nazhir.
  2. Sekiranya dia meninggal dunia maka hak nazhir beralih kepada salah seorang anaknya yang alim yang dia tunjuk;
  3. Kalau nazhir yang ada merasa anaknya  tidak mampu mengelolawakaf, maka dia boleh menunjuk orang lain yang dia anggap mampu, sehingga pengurusan wakaf ini tidk akan terbengkalai.
  4.  Nazhir berhak memilih orang yang akan tinggal di dalam rumah wakaf sesuai dengan kapasitas rumah wakaf tersebut.
  5. Nazhir juga berhak melarang orang yang tidak dia sukai masuk ke dalam rumah wakaf serta berhak mengusir orang yang sudah dia beri izin tinggal di dalamnya apabila merugikan wkaf atau berperilaku tidak patut.
  6. Nazhir berhak menyewakan sebagian rumah wakaf untuk biaya perawatan dan biaya pengelolannya.

Di dalam akta ikrar wakaf disebutkan bahwa rumah ini terdiri atas dua lantai, mempunyai saluran pembuangan air, disebutkan jalan dan pintu masuk, batas tanah pun disebutkan secara jelas dan rinci dan beberapa keterangan lainnya. Semua yang berkaitan dengan tanah ini ikut diwakafkan, termasuk marafiq, manafi’, diwan bimanafi’ihi, tawabi’, lawahiq, dan seluruh hak lain yang melekat padanya. Semuanya sudah diwakafkan secara sempurna, karena itu tidak boleh dijual, dihibahkan, digadaikan, diwariskan, ditelantarkan atau dihancurkan dengan cara apapun. Wakaf ini harus dipertahankan menurut syarat yang telah ditentukan wakif seperti disebutkan di atas sepanjang zaman, tidak boleh terpengaruh dengan perubahan penguasa dan kebijakan. Harus dipertahankan sesuai dengan syarat yang dibuat wakif, karena begitulah ketentuan wakaf dalam agama Islam.

Adapun urutan nazhir yang telah mengelola wakaf ini sejak yang pertama sampai sekarang adalah sebagai berikut:

  1. Muhammad Shalih bin Abdussalam Asyi (1224 – 1246 H);
  2. Asiyah binti Abdullah Ba’it Asyi dan kakaknya Muhammad bin Abdullah Ba’it Asyi  (1246 – 1264 H);
  3. Mahmud bin Ahmad bin Abdullah Ba’it Asyi (1264 – 1293 H);
  4. Abdul Ghani bin Umar bin Ahmad bin Abdullah Ba’it Asyi (1293 – 1375 H);
  5. Muhammad bin Abdul Ghani bin Umar bin Ahmad Ba’it Asyi (1375 – 1392 H);
  6. Abdullah bin Abdul Ghani bin Umar Asyi dan saudaranya Shalih bin Abdul Ghani Asyi (1392 – 1408 H);
  7. Shalih bin Abdul Ghani bin Umar Asyi dan anak saudaranya Abdul Ghani bin Mahmud Abdul Ghani Asyi  (1408 – 1420 H);
  8. Abdul Ghani bin Mahmud Abdul Ghani Asyi dan sepupunya Muhammad Ahmad bin Abdullah bin abdul Ghani Asyi (1420 – 1424 H);
  9. Munir bin Abdul Ghani bin Mahmud Asyi dan Dr. Abdullathif Muhammad Balthu Balthu (1424 – sekarang);

Seperti terlihat, sejak dari pertama diikrarkan sudah ada sembilan orang/generasi nazhir yang mengelola wakaf ini, salah seorang daripadanya adalah perempuan yaitu Nazhir nomor dua. Nazhir yang sekarang tidak lagi dalam bentuk tunggal tetapi sudah merupakan Dewan Nazhir yang ditunjuk oleh Mahkamah Mekkah. Nazhir utama adalah Munir bin Abdul  Ghani, serta Syekh Dr. Abdullathif Balthu yang ditunjuk sebagai penasehat dan tenaga ahli, serta  Khalid bin Abdurrahim Abdul Wahab Asyi yang ditunjuk sebagai sekrtetaris.

Waktu perluasan Mesjid Haram yang pertama, dimasa pemerintahan Raja Sa’ud bin Abdul Aziz, pada tahun 50-an, rumah wakaf ini masuk ke dalam wilayah yang harus dibebaskan dan karena itu diberi ganti rugi oleh Pemerintah Arab Saudi. Nazhir waktu itu membeli penggantinya dua buah rumah beserta tanahnya di Jiyad Bir Balilah. Sebuah rumah dekat pintu masuk  Terowongan  Jiyad  dan sebuah lagi di depan Hotel Syuhada’.  Setelah ini Nazhir masih membeli sebuah gedung berlantai empat beserta tanahnya di belakang Sekolah Menengah  Atas (Madrasah ats Tsanawiyyah) Aziziyah, dan sepetak tanah lagi di Aziziyah Selatan, yang akan dibangun gedung tempat tinggal jemaah haji, diharapkan mampu menampung sekitar 5000 jemaah. Dengan demikian sekarang ini sudah ada empat lokasi wakaf sebagai pengganti dari sebuah yang asli yang di Qusyasyiah dahulu.

Rumah wakaf ini dikelola dengan baik oleh Nazhir dan digunakan untuk tempat tinggal jamaah haji asal Aceh, tempat tinggal sebagian orang (keluarga) Aceh yang sudah menjadi penduduk Mekkah  serta tempat tinggal sebagian mahasiswa asal Aceh yang belajar di Mekkah secara berkesinambungan dari generasi ke generasi. Tetapi mulai tahun 80-an, ketika Pemerintah Saudi menukar system pengelolaan haji dari sistem Syekh menjadi sistem mu’assasah,  maka rumah wakaf ini tidak lagi ditempati jamaah haji asal Aceh. Pada system syeikh jemaah memilih langsung syeikh yang akan membimbingnya selama di Mekkah dan Syeikh inilah yang mencari/menyewa rumah untuk jemaahnya. Karena Nazhir Wakaf Habib Bugak adalah Syeikh untuk jemaah haji asal Aceh, maka jemaah Aceh yang memilih dia sebagai syeikh otomatis akan dimasukkan ke Rumah Aceh (Baitul Asyi) tersebut. Sedang pada sistem mu’assasah  pemerintahIndonesia yang menyewa rumah dan menentukan (memilih, mengundi) jemaah yang akan menempatinya dan baru sesudah itu menyerahkannya kepada syeikh (maktab) untuk dikelola. Dengan sistem ini jemaah asal Aceh tidak dapat lagi memilih rumah Aceh (wakaf Habib Bugak) ini sebagai tempat tinggal mereka. Mereka akan terpencar di berbagai tempat dan berpindah-pindah setiap tahunnya sesuai dengan undian yang ditetapkan oleh PemerintahIndonesia.

Pada musim haji tahun 2002 (1423 H) Nazhir Wakaf Habib  Bugak Asyi waktu itu, Syekh abdul Ghani Asyi, menjamu Bapak Abdullah Puteh, Gubernur Aceh waktu itu yang pergi menunaikan haji. Dalam jamuan ini hadir beberapa tokoh dan pejabat dari Aceh yang kebetulan ikut menunaikan ibadah haji, antara lain, penulis sendiri (Al Yasa’ abubakar, Kepala Dinas syari’at Islam Aceh), Bapak Tgk. Azman Ismail (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman), Bapak almarhum Tgk. Zainuddin Saman (Asisten III pada Sekretariat Gubernur) dan beberapa orang lain yang tidak penulis ingat. Pada waktu ini Nazhir menyerahkan kepada bapak Gubernur seberkas surat-surat yang berkaitan dengan Wakaf Habib Bugak ini, dengan harapan dapat diketahui dan kalau perlu dipelajari.  Dalam kesempatan ini beliau menyampaikan tiga hal yang mungkin bermanfaat untuk diketahui khalayak sebagai berikut:

  1. Karena Nazhir selama ini bersifat turun temurun, dan di Mekkah (Arab Saudi) sudah terjadi perubahan politik dankebijakan yang relatif besar (dalam rentang waktu 200 tahun), maka kewenangan nazhir menjadi relatif tidak jelas. Apalagi ada intervensi dan keinginan sementara pihak untuk membelokkan penggunaan/peruntukan wakaf ke arah yang tidak sesuai dengan syarat wakaf. Untuk itu beliau mengajukan permohonan kepada Mahkamah Mekkah agar dapat mengukuhkan kembali penggunaan/peruntukan wakaf sesuai dengan keinginan Wakif, yaitu untuk kemaslahatan jemaah haji asal Aceh dan orang Aceh yang bermukim di Mekkah. Beliau juga memohon untuk dikukuhkan sebagai  Nazhir dengan kewenangan dan tanggung jawab sesuai dengan yang tertera dalam Akta Ikrar Wakaf. Alhamdulilah permohonan ini dikabulkan Mahkamah pada tahun 1420 H (1999 M).  Diantara isi Penetapan Mahkamah ini (a) Wakaf hanya boleh digunakan untuk kemaslahatan jemaah haji asal Aceh dan tempat tinggal orang asal Aceh yang bermukim di Mekkah, (b) Syekh Abdul Ghani bin Mahmud bin Abdul Ghani Asyi dikukuhkan sebagai Nazhir dan diberi tambahan tugas dan kewenangan (c) Nazhir diperintahkan mencari investor untuk mengembangkan tanah wakaf ini sehingga dapat dioptimalkan penggunaannya.
  2. Sejak ini beliau semakin serius berusaha agar jamaah haji asal Aceh mendapat manfaat dari wakaf ini. Beliau juga menceritakan bahwa Nazhir harus membuat laporan secara berkala kepada Mahkamah tentang pengelolaan wakaf (termasuk pemanfaatannya oleh Jemaah haji asal Aceh). Untuk ini beliau menceritakan dua rencana yang sudah beliau rancang kepada Gubernur yaitu:
  3. Pertama beliau berharap sebagian jemaah haji asal Aceh dapat menempati rumah tersebut (paling kurang rumah yang di Aziziah), atau Nazhir diberi izin oleh Konsul Haji Indonesia di Jeddah  untuk mencarikan rumah untuk sebagian jemaah asal Aceh dengan uang sewa rumah Wakaf Habib Bugak tersebut. Rencana kedua beliau sedang mencari investor untuk membangun hotel/penginapan modern di atas  kedua tanah tersebut sesuai dengan tugas dan kewenangan yang diberikan Mahkamah. Untuk ini beliau mengajak pemerintah Aceh agar bersedia membangun gedung tersebut, tetapi dengan syarat investasi yang ditanamkan itu akan menjadi bagian dari wakaf.
  4. Untuk merealisasikan rencana yang pertama, beliau pada tahun 1999 telah mengirim surat kepada Menteri Agama Indonesia melalui Konsulat haji pada Kedutaan Besar Indonesia di Jeddah, memohon agar jemaah Aceh (sebagian jemaah asal Aceh) diberi izin untuk tinggal di rumah wakaf tersebut selama berada di Mekkah. Jawaban Menteri Agama waktu itu, masalah haji merupakan urusan pemerintah dengan pemerintah (G to G), karena itu keterlibatan pihak swasta tidak dapat diterima. Karena jawaban Menteri ini, Nazhir meminta bantuan Gubernur Aceh, agar mempelajari kebijakan Pemerintah Indonesia dan kalau bisa mencarikan jalan agar manfaat wakaf ini dapat dirasakan oleh jemaah asal Aceh, sesuai dengan tujuan wakif seperti tertera dalam Akta Ikrar Wakaf.
  5. Sekiranya jemaah Haji asal Aceh diberi izin tinggal pada rumah wakaf seperti beliau harapkan, maka Nazhir meminta PEMDA Aceh bersedia memilih sekitar 700 jemaah asal Aceh yang akan tinggal di rumah-rumah tersebut, sesuai dengan daya tampung yang ada pada waktu itu.

Pembicaraan antara Nazhir dengan Pemerintah Provinsi  Aceh dilanjutkan kembali dalam musim haji 2003, dengan Bapak Azwar Abubakar (Wakil Gubernur) yang waktu itu naik haji. Pada waktu ini PEMDA Aceh memberitahu/menyurati Nazhir bahwa PEMDA Aceh tidak mampu menyediakan dana untuk membangun gedung wakaf tersebut dan investor (swasta) dari Aceh pun tidak ada yang bersedia menanamkan uang sebagai wakaf (tambahan atas wakaf yang sudah ada). Dengan demikian upaya mencari investor diserahkan sepenuhnya kepad Nazhir, sedang perhatian PEMDA Aceh difokuskan pada rencana Nazhir yang pertama, menjadikan jemaah haji asal Aceh dapat mengambil manfaat dari wakaf ini. Untuk itu pada tahun 2004 Pemerintah Aceh mengirimkan utusan resmi ke Mekkah yang terdiri dari Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman, Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Aceh, Kepala Dinas Syari’at Islam  Aceh, dan Kepala Biro Keistimewaan Aceh, sedang Ketua MPU Aceh yang direncanakan ikut, tidak dapat hadir karena beradu dengan kegiatan lain, menghadiri diskusi di Australia tentang perkembanan hukum dan pelaksanaan Syari’at di Aceh). Utusan ini  membawa usul dari PEMDA Aceh agar kepada jemaah haji asal Aceh diberikan uang pengganti sewa rumah, karena itulah solusi yang paling mungkin. Utusan PEMDA juga meminta seberapa pun besarnya uang pengganti sewa tersebut, maka harus dibagikan kepada semua jemaah Aceh, jangan hanya kepada sebagian mereka. Walaupun di dalam akta ikrar wakaf disebutkan bahwa Nazhir berhak memilih sebagian jemaah untuk tinggal  di dalam rumah wakaf dan berhak melarang jemaah yang tidak dia sukai untuk tinggal disitu, utusan PEMDA meminta agar jemaah asal Aceh tidak dipilah-pilah. PEMDA sangat berharap agar fasilitas wakaf ini dapat dinikmati seluruh jemaah Haji asal Aceh, bukan hanya oleh sebagian mereka.

Pada dasarnya Nazhir setuju dengan permintaan ini, tetapi untuk dapat merealisasikannya tentu harus disetujui juga oleh PemerintahIndonesia(Departemen Agama) dan Pemerintah Arab Saudi (Departemen Haji). Untuk itu masing-masing pihak diharapkan dapat melakukan pendekatan dengan Pemerinah masing-masing dan saling memberikan informasi. Bermanfaat penulis tambahkan, ketika utusan PEMDA Aceh tiba di Jeddah beliau sedang sakit dan dirawat di rumah sakit, sehingga dua kali pertemuan terpaksa dilakukan di ruang rawat beliau di rumah sakit, dihadiri oleh beliau selaku Nazhir, dibantu Sekretaris Nazhir (Khalid) serta utusan dari Aceh. Satu pertemuan lagi, yang beliau rancang secara lebih luas, dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat Aceh di Mekkah sekitar 20 orang dilakukan di Kantor Wakaf Jeddah. Untuk ini beliau keluar sebentar dari rumah sakit dan setelah rapat selesai kembali lagi ke rumah sakit. Dalam berbagai pertemuan ini beliau secara sangsat serius mengatakan keinginannya agar utusan dari Aceh membantu beliau sehingga jemaah haji asal Aceh dpat mengambil manfaat dari rumah Wakaf habib Bugak ini secepatnya. Beliau berulang-ulang mengatakan tidak puas dan meras berdosa sebelum sebagian hasil wakaf ini dimanfaatkan oleh Jemaah haji asal Aceh, karena tugas utama beliau sebagai Nazhir adalah  menjadikan jemaah haji asal Aceh dapat mengambil manfaat dari wakaf ini.

Takdir Allah berlaku, beliau wafat beberapa minggu setelah pertemuan dengan rombongan dari Aceh, sebelum musim haji tahun 1424 H (2004 M). Setelah ini Mahkamah menunjuk sebuah Dewan Nazhir di bawah pimpinan anak beliau Munir bin Abdul Ghani Asyi sebagai ketua, serta Dr Abdul Lathif Balthu Balthu sebagai tenaga ahli/penasehat dan Khalid bin Abdurrahim bin Abdul Wahab Asyi sebagai sekretaris seperti telah diuraikan di atas.

Pada tahun 2005 Rombongan Nazhir Wakaf yang terdiri dari ketiga orang di atas berkunjung ke Aceh betemu dengan Gubernur waktu itu, Mustafa Abubakar. Pada waktu ini ditandatangani sebuah kesepakatan yang intinya:

  1. Nazhir wakaf untuk jangka pendek akan mengganti sewa rumah penginapan di Mekkah yang dibayarkan oleh jemaaah haji Aceh, maksimal sebesar sewa ril yang dibayar Konsulat HajiIndonesianamun begitu disesuaikan juga dengan kemampaun  keuangan wakaf.
  2. Teknis pelaksanaan pembayaran akan diatur oleh  Nazhir dan untuk itu PEMDA Aceh akan mengirimkan utusan untuk membantu Nazhir.
  3. PEMDA Aceh akan mengirimkan nama-nama jemaah haji asal Aceh kepada Nazhir secepat nama itu diketahui dan akan mengeluarkan kartu tanda pengenal kepada setiap jemaah asal Aceh, sesuai dengan kloter dan maktabnya.
  4. Hanya mereka yang mendapat kartu ini yang akan diberi uang pengganti sewa rumah oleh Nazhir.
  5. Konsulat haji Indonesia di Jeddah diharapkan akan memberikan data tentang rumah yang akan ditempati jemaah haji asal Aceh beserta besar uang sewanya.
  6. Untuk jangka panjang Nazhir akan membangun rumah sebagai tempat penginapan jemaah haji asal Aceh, dan setelah rumah itu selesai jemaah haji asal Aceh akan tinggal disana.
  7. Menunjuk Bapak Azman Ismail (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh) sebagai penghubung/wakil PEMDA Aceh dalamsuratmenyurat atau pembicaraan dengan Dewan Nazhir (Sekretaris Dewan Nazhir).
  8.  Sebelum dilaksanakan, kesepakatan ini perlu memperolah persetujuan dari Menteri AgamaIndonesia, Menteri Haji Arab Saudi dan Gubernur Aceh.

Kesepaktan ini ditandatangani oleh kedua belah pihak, yaitu tiga orang Nazhir yang datang ke Aceh serta wakil PEMDA Aceh yang ikut dalam pembicaraan yaitu Ketua MPU Aceh (Muslim Ibrahim), Imam Besar masjid Raya Baiturrahman (Azman Ismail), Kepala Dinas Syari’at Islam Aceh (Al Yasa’ Abubakar), Kepala Biro Sosial selaku Pejabat Asisten III SETWILDA Aceh (Saifuddin Abdurrahman) dan Kepala  Kantor Wilayah Departemen Agama Aceh (Ghazali Mohammad Syam).

Gubernur Aceh melaporkan hasil pertemuan ini kepada Menteri Agama, dan memohon saran serta petunjuk tentang tindakan yang mungkin diambil dan dikomunikasikan dengan Nazhir. Karena tidak ada keberatan dari pihak Aceh dan tidak mengganggu kebijakan pelaksanaan haji yang digariskan Pemerintah Indonesia, maka Menteri Agama Agama Indonesia memberikan persetujuan melalui Konsul Haji di Jeddah dengan tambahan syarat, kegiatan yang dilakukan oleh nazhir dan PEMDA Aceh ini tidak merusak atau bertentangan dengan rencana kerja/kesepakatan yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Arab Saudi.   Departemen Haji Arab Saudi pun memberikan dukungan, denan syarat tidak akan merugikan jemaah haji Aceh dan tidak menganggu pelakanana ibadah haji mereka.

Dengan adanya persetujuan dari kedua pemerintah ini, maka Nazhir Wakaf Habib Bugak Asyi, pada musim haji Tahun 1427 H (2006 M) merealisasikan penggantian uang sewa rumah jamaah haji asal Aceh selama di Mekkah sebesar sewa yang telah dibayar Pemerintah Indonesia kepada pemilik rumah, yang besarnya berkisar antara SR 1.100,- s/d SR 2.000,-. Uang ini dibayarkan dalam bentuk Rial Saudi diserahkan secara langsung oleh Nazhir kepada setiap jemaah. Pada tahun 1428 H (2007 M) Nazhir kembali membayarkan uang sewa kepada setiap jemaah haji asal Aceh sebesarUS$ 337.- lebih kurang   SR 1250,-. Uang ini dibayarkan dalam bentuk cek kepada setiap jemaah dan tidak dapat diuangkan di Mekkah (Arab Saudi). Cek ini harus diuangkan di Aceh pada salah satu kantor Bank BNI. Seperti terlihat jumlah yang dibayarkan Nazhir pada tahun  1428 lebih kecil dari jumlah yang dibayarkan pada tahun 1427 H, karena disesuaikan dengan kemampuan keuangan Nazhir (Wakaf). Jemaah yang menerima penggantian uang sewa rumah ini adalah jemaah yang membawa Kartu Tanda Pengenal Jemaah Haji asal Aceh yang ditandatangani oleh Gubernur Aceh.

Mengenai gedung yang dibangun di atas dua petak tanah wakaf di daerah Ajyad, sudah dilakukan oleh dua orang investor: sebuah bernama FUNDUQ AJYAD (HOTEL JIYAD, terdiri atas 25 lantai, berjarak sekitar 600 meter dari Ka’bah) dan sebuah lagi BURJ AJYAD (MENARA JIYAD, 28 lantai, 800 meter dari Ka’bah). Kedua hotel ini dilengkapi dengan pertokoan, lapangan parkir, mushalla, ruang-ruang rapat dan akan dapat menampung sekitar 3500 jamaah pada setiap musim haji. Kedua gedung ini akan dikelola oleh investor selama 20 tahun sebagai ganti dari biaya yang mereka tanamkan, dan baru setelah itu (pada tahun 1448 H – 2027 M) diserahkan kepada Nazhir dan penuh menjadi milik wakaf. Dapat ditambahkan, walaupun belum sempurna, mulai tahun 1428 yang lalu, gedung ini sudah ditempati jemaah haji (disewakan oleh investor) dan mulai musim haji tahun 1429 H,  kedua gedung ini diharapkan sudah beroperasi secara penuh.

Sedang gedung yang satu lagi, yang terletak di belakang Madrasah Tsanawiyah Aziziyah dignkana sebagai tempat tinggal keluarga asa Aceh yang sudah menjadi penduduk Mekkah dan juga sebagai Kantor Nazhir Wakaf.

Mengenai gedung keempat, yang akan menjadi tempat tinggal jemaah haji, sudah mulai dibangun oleh Nazhir pada awal tahun 1429 yang lalu dan sekiranya tidak ada halangan pada musim haji 1430 H nanti sudah dapat ditempati oleh jemaah haji aal Aceh.

Selain ini  Nazhir juga menyewa beberapa buah rumah sebagai tempat tinggal keluarga Aceh  yang sudah menjadi penduduk Mekkah, yang tidak tertampung di gedung Aziziyah tadi.

Sebagai penutup, dari uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal:

  1. Baitul Asyi yang ada di Mekkah adalah wakaf salah seorang dermawan Aceh yaitu Tgk Haji Habib Bugak, untuk tempat tinggal (penginapan) jemaah haji asal Aceh. Jadi rumah tersebut bukan milik rakyat Aceh, bukan warisan dari Sultan Aceh masa lalu dan karena itu bukan milik Pemerintah Aceh. Penulis ulangi, rumah ini adalah rumah wakaf yang sudah berumur dua ratus tahun lebih, dan Alhamdulillah karena kesungguhan Nazhir menjaga dan merawatnya wakaf tersebut masih ada dan selamat sampai sekarang bahkan terus berkembang.
  2. Pemanfaatan rumah wakaf ini untuk kesejahteraan jemaah haji asal Aceh (seperti disebutkan di dalam Akta Ikrar Wakaf) , bukan hanya tergantung kepada kesungguhan dan perhatian Nazhir, tetapi juga tergantung kepada kebijakan Pemerintah Arab Saudi dan PemerintahIndonesia. Karena itu keterlibatan PEMDA Aceh sebagai  wakil jemaah Haji Aceh amat sangat diperlukan. Penulis berharap Pemerintah Aceh akan tetap dan terus pro aktif seperti sudah ditunjukkan sekarang ini.
  3. Karena harta kekayaan ini merupakan wakaf, maka pengelolaannya harus disesuaikan dengan syarat-syarat yang ditentukan wakif (sepeti tertera dalam ikrar wakaf) serta aturan mengenai wakaf yang berlaku di Arab Saudi. Campur tangan atau keinginan jemaah, bahkan PEMDA Aceh mengenai penggunaan atau pengelolaan wakaf ini, akan dipertimbangkan oleh Nazhir apabila sesuai dengan syarat wakif, sesuai dengan aturan wakaf di Arab Saudi dan sejalan pula dengan kebijakan Nazhir itu sendiri. Permintaan dan keinginan jemaah di luar itu pasti tidak akan diterima, bahkan ada yang tidak boleh diterima karena bertentangan dengan hukum yang berlaku Arab Saudi. Misalnya keinginan dan permintaan sebagian jemaah agar uang hasil wakaf ini dikirimkan ke Aceh untuk membiayai pendidikan di Aceh, akan sukar diterima oleh Nazhir karena tidak disebutkan di dalam ikrar wakaf.
  4. Nazhir ketika membagi-bagikan uang wakaf  kepada jemaah haji asal Aceh selalu menyampaikan/ mengharapkan tiga hal: a) Agar jemaah haji Aceh berdo’a untuk Teungku Habib Bugak yang telah mewakafkan rumah ini serta untuk semua nazhir yang sudah meninggal dunia yang telah mengelola wakaf ini dengan baik, agar memperoleh pahala  yang setimpal dari Allah swt; serta berdo’a juga untuk Nazhir yang ada sekarang dan Nazhir di masa yang akan datang agar mereka memperoleh kekuatan dan kemampuan untuk mengelola wakaf ini dengan ikhlas dan sungguh-sungguh sehingga wakaf ini semakin berkembang, sesuai dengan aturan yang berlaku. b) Agar jemaah haji Aceh memanfaatkan uang yang mereka terima dari harta wakaf ini secara baik,bahkan kalau mungkin mensedekahkan sebagian daripadanya di jalan Allah, menolong orang yang memerlukan atau membiayai kegiatan kebajikan dan keagamaan. c). Agar jemaah Haji Aceh melaksanakan semua ibadat haji dengan tekun dan ikhlas sehingga menjadi haji mabrur, tidak bergunjing dan tidak memfitnah.
  5. Penulis juga berharap semoga jamah haji Aceh yang telah mendapat manfaat dari wakaf ini bersyukur dengan tulus, menjaga silaturrahim dengan Nazhir, serta berdo’a agar Wakif mendapat pahala yang berlimpah atas amal jariah yang telah dia tanam sejak 200 tahun yang lalu dan Alhamdulilah  sampai sekarang masih kita nikmati hasilnya, serta berdo’a untuk Nazhir agar tetap mampu mengelola dan mengembangkan wakaf ini sesuai dengan syarat wakif; hendaknya jemaah juga berdo’a agar ada orang kaya Aceh sekarang yang bersedia menyisihkan hartanya sebagai wakaf, guna kesejahteraan generasi Aceh yang akan datang, baik di tanah Aceh ataupun di tempat lain.
  6. Penulis tidak mengetahui siapa Teungku Habib Bugak Asyi  yang telah mewakafkan rumah yang sangat berharga ini. Di Aceh ada beberapa tempat yang menggunakan nama “Bugak”. Mungkin yang paling dikenal adalah Bugak di Kabupaten Bireun; namun di Aceh Timur ada kampung  yang bernama Kuala Bugak (karena itu mungkin dahulu pernah ada kampong yang bernama Bugak),  dan di Bener Meriah pun ada kampung yang bernama Bugak, terletak di tepi Sungai Jambo Aye (Jemer) antara Rusip dan Samarkilang. Kampung Bugak ini telah ditinggalkan penduduknya sejak beberapa waktu yang lalu, sehingga sekarang ini hanya merupakan dusun kecil dengan beberapa buah rumah/keluarga saja. Mungkin di daerah pantai barat dan selatan pun ada kampung yang bernama Bugak. Lepas dari semua keadaan dan kemungkinan yang ada, barangkali mencari siapa Habib Bugak tidaklah terlalu penting. Semangat beliau beribadat, mewakafkan sebagian hartanya yang sangat berharga untuk kemaslahatan umat perlu kita tiru. Hendaknya ada orang kaya Aceh sekarang yang dermawan seperti Habib Bugak, yang bersedia mewakafkan sebagian hartanya untuk kemaslahatan umat. Penuois yakin kalau hal ini dilakukan, maka banyak orang yang akan berdo’a untuknya, dan namanya akan dikenang karena amal jariah yang dia lakukan.
  7. Mengambil ibarat dari semua ini, sekiranya wakaf yang ada di Aceh kita kelola dengan baik seperti Nazhir di mekkah mengelola Wakaf Habib Bugak, tentu banyak manafaat yang akan kita ambil: banyak kegiatan pendidikan dan sosial keagamaan yang dapat kita biayai secara mudah. Karena itu hendaknya jemaah yang membaca tulisan ini berusaha menyelamatkan harta wakaf yang ada di daerahnya masing-masing, antara lain dengan menjelaskan status wakaf harta tersebut, memberdayakan dan mengaktifkan Nazhir, serta berupaya memanfaatkannya secara optimal sesuai dengan syarat yang dibuat oleh wakif, bahkan kalau mungkin menambahnya dan memperluasnya dengan harta wakaf yang baru.

Akhirnya kepada Allah yang Maha Agung kita berlindung dan berserah diri, kepada Nya kita memohon hidayah dan petunjuk serta kepada Nya pula kita persembahkan amal dan bakti. Amin.

t.

0:00/0:00
Berani Menerjang Peluru
 
Dibaca: 3881  |  Suara: 0  
Favorit: 0  |  Komentar: 0
Popularitas:
15.52%
Incoming Search Traffic:
Sangat Tinggi
Social URL: tokoh.in/1007
?
Print Bio Kutip






CURRICULUM VITAE

  • BIO

Silakan Login atau "Like" untuk melihat CV Lengkap





Pameo yang mengatakan wanita sebagai insan lemah dan harus selalu dilindungi tidak selamanya benar. Itu dibuktikan oleh Cut Nyak Meutia, wanita asal Nangroe Aceh Darussalam, yang terus berjuang melawan Belanda hingga tewas diterjang tiga peluru di tubuhnya.

  • biografi tokoh indonesia cut nyak meutia
  • biro grafi cut meutia
  • biodta cut mutia
  • sejarah singkat cut nyak meutia
  • contoh biografi cut mutia
  • riwayat hidup cut nyak meutia
  • biografi cut meutia
  • siapa cut mutia
  • bio data pahlawan cut nyak meutia
  • profile cut mutia
  • cerita riwayat cut nyak meutia
  • sejarah Cut Nyak Meutia
  • riwayat cut mutia
  • biografi cut nyak meutia
  • cut nyak meutia biografi
  • biografi pahlawan nasional cut nyak meutia
  • Biografi Cut Meutia
  • TAHUN LAHIR CUT NYAK MEUTIA
  • pahlawan kemerdekaan cut muthia
  • profil tokoh pahlawan cut
  • pahlawan cut muetia
  • biodata cut mutia
  • sejarah cut mutia
  • sejarah cut mueutia
  • cerita pahlawan cut mutia
  • cut mutia

Wanita kelahiran Perlak,

wanita
dari AcehAceh, tahun 1870, ini adalah seorang
pahlawan
Kemerdekaan Nasional yang hingga titik darah penghabisan tetap memegang prinsip tak akan mau tunduk kepada kolonial.

Sebelum Cut Nyak Meutia lahir, pasukan Belanda sudah menduduki daerah

wanita
dari AcehAceh yang digelari serambi Mekkah tersebut. Perlakuan Belanda yang semena-mena dengan berbagai pemaksaan dan penyiksaan akhirnya menimbulkan perlawanan dari rakyat. Tiga tahun sebelum perang

wanita
dari AcehAceh-Belanda meletus, ketika itulah Cut Nyak Meutia dilahirkan. Suasana perang pada saat kelahiran dan perkembangannya itu, di kemudian hari sangat memengaruhi perjalanan hidupnya.

Ketika sudah beranjak dewasa, dia menikah dengan Teuku Muhammad, seorang pejuang yang lebih terkenal dengan nama Teuku Cik Tunong. Walaupun ketika masih kecil ia sudah ditunangkan dengan seorang pria bernama Teuku Syam Syarif, tetapi ia memilih menikah dengan Teuku Muhammad, pria yang sangat dicintainya.

Perang terhadap pendudukan Belanda terus berkobar seakan tidak pernah berhenti. Cut Nyak Meutia bersama suaminya Teuku Cik Tunon langsung memimpin perang di daerah Pasai. Perang yang berlangsung sekitar tahun 1900-an itu telah banyak memakan korban baik dari pihak pejuang kemerdekaan maupun dari pihak Belanda.

Pasukan Belanda yang mempunyai persenjataan lebih lengkap memaksa pasukan pejuang kemerdekaan yang dipimpin pasangan suami istri itu melakukan taktik
perang gerilya
. Berkali-kali pasukan mereka berhasil mencegat patroli pasukan Belanda. Di lain waktu, mereka juga pernah menyerang langsung ke markas pasukan Belanda di Idie.

Sudah banyak kerugian pemerintahan Belanda baik berupa pasukan yang tewas maupun materi diakibatkan perlawanan pasukan Cut Nyak Meutia. Karenanya, melalui pihak keluarga Meutia sendiri, Belanda selalu berusaha membujuknya agar menyerahkan diri. Namun Cut Nyak Meutia tidak pernah tunduk terhadap bujukan yang terkesan memaksa tersebut.

Bersama suaminya, tanpa kenal takut dia terus melakukan perlawanan. Namun naas bagi Teuku Cik Tunong, suaminya. Suatu hari di bulan Mei tahun 1905, Teuku Cik Tunong berhasil ditangkap pasukan Belanda. Ia kemudian dijatuhi hukuman tembak.

Berselang beberapa lama setelah kematian suaminya, Cut Nyak Meutia menikah lagi dengan Pang Nangru, pria yang ditunjuk dan dipesan suami pertamanya sebelum menjalani hukuman tembak. Pang Nangru adalah teman akrab dan kepercayaan suami pertamanya, Teuku Cik Tunong. Bersama suami keduanya itu, Cut Nyak Meutia terus melanjutkan perjuangan melawan pendudukan Belanda.

Di lain pihak, pengepungan pasukan Belanda pun semakin hari semakin mengetat yang mengakibatkan basis pertahanan mereka semakin menyempit. Pasukan Cut Meutia semakin tertekan mundur, masuk lebih jauh ke pedalaman rimba Pasai.

Di samping itu, mereka pun terpaksa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menyiasati pencari jejak pasukan Belanda. Namun pada satu pertempuran di Paya Cicem pada bulan September tahun 1910, Pang Nangru juga tewas di tangan pasukan Belanda. Sementara Cut Nyak Meutia sendiri masih dapat meloloskan diri.

Kematian Pang Nangru membuat beberapa orang teman Pang Nangru akhirnya menyerahkan diri. Sedangkan Meutia walaupun dibujuk untuk menyerah namun tetap tidak bersedia. Di pedalaman rimba Pasai, dia hidup berpindah-pindah bersama anaknya, Raja Sabil, yang masih berumur sebelas tahun untuk menghindari pengejaran pasukan Belanda.

Tapi pengejaran pasukan Belanda yang sangat intensif membuatnya tidak bisa menghindar lagi. Rahasia tempat persembunyiannya terbongkar. Dalam suatu pengepungan yang rapi dan ketat pada tanggal 24 Oktober 1910, dia berhasil ditemukan.

Walaupun pasukan Belanda bersenjata api lengkap tapi itu tidak membuat hatinya kecut. Dengan sebilah rencong di tangan, dia tetap melakukan perlawanan. Namun tiga orang tentara Belanda yang dekat dengannya melepaskan tembakan. Dia pun gugur setelah sebuah peluru mengenai kepala dan dua buah lainnya mengenai dadanya.

Cut Nyak Meutia gugur sebagai pejuang pembela bangsa. Atas jasa dan pengorbanannya, oleh negara namanya dinobatkan sebagai
pahlawan
Kemerdekaan Nasional yang disahkan dengan SK
Presiden RI
No.107 Tahun 1964

copyright: Tgk M.Nur, M.A

An-Nuur (An-Nur)
Artinya : An-Nuur (An-Nur)
Artinya : Cahaya (The Light)
Surat ke 24 = 64 Ayat   (diwahyukan di Madinah)

Tgk M.Nur Saat Siaran Di Radio An-Nuur

Get the Flash Player to see this player.


Dengarkan di WINAMP

JAM RADIO AN-NUR ONLINE

KALENDER RADIO AN-NUR ONLINE

Logo An-Nuur
LOGO AN-NUR RADIO MUSLIM MEULIGOU ACEH
TGK M.NUR BERSAMA MAK RAMLAH H.BENBULEUEN DI DEPAN RUMAH RADIO AN-NUUR STREAMING             KUTA MEULIGOU SAWANG ACEH UTARA
TGK MUHAMMAD NUR PENDIRI RADIO AN-NUUR DI DIRIKAN DI ACEH UTARA TGL 23-10-2012
ULAMA KHARISMATIK ACEH                                                                                  ABUYA SYEIKH                                                          H. MUHAMMADWALY AL-KHALIDY Beserta Anak anak Beliao
PETA PROVINSI ACEH
LAMBANG KERAJAAN ATJEH
CAP KERAJAAN ACEH
BENDERA KERAJAAN ACEH
RENCONG KERAJAAN ACEH

Rencong (Reuncong) adalah senjata tradisional dari Aceh. Rencong selain simbol kebesaran para bangsawan, merupakan lambang keberanian para pejuang dan rakyat Aceh di masa perjuangan. Keberadaan rencong sebagai simbol keberanian dan kepahlawanan masyarakat Aceh terlihat bahwa hampir setiap pejuang Aceh, membekali dirinya dengan rencong sebagai alat pertahanan diri. Namun sekarang, setelah tak lagi lazim
digunakan sebagai alat pertahanan diri, rencong berubah fungsi menjadi barang cinderamata yang dapat ditemukan hampir di semua toko kerajinan khas Aceh.
Bentuk rencong berbentuk kalimat bismillah, gagangnya yang melekuk kemudian menebal pada sikunya merupakan aksara Arab Ba, bujuran gagangnya merupaka aksara Sin, bentuk lancip yang menurun kebawah pada pangkal besi dekat dengan gagangnya merupakan aksara Mim, lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan aksara Lam, ujung yang meruncing dengan dataran sebelah atas mendatar dan bagian bawah yang sedikit keatas merupakan aksara Ha.

Rangkain dari aksara Ba, Sin, Lam, dan Ha itulah yang mewujudkan kalimat Bismillah. Jadi pandai besi yang pertama kali membuat rencong, selain pandai maqrifat besi juga memiliki ilmu kaligrafi yang tinggi. Oleh karena itu , rencong tidak digunakan untuk hal-hal kecil yang tidak penting, apalagi untuk berbuat keji, tetapi rencong hanya digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh dan berperang dijalan Allah.

Rencong yang ampuh biasanya dibuat dari besi-besi pilihan, yang di padu dengan logam emas, perak, tembaga, timah dan zat-zat racun yang berbisa agar bila dalam pertempuran lawan yang dihadapi adalah orang kebal terhadap besi, orang tersebut akan mampu ditembusi rencong.
Gagang rencong ada yang berbentuk lurus dan ada pula yang melengkung keatas. Rencong yang gagangnya melengkung ke atas disebut rencong Meucungkek, biasanya gagang tersebut terbuat dari gading dan tanduk pilihan.

Bentuk meucungkek dimaksud agar tidak terjadinya penghormatan yang berlebihan sesama manusia, karena kehormatan yang hakiki haya milik Allah semata. Maksudnya, bila rencong meucungkek disisipkan dibagian pinggang atau dibagian pusat, maka orang tersebut tidak bisa menundukkan kepala atau membongkokkan badannya untuk memberi hormat kepada orang lain karena perutnya akan tertekan dengan gagang meucungkek tersebut.

Gagang meucungkek itu juga dimaksudkan agar, pada saat-saat genting dengan mudah dapat ditarik dari sarungnya dan tidak akan mudah lepas dari genggaman. Satu hal yang membedakan rencong dengan senjata tradisional lainnya adalah rencong tidak pernah diasah karena hanya ujungnya yang runcing saja yang digunakan.
[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]] Ada empat macam rencong yang menjadi senjata andalan masyarakat Aceh yaitu :
  • Rencong Meucugek
  • Rencong Meupucok
  • Rencong Pudoi
  • Rencong Meukure

Rencong Meucugek Disebut rencong meucugek karena pada gagang rencong tersebut terdapat suatu bentuk panahan dan perekat yang dalam istilah Aceh disebut cugek atau meucugek.

Rencong Meupucok Rencong ini memiliki pucuk di atas gagangnya yang terbuat dari ukiran logam yang pada umumnya dari gading atau emas. Bagian pangkal gagang dihiasi emas bermotif tumpal (pucok rebung) serta diberi permata ditampuk gagang, panjang keseluruhan rencong sekitar 30 cm. Sarung rencong juga dibuat dari gading serta diberi ikatan dengan emas. Bilah terbuat dari besi putih.

Rencong Pudoi Istilah pudoi dalam masyarakat Aceh adalah sesuatu yang dianggap masih kekurangan atau masih ada yang belum sempurna. Gagang rencong ini hanya lurus saja dan pendek sekali. Jadi, yang dimaksud pudo atau yang belum sempuna adalah pada bentuk gagang rencong tersebut.

Rencong Meukure Perbedaan rencong dengan rencong jenis lain adalah pada mata rencong. Mata rencong diberi hiasan tertentu seperti gambar ular, lipan bunga dan lainnya.

Sumber :
  1. Situs Prov. NAD
  2. suarakarya-online.com
  3. acehforum.or.id
  4. members.tripod.com
BENDERA INDONESIA
Arti Lambang Provinsi Aceh

Lambang Provinsi Naggroe Aceh Darussalam berbentuk persegi lima yang berbentuk kopiah. Lambang tersebut dimanakan Pancacita, yang berarti lima cita-cita. Kelima cita-cita tersebut adalah keadilan, Kepahlawanan, kemakmuran, kerukunan, dan kesejahteraan.

Keadilan dilambangan oleh dacin (alat timbangan), kepahlawanan dilambangkan dengan rencong, kemakmuran dilambangkan dengan padi, kapas, dan cerobong pabrik. Sedangkan kerukunan duilambangkan dengan kubah masjid serta kesejahteraan dilambangkan dengan kitab dan kalam.

Semenjak terbentuknya Provinsi Daerah Istemewa Aceh, lambang itu tidak pernah diganti.

(ogi/Carapedia)


Pencarian Terbaru (100)

Logo aceh. Pancacita. Lambang aceh. Logo provinsi aceh. Lambang provinsi aceh. Logo pancacita. Lambang provinsi.

Simbol daerah. Provinsi aceh. Lambang daerah aceh. Logo pemerintah aceh. Panca cita. Arti lambang provinsi aceh. Simbol daerah dan artinya.

Simbol aceh. Logo panca cita. Lambang pancacita. Arti lambang aceh. Simbol daerah aceh. Logo pancacita aceh. Pancacita aceh.

Lambang propinsi aceh. Lambang provinsi nanggroe aceh darussalam. Logo provinsi nanggroe aceh darussalam. Lambang daerah dan artinya. Lambang provinsi aceh dan artinya. Lambang provinsi nad. Logo provinsi nad.

Arti lambang daerah aceh. Lambang propinsi. Logo provinsi. Arti lambang pancacita. Lambang aceh dan artinya. Lambang provinsi dan artinya. Gambar aceh.

Logo propinsi aceh. Arti lambang provinsi nad. Arti lambang propinsi aceh. Lambang lambang provinsi. Aceh logo. Arti lambang daerah. Arti pancacita.

Arti logo provinsi aceh. Arti lambang nad. Lambang nad. Logo daerah aceh. Arti lambang kota aceh. Lambang propinsi dan artinya. Lambang daerah aceh dan artinya.

Makna lambang aceh. Lambang kota aceh. Lambang nanggroe aceh darussalam. Logo pemprov aceh. Provinsi nad. Lambang daerah. Lambang provinsi di indonesia dan artinya.

Gambar lambang aceh. Propinsi aceh. Logo propinsi nad. Arti aceh. Arti lambang provinsi. Arti logo aceh. Lambang dan arti provinsi aceh.

Simbol daerah dan maknanya. Logo nad. Simbol provinsi aceh. Logo aceh dan artinya. Logo pemerintahan aceh. Gambar lambang daerah. Arti lambang provinsi di indonesia.

Lambang propinsi nad. Lambang pemerintah aceh. Logo pemerintah provinsi aceh. Lambang lambang propinsi. Lambang propinsi aceh dan artinya. Lambang daerah beserta artinya. Logo prov aceh.

Lambang lambang daerah. Arti lambang provinsi nanggroe aceh darussalam. Arti provinsi. Lambang dan arti lambang aceh. Gambar logo aceh. Lambang provinsi dan maknanya. Gambar lambang provinsi.

Arti simbol aceh. Gambar simbol daerah. Gambar provinsi aceh. Arti dari lambang pancacita. Lambang provinsi nanggroe aceh. Pancacita logo. Logo nanggroe aceh.

Lambang dan arti. Makna lambang provinsi aceh. Lambang provinsi nad dan artinya. Lambang provinsi aceh beserta artinya. Simbol provinsi nanggroe aceh darussalam. Arti dan lambang provinsi aceh. Arti lambang propinsi nad.

Gambar logo pancacita. Gambar lambang provinsi aceh.

MARI KITA LESTARIKAN BUDAYA ADAT ACEH

KabupatenKabupaten ACEH UTARAProfil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya
Profil[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]]

(Permendagri No.66th. 2011)

Sejarah

Sejarah Aceh Utara tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan Kerajaan Islam di pesisir Sumatera yaitu Samudera Pasai yang terletak di Kecamatan Samudera Geudong yang merupakan tempat pertama kehadiran Agama Islam di kawasan Asia Tenggara.
Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh mengalami pasang surut, mulai dari zaman Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, kedatangan Portugis ke Malaka pada tahun 1511 sehingga 10 tahun kemudian Samudera Pasai turut diduduki, hingga masa penjajahan Belanda.

 

Secara de facto Belanda menguasai Aceh pada tahun 1904, yaitu ketika Belanda dapat menguasai benteng pertahanan terakhir pejuang Aceh Kuta Glee di Batee Iliek di Samalanga. Dengan surat Keputusan Vander Geuvemement General Van Nederland Indie tanggal 7 September 1934, Pemerintah Hindia Belanda membagi Daerah Aceh atas 6 (enam) Afdeeling (Kabupaten) yang dipimpin seorang Asistent Resident, salah satunya adalah Affleefing Noord Kust Van Aceh (Kabupaten Aceh Utara) yang meliputi Aceh Utara sekarang ditambah Kecamatan Bandar Dua yang kini telah termasuk Kabupaten Pidie (Monografi Aceh Utara tahun 1986, BPS dan BAPPEDA Aceh Utara). Afdeeling Noord Kust Aceh dibagi dalam 3 (tiga) Onder Afdeeling (Kewedanaan) yang dikepalai seorang Countroleur (Wedana) yaitu :

 

  1. Onder Afdeeling Bireuen

 

  1. Onder Afdeeling Lhokseumawe

 

  1. Onder Afdeeling Lhoksukon

 

Selain Onder Afdeeling tersebut terdapat juga beberapa Daerah Ulee Balang (Zelf Bestuur) yang dapat memerintah sendiri terhadap daerah dan rakyatnya yaitu Wee Balang Keuretoe, Geurogok, Jeumpa, dan Peusangan yang diketuai oleh Ampon Chik.

 

Pada masa pendudukan Jepang istilah Afdeeling diganti dengan Bun, Onder Afdeeling disebut Gun, Zelf Bestuur disebut Sun, Mukim disebut Kun dan Gampong disebut Kumi.
Sesudah Indonesia diproklamirkan sebagai Negara Merdeka, Aceh Utara disebut Luhak yang dikepalai oleh seorang Kepala Luhak sampai dengan tahun 1949. Melalui Konfrensi Meja Bundar, pada 27 Desember 1949 Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia dalam bentuk Negara Republik Indonesia Serikat yang terdiri dari beberapa negara bagian. Salah satunya adalah Negara Bagian Sumatera Timur. Tokoh-tokoh Aceh saat itu tidak mengakui dan tidak tunduk pada RIS tetapi tetap tunduk pada Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.

 

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Republik Indonesia Serikat kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berlaku Undang Undang Sementara 1950 seluruh negara bagian bergabung dan statusnya berubah menjadi propinsi. Aceh yang pada saat itu bukan negara bagian, digabungkan dengan Propinsi Sumatera Utara. Dengan Undang Undang Darurat Nomor 7 tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom setingkat Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara, terbentuklah Daerah Tingkat II Aceh Utara yang juga termasuk dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara.
Keberadaan Aceh di bawah Propinsi Sumatera Utara menimbulkan rasa tidak puas pada para tokoh Aceh yang menuntut agar Aceh tetap berdiri sendiri sebagai propinsi dan tidak berada di bawah Sumatera Utara. Tetapi ide ini kurang didukung oleh sebagian masyarakat Aceh, terutama yang berada di luar Aceh.
Keadaan ini menimbulkan kemarahan tokoh Aceh dan memicu terjadinya pemberontakan DIMI pada tahun 1953. Pemberontakan ini baru padam setelah datang Wakil Perdana Menteri Mr Hardi ke Aceh yang dikenal dengan Missi Hardi dan kemudian menghasilkan Daerah Istimewa Aceh. Dengan Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia Nomor I/ Missi / 1957, lahirlah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Dengan sendirinya Kabupaten Aceh Utara masuk dalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Berdasarkan Undang Undang Nomor I tahun 1957 dan Keputusan Presiden Nomor 6 tahun 1959. Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Utara terbagi dalam 3 (tiga) Kewedanaan yaitu :

 

  1. Kewedanaan Bireuen terdiri atas 7 kecamatan

     

  2. Kewedanan Lhokseumawe terdiri atas 8 Kecamatan

     

  3. Kewedanaan Lhoksukon terdiri atas 8 kecamatan

     

Dua tahun kemudian keluar Undang Undang Nomor 18 tahun 1959 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Berdasarkan UU tersebut wilayah kewedanaan dihapuskan dan wilayah kecamatan langsung di bawah Kabupaten Daerah Tingkat II. Dengan surat keputusan Gubemur Kepala Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh Nomor: 07 / SK / 11 / Des/ 1969 tanggal 6 Juni 1969, wilayah bekas kewedanaan Bireuen ditetapkan menjadi daerah perwakilan Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Utara yang dikepalai seorang kepala perwakilan yang kini sudah menjadi Kabupaten Bireun.

 

Hampir dua dasawarsa kemudian dikeluarkan Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, sebutan Kepala Perwakilan diganti dengan Pembantu Bupati Kepala Daerah Tingkat II, sehingga daerah perwakilan Bireuen berubah menjadi Pembantu Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Utara di Bireuen.

 

Dengan berkembangnya Kabupaten Aceh Utara yang makin pesat, pada tahun 1986 dibentuklah Kotif (Kota Administratif) Lhokseumawe dengan peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1986 yang membawahi 5 kecamatan. Dan berdasarkan Kep Mendagri Nomor 136.21-526 tanggal 24 Juni 1988 tentang pembentukan wilayah kerja pembantu Bupati Pidie dan Pembantu Bupati Aceh Utara dalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, maka terbentuklah Pembantu Bupati Aceh Utara di Lhoksukon, sehingga pada saat ini Kabupaten Aceh Utara terdiri dari 2 Pembantu Bupati, 1 kota administratip, 26 wilayah kecamatan yaitu 23 kecamatan yang sudah ada ditambah dengan 3 kecamatan pemekaran baru.

 

Sebagai penjabaran dari UU nomor 5 tahun 1974 pasal 11 yang menegaskan bahwa titik berat otonomi daerah diletakkan pada daerah tingkat II maka pernerintah melaksanakan proyek percontohan otonomi daerah. Aceh Utara ditunjuk sebagai daerah tingkat II percontohan otonomi daerah.

 

Pada tahun 1999 Kabupaten Aceh Utara yang terdiri dari 26 Kecamatan dimekarkan lagi menjadi 30 kecamatan dengan menambah empat kecamatan baru berdasarkan PP Republik Indonesia Nomor 44 tahun 1999.

 

Seiring dengan pemekaran kecamatan baru tersebut, Aceh Utara harus merelakan hampir sepertiga wilayahnya untuk menjadi kabupaten baru, yaitu Kabuparten Bireuen berdasarkan Undang Undang nomor 48 tahun 1999. Wilayahnya mencakup bekas wilayah Pembantu Bupati di Bireuen.
Kemudian pada Oktober 2001, tiga kecamatan dalam wilayah Aceh Utara, yaitu Kecamatan Banda Sakti, Kecamatan Muara Dua, dan Kecamatan Blang Mangat dijadikan Kota Lhokseumawe.

 

Dengan demikian maka saat ini Kabupaten Aceh Utara dengan luas wilayah sebesar 3.296,86 Km2 dan berpenduduk sebanyak 477.745 jiwa membawahi 22 kecamatan

Arti Logo

1. BINTANG BERSEGI LIMA
Melambangkan Falsafah Negara Pancasila

2. MESJID KANDIL
Melambangkan Daerah Aceh Utara sebagai tempat pertama masuknya Agama Islam di Indonesia

3. SETANGKAI PADI DENGAN BUTIRNYA 45
Melambang Kemakmuran dan Jumlah Butirnya merupakan Tahun Kemerdekaan 1945

4. RENCONG
Melambang Kepahlawanan Rakyat Aceh

5. NERACA
Melambangkan Keadilan yang Merupakan Cita-cita seluruh Rakyat

6. SETANGKAI DAUN KELAPA
Melambang Kesuburan Daerah

7. SEHELAI PITA SEBAGAI TALI PENGIKAT
Melambangkan Unsur Kesatuan dan Persatuan

Nilai Budaya
Gampong Kuta Meuligoe adalah salah satu gampong di Kecamatan Sawang di Kemukiman Sawang Utara berpenduduk 878 jiwa dengan mata pencaharian umumnya Pertanian.
ULAMA DAYAH ACEH
RUMOH ACEH RUMAH ADAT ACEH
TGK M.NUR KETUA PAAS SAWANG A.UTARA UCAPKAN SELAMAT IDUL ADHA
PUSAT PENDIDIKAN ISLAM ACEH
MAKAM SULTAN MALIKUSSALEH DI GEUDONG ACEH UTARA - INDONESIA
Kesultanan Samudera Pasai
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]]

Kesultanan Pasai, juga dikenal dengan Samudera Darussalam, atau Samudera Pasai, adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia.

Belum begitu banyak bukti arkeologis tentang kerajaan ini untuk dapat digunakan sebagai bahan kajian sejarah.[1] Namun beberapa sejarahwan memulai menelusuri keberadaan kerajaan ini bersumberkan dari Hikayat Raja-raja Pasai,[2] dan ini dikaitkan dengan beberapa makam raja serta penemuan koin berbahan emas dan perak dengan tertera nama rajanya.[3]

Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Sultan Malik as-Saleh, sekitar tahun 1267. Keberadaan kerajaan ini juga tercantum dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya Abu Abdullah ibn Batuthah (1304–1368), musafir Maroko yang singgah ke negeri ini pada tahun 1345. Kesultanan Pasai akhirnya runtuh setelah serangan Portugal pada tahun 1521.

[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]] Pembentukan awal

Berdasarkan Hikayat Raja-raja Pasai, menceritakan tentang pendirian Pasai oleh Marah Silu, setelah sebelumnya ia menggantikan seorang raja yang bernama Sultan Malik al-Nasser.[2] Marah Silu ini sebelumnya berada pada satu kawasan yang disebut dengan Semerlanga kemudian setelah naik tahta bergelar Sultan Malik as-Saleh, ia wafat pada tahun 696 H atau 1297 M.[4] Dalam Hikayat Raja-raja Pasai maupun Sulalatus Salatin nama Pasai dan Samudera telah dipisahkan merujuk pada dua kawasan yang berbeda, namun dalam catatan Tiongkok nama-nama tersebut tidak dibedakan sama sekali. Sementara Marco Polo dalam lawatannya mencatat beberapa daftar kerajaan yang ada di pantai timur Pulau Sumatera waktu itu, dari selatan ke utara terdapat nama Ferlec (Perlak), Basma dan Samara (Samudera).

Pemerintahan Sultan Malik as-Saleh kemudian dilanjutkan oleh putranya Sultan Muhammad Malik az-Zahir dari perkawinannya dengan putri Raja Perlak. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, koin emas sebagai mata uang telah diperkenalkan di Pasai, seiring dengan berkembangnya Pasai menjadi salah satu kawasan perdagangan sekaligus tempat pengembangan dakwah agama Islam. Kemudian sekitar tahun 1326 ia meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya Sultan Mahmud Malik az-Zahir dan memerintah sampai tahun 1345. Pada masa pemerintahannya, ia dikunjungi oleh Ibn Batuthah, kemudian menceritakan bahwa sultan di negeri Samatrah (Samudera) menyambutnya dengan penuh keramahan, dan penduduknya menganut Mazhab Syafi'i.[5]

Selanjutnya pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik az-Zahir putra Sultan Mahmud Malik az-Zahir, datang serangan dari Majapahit antara tahun 1345 dan 1350, dan menyebabkan Sultan Pasai terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan.

"Maka titah Sang Nata akan segala tawanan orang Pasai itu, suruhlah ia duduk di tanah Jawa ini, mana kesukaan hatinya. Itulah sebabnya maka banyak keramat di tanah Jawa tatkala Pasai kalah oleh Majapahit itu".

— Gambaran penaklukan Pasai oleh Majapahit, kutipan dari Hikayat Raja-raja Pasai[2].

Relasi dan persaingan

Kesultanan Pasai kembali bangkit dibawah pimpinan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir tahun 1383, dan memerintah sampai tahun 1405. Dalam kronik Cina ia juga dikenal dengan nama Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki, dan disebutkan ia tewas oleh Raja Nakur. Selanjutnya pemerintahan Kesultanan Pasai dilanjutkan oleh istrinya Sultanah Nahrasiyah.

Armada Cheng Ho yang memimpin sekitar 208 kapal mengunjungi Pasai berturut turut dalam tahun 1405, 1408 dan 1412. Berdasarkan laporan perjalanan Cheng Ho yang dicatat oleh para pembantunya seperti Ma Huan dan Fei Xin. Secara geografis Kesultanan Pasai dideskripsikan memiliki batas wilayah dengan pegunungan tinggi disebelah selatan dan timur, serta jika terus ke arah timur berbatasan dengan Kerajaan Aru, sebelah utara dengan laut, sebelah barat berbatasan dengan dua kerajaan, Nakur dan Lide. Sedangkan jika terus ke arah barat berjumpa dengan kerajaan Lambri (Lamuri) yang disebutkan waktu itu berjarak 3 hari 3 malam dari Pasai. Dalam kunjungan tersebut Cheng Ho juga menyampaikan hadiah dari Kaisar Cina, Lonceng Cakra Donya.[6]

Sekitar tahun 1434 Sultan Pasai mengirim saudaranya yang dikenal dengan Ha-li-zhi-han namun wafat di Beijing. Kaisar Xuande dari Dinasti Ming mengutus Wang Jinhong ke Pasai untuk menyampaikan berita tersebut.[6]

Pemerintahan

Pusat pemerintahan Kesultanan Pasai terletaknya antara Krueng Jambo Aye (Sungai Jambu Air) dengan Krueng Pase (Sungai Pasai), Aceh Utara. Menurut ibn Batuthah yang menghabiskan waktunya sekitar dua minggu di Pasai, menyebutkan bahwa kerajaan ini tidak memiliki benteng pertahanan dari batu, namun telah memagari kotanya dengan kayu, yang berjarak beberapa kilometer dari pelabuhannya. Pada kawasan inti kerajaan ini terdapat masjid, dan pasar serta dilalui oleh sungai tawar yang bermuara ke laut. Ma Huan menambahkan, walau muaranya besar namun ombaknya menggelora dan mudah mengakibatkan kapal terbalik.[6] Sehingga penamaan Lhokseumawe yang dapat bermaksud teluk yang airnya berputar-putar kemungkinan berkaitan dengan ini.

Dalam struktur pemerintahan terdapat istilah menteri, syahbandar dan kadi. Sementara anak-anak sultan baik lelaki maupun perempuan digelari dengan Tun, begitu juga beberapa petinggi kerajaan. Kesultanan Pasai memiliki beberapa kerajaan bawahan, dan penguasanya juga bergelar sultan.

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, Kerajaan Perlak telah menjadi bagian dari kedaulatan Pasai, kemudian ia juga menempatkan salah seorang anaknya yaitu Sultan Mansur di Samudera. Namun pada masa Sultan Ahmad Malik az-Zahir, kawasan Samudera sudah menjadi satu kesatuan dengan nama Samudera Pasai yang tetap berpusat di Pasai. Pada masa pemerintahan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir, Lide (Kerajaan Pedir) disebutkan menjadi kerajaan bawahan dari Pasai. Sementara itu Pasai juga disebutkan memiliki hubungan yang buruk dengan Nakur, puncaknya kerajaan ini menyerang Pasai dan mengakibatkan Sultan Pasai terbunuh.

Perekonomian

Pasai merupakan kota dagang, mengandalkan lada sebagai komoditi andalannya, dalam catatan Ma Huan disebutkan 100 kati lada dijual dengan harga perak 1 tahil. Dalam perdagangan Kesultanan Pasai mengeluarkan koin emas sebagai alat transaksi pada masyarakatnya, mata uang ini disebut deureuham (dirham) yang dibuat 70% emas murni dengan berat 0.60 gram, diameter 10 mm, mutu 17 karat.

Sementara masyarakat Pasai umumnya telah menanam padi di ladang, yang dipanen 2 kali setahun, serta memilki sapi perah untuk menghasilkan keju. Sedangkan rumah penduduknya memiliki tinggi rata-rata 2.5 meter yang disekat menjadi beberapa bilik, dengan lantai terbuat dari bilah-bilah kayu kelapa atau kayu pinang yang disusun dengan rotan, dan di atasnya dihamparkan tikar rotan atau pandan.[6]

Agama dan budaya

Islam merupakan agama yang dianut oleh masyarakat Pasai, walau pengaruh Hindu dan Buddha juga turut mewarnai masyarakat ini. Dari catatan Ma Huan dan Tomé Pires,[7] telah membandingkan dan menyebutkan bahwa sosial budaya masyarakat Pasai mirip dengan Malaka, seperti bahasa, maupun tradisi pada upacara kelahiran, perkawinan dan kematian. Kemungkinan kesamaan ini memudahkan penerimaan Islam di Malaka dan hubungan yang akrab ini dipererat oleh adanya pernikahan antara putri Pasai dengan raja Malaka sebagaimana diceritakan dalam Sulalatus Salatin.

Akhir pemerintahan

Menjelang masa-masa akhir pemerintahan Kesultanan Pasai, terjadi beberapa pertikaian di Pasai yang mengakibatkan perang saudara. Sulalatus Salatin[8] menceritakan Sultan Pasai meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan tersebut. Namun Kesultanan Pasai sendiri akhirnya runtuh setelah ditaklukkan oleh Portugal tahun 1521 yang sebelumnya telah menaklukan Melaka tahun 1511, dan kemudian tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh.

Daftar penguasa Pasai

Berikut daftar penguasa Pasai,

[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]] Warisan sejarah

Penemuan makam Sultan Malik as-Saleh yang bertarikh 696 H atau 1297 M, dirujuk oleh sejarahwan sebagai tanda telah masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-13. Walau ada pendapat bahwa kemungkinan Islam telah datang lebih awal dari itu. Hikayat Raja-raja Pasai memang penuh dengan mitos dan legenda namun deskripsi ceritanya telah membantu dalam mengungkap sisi gelap sejarah akan keberadaan kerajaan ini. Kejayaan masa lalu kerajaan ini telah menginspirasikan masyarakatnya untuk kembali menggunakan nama pendiri kerajaan ini untuk Universitas Malikussaleh di Lhokseumawe.

Rujukan
  1. ^ Ricklefs, M.C., (1991), A History of Modern Indonesia since c.1300, 2nd Edition, Stanford: Stanford University Press, hlm. 15, ISBN 0-333-57690-X.
  2. ^ a b c Hill, A. H., (1960), Hikayat Raja-raja Pasai, Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland, London. Library, MBRAS.
  3. ^ Wicks, R. S., (1992), Money, markets, and trade in early Southeast Asia: the development of indigenous monetary systems to AD 1400, SEAP Publications, ISBN 0877277109.
  4. ^ Moquette, Jean Pierre, (1913), De Oudste Vorsten van Samudra-Pase, Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst, Batavia, hlm. 1-12.
  5. ^ Ferrand, Gabriel, (1914), Relations de voyages et textes geographiques : Arabes, Persan et Turks relatifs a l'Extreme-Orient du VIIIe au XVIIIe siecles, traduits, II, hlm. 440-450.
  6. ^ a b c d Yuanzhi Kong, (2000), Muslim Tionghoa Cheng Ho: misteri perjalanan muhibah di Nusantara, Yayasan Obor Indonesia, ISBN 9794613614.
  7. ^ Cortesão, Armando, (1944), The Suma Oriental of Tomé Pires, London: Hakluyt Society, 2 vols
  8. ^ Ahmad Rizal Rahim, (2000), Sulalatus Salatin, Jade Green Publications, ISBN 983929377X.
Kepustakaan
  • T. Ibrahim Alfian, (1979), Mata Uang Emas Kerajaan-kerajaan di Aceh, Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum, Aceh.
Pranala luar
SPONSOR DARI KALBE FARMA
TGK M.NUR MENDUKUNG ZAINI ABDULLAH DAN MUZAKIR MANAF SBG GUBERNUR ACEH 2012-2017 BERFOTO DI JEMBATAN IRIGASI KRUENG TUAN LINTASAN KUTA MEULIGOU BARAT SAWANG ACEH UTARA NAMPAK DI BELAKANG SAWAH KUTA MEULIGOU YG SUBUR 90 PERSEN WARGA KUTA MEULIGOU TERMASUK TGK.M.NUR BEKERJA SBG PETANI PADI SAWAH
Riwayat Kisah Lengkap 25 Nabi dan Rasul
20comments
Baik sahabat blogger semua , kali ini saya mau berbagi tentang semua kisah nabi dan rasul lengkap, dimana saya mengharapkan dengan ini kita semua dapat membacanya dan setidaknya mengetahui kisah ini dengan baik dan cermat . sobat tinggal klik link dibawah ini untuk menuju kisah lengkap 25 nabi dan rasul, nanti sobat akan dibawa ke artikel yang sesuai dengan pilihan sobat .

  1. Kisah Nabi Adam AS
  2. Kisah Nabi Idris AS
  3. Kisah Nabi Nuh AS 
  4. Kisah Nabi Hud  AS
  5. Kisah Nabi Saleh AS 
  6. Kisah Nabi Ibrahim AS
  7. Kisah  Nabi Luth AS
  8. Kisah Nabi Ismail AS
  9. Kisah Nabi Ishak AS  
  10. Kisah Nabi ya'qub AS
  11. Kisah Nabi Yusuf AS   
  12. Kisah Nabi Ayub AS
  13. Kisah Nabi Syu'aib AS 
  14. Kisah Nabi Musa AS
  15. Kisah  Nabi Harun AS 
  16. Kisah Nabi Zulkifli AS 
  17. Kisah Nabi Daud AS 
  18. Kisah Nabi Sulaiman AS
  19. Kisah Nabi ilyas AS
  20. Kisah Nabi ilyasa AS
  21. Kisah Nabi Yunus AS
  22. Kisah Nabi Zakaria AS
  23. Kisah Nabi Yahya AS
  24. Kisah Nabi Isa AS
  25. Kisah Nabi Muhammad SAW
MULIA JAME RANUB LAMPUAN MULIA RAKAN MAMEH SUARA RADIO AN-NUUR
Aceh : Asal Mula Bangsa Aceh
Posted by Sang Penunggu Istana Daruddunia ( BaNG BaKa ) On 11:06

Aceh...tentu anda sudah sering mendengar nama Aceh , yang sekarang hanya sebuah provinsi dari Negara Republik Indonesia, tapi tahukah anda asal mula Bangsa Aceh dari mana...?.


Aceh...adalah sebuah bangsa yang sudah ada sejak 2.500 tahun yang lalu dan sudah dikenal sejak abad ke-5 M dengan kerajaan Poli yang berada di pantai Sigli ( Aceh Pidie ) , Aceh adalah bangsa yang unik yang terdiri dari multikultur suku dan bahasa serta budaya, Aceh adalah negeri yang penuh julukan...Aceh negeri serambi mekkah, Aceh negeri tanah rencong, Aceh negeri syariat Islam, Aceh negeri sejuta warung kopi dan sebagainya.

Menurut salah satu sumber dikalangan peneliti sejarah dan antropologi seperti yang saya kutip dari Cakradonya, bahwa asal usul Bangsa Aceh berasal dari suku Mantee yang hidup di rimba raya Aceh yang memiliki ciri-ciri postur tubuh agak kecil dibandingkan dengan orang Aceh sekarang. menurut prakiraan suku mantee ini mempunyai hubungan terkait dengan suku bangsa Mantera di Malaka yang merupakan bagian dari bangsa Monk Khmer dari hindia belakang.Seprti anda lihat persamaan yang ada dalam jiwa-jiwa orang Aceh dengan orang Khmer yaitu semangat dan api revolusi yang menyala-nyala.

Kembali pada sejarah masa lalu disini kita lihat Pengaruh pertama terhadap bangsa Aceh datang dari bangsa India yang membawa ajaran Hindu dan Budha masuk ke Aceh sekitar 2.500 tahun yang lalu, bangsa India telah membuat perkampungan di Aceh, mereka datang melalui pesisir pantai utara Aceh. Sangat beranekaragamnya sumber-sumber yang mengingat pelabuhan-pelabuhan dagang itu, dimana diperoleh informasi dari Cina, Arab, India, bahkan Eropa, adalah bukti yang cukup kuat bahwa tempat itu memang dari dahulu kala sudah merupakan persimpangan internasional yang sangat strategis di apit oleh samudera hindia dan selat malaka.

Dalam perjalanan sejarah seperti kita ketahui sekitar tahun 500 Masehi di Aceh telah berdiri satu kerajaan yang di kenal internasional yang bernama kerajaan Poli, kerajaan Poli ini berada di pantai Sigli, Aceh Pidie dan Dan pada akhir abad 13 tercatat bahwa kerajaan Samudera pasai yang didirikan oleh Meurah Silo yang kemudian bergelar Sultan Malikus-Saleh hingga Sulthan Ali Mughayat Syah Seorang raja Aceh yang lebih lihai dan beruntung dari raja-raja sebelumnya, berhasil memproklamirkan KERAJAAN ACEH DARUSSALAM pada hari Kamis, 21 Dzulqaidah 916 H atau 20 Februari 1511 ( menurut salah satu sumber sang sulthan sudah berkuasa mulai tahun 1496 ) dan Aceh menjadi salah satu dari SUKU ADI DAYA dikawasannya yang merupakan salah satu dari lima kerajaan Islam terbesar di dunia pada masa itu dan Aceh mencapai puncak kejayaan yang gilang gemilang di jaman keemasan Sulthan Iskandar Muda. Sejarah Kerajaan Aceh Darussalm terukir selama 407 tahun dibumi Ilahi ini yang berakhir dimasa sulthan Muhammad Daud Syah pada tahun 1903.

Aceh sepanjang sejarah seindah lukisan dalam kanvas lukisan Sayed Dahlan Al Habsyi kini hanyalah sebuah provinsi yang menjadi salah satu selir dari Negara
RUMAH ACEH DAN MAKANAN ACEH
Makanan Khas Nanggroe Aceh Darussalam
09:39 No Comments

Nanggroe Aceh Darussalam

Nanggroe Aceh Darussalam memiliki berbagai macam makanan khas,diantaranya:

Ayam Tangkap
Sekilas ayam tangkap ini seperti makananan yang di penuhi oleh sampah dedaunan karena mulai dari segala macam daun ada didalamnya, akan tetapi racikan bumbu ayam goreng yang satu ini bisa bikin ketagihan.
Daun temurui yang dicampur bersama dengan olahan daging ayam ini bikin rasanya jadi semakin enak. Disantap dengan sambal ganja yang pedas-pedas asam segar pasti bikin makan siangkali ini lebih istimewa.
Potongan daging ayam kampung yang sudah dibumbui dan digoreng menebarkan aroma harum yang lezat.Aroma harum ini bersal dari daun-daunan yang dicampurkan ke dalam ayam tangkap. Daun-daun seperti daun kari atau temurui, daun pandan, daun jeruk dan juga daun serai yang sudah di rajang kasar digoreng hingga kering.
Menyantap ayam tangkap khas Aceh ini paling pas dengan sambal ganja. Yak, sambal yang terbuat dari campuran belimbing sayur, cabai rawit, bawang merah, yang diuleg halus memang bisa bikin ketagihan layaknya ganja.


Dalca
Hidangan utama yang dibuat dengan menggunakan rempah-rempah yang beraroma tajam seperti cengkeh, kayu manis, pekak, kapulaga ini merupakan ciri khas pengolahan masakan aceh. Masakan berwarna coklat kemerahan diperolah dari perpaduan rempah-rempah dan penggunaan cabe merah segar.


Mie Aceh

Mie Aceh adalah masakan mie pedas khas Aceh di Indonesia. Mie kuning tebal dengan irisan daging sapi, daging kambing atau makanan laut (udang dan cumi) disajikan dalam sup sejenis kari yang gurih dan pedas. Mie Aceh tersedia dalam dua jenis, Mie Aceh Goreng (digoreng dan kering) dan Mie Aceh Kuah (sup). Biasanya ditaburi bawang goreng dan disajikan bersama emping, potongan bawang merah, mentimun, dan jeruk nipis.


Kanji Rumbi
Bubur kanji rumbi adalah salah satu masakan khas Aceh yang sering ditemukan pada bulan Ramadhan. Bahan dasarnya beras dan dicampur dengan bawang pree, daun sop, daging ayam, udang, wortel, dan kentang.Untuk menambah masakan ada juga warga manambah menu lainnya diluar menu yang ada, berupa daun pegaga dengan campuran daun berkhasiat lainnya yang mengandung vitamin, tentunya penambahan daun pegaga juga sangat baik untuk kesehatan.Biasanya bubur ini dimasak dalam satu kuali besar dan dimakan bersama-sama warga sekitar untuk berbuka puasa.

Kue Timpan
Timpan adalah sejenis makanan kecil yang aslinya berasal dari Aceh. Bahan untuk membuat timpan terbuat dari tepung, pisang, dan santan. Semua bahan ini kemudian diaduk-aduk sampai kenyal. Lalu dibuat memanjang dan di dalamnya diisi dengan srikaya. Kemudian setelah itu adonan dengan isi ini dibungkus dengan daun pisang dan dikukus (rebus tanpa direndam air).
TGK M.NUR MANTAN KARYAWAN PT.ARUN LNG SUB PT.MARINA ARUN 1999
PIAGAM DINAS PERTANIAN ACEH UTARA
Blog Belajar Bahasa Aceh
Tempat yang Tepat untuk Belajar Bahasa Aceh
Makan Mi Aceh
27 Februari 2012 M. Nabil Berri 4 komentar

Tapajôh mi Acèh jak!

Makan mi Aceh yok!

 

Jak! Pat tapajôh?

Yok! Di mana kita makan?

 

Bak Mi Bang Din mantöng kiban?

Di Mi Bang Din aja gimana?

 

Pat nyan? Na mangat?

Di mana tu? Enak ga?

 

Ô hana trôk lom droën nyo? Teulat that! Mangat that nyan pat..

Oh kamu belum pernah ke situ aya? Telat kali! Enak kali di situ..

Read more…

Categories: Percakapan
Naik Kendaraan Umum
27 Februari 2012 M. Nabil Berri 8 komentar

Bang, ho jijak moto nyoë?

Bang, pergi ke mana mobil ni?

 

U Lam Teumèn Dék. Ho neuk jak Dék?

Ke Lam Teumen Dek. Mau ke mana Dek?

 

O, lôn u Darôsalam Bang. Moto u Darôsalam pat Bang?

Oh, saya ke Darussalam Bang. Mobil ke Darussalam di mana Bang?

 

O, u Darôsalam. Moto u Darôsalam nyang jéh Dék.

Oh, ke Darussalam. Mobil yang ke Darussalam yang itu Dek.

 

Makasih Bang beh.

Makasih Bang ya.

Read more…

Categories: Percakapan
Di Pasar
27 Februari 2012 M. Nabil Berri 6 komentar

Padum sikilo Bang?

Berapa sekilo Bang?

 

Campli padum si‘on Bang?

Cabe berapa satu ons Bang?

 

Siplôh ribèë  Dék.

Sepuluh ribu Dek.

 

Meuh‘ay that lagoë!

Mahal sekali kok!

 

Nyan cit ka dumnan Dék.

Memang udah segitu Dek.

Read more…

Categories: Percakapan
Hubungan Keluarga
20 Maret 2011 M. Nabil Berri 15 komentar

Ayah               : Ayah, Yah, Abi, Abôn, Waléd, Pak, Ku/Du

Ku dan Du (tergantung dialek) adalah bahasa Aceh asli. Sayangnya sekarang panggilan tersebut sudah dianggap kasar. Abi, Abôn, Waléd adalah pengaruh bahasa Arab.

Kakek              : Chik, Nèk, Yah Nèk, Nèk Ayah, Abu Nèk, Tu, Du Ha dll

Kakek Buyut    : Chik Tu dll

Ibu                   : Mak, Ma, Mi, Nyak

Nenek              : Nèk, Mi Syik, Nèk Nyak dll

Nenek Buyut   : Nèk Tu dll

Read more…

Categories: Kosa Kata
Kata Kerja
20 Maret 2011 M. Nabil Berri 7 komentar

B

Beudöh / Beudoh : Bangun

Beu’et / Beu’ôt : Angkat

Beuët / Baca : Baca

Bleuët : Buka mata

Blië : Mempelototi

 

C

Cang : Mencincang

Ceuë : Mencoret

Cicèp : Mencicipi

Cök / Cok : Ambil

Côm : Mencium

Cr‘ah : Menumis

Creuë : Memangkas

Cucô : Membilas

 

Read more…

Categories: Kosa Kata
Tajwid dalam Bahasa Aceh
20 Januari 2011 M. Nabil Berri 15 komentar

Ternyata Bahasa Aceh ada tajwidnya juga! Anda mungkin tidak percaya dengan omongan saya, tapi dalam Bahasa Aceh memang bettul-bettul ada tajwid, yaitu HUKUM IKHFA’ dan IQLAB. Tak caye, sila tengok!

Ikhfa’

Orang-orang Aceh tidak sadar kalau dalam Bahasa Aceh ada hukum Ikhfa’. Dalam ilmu tajwid Ikhfa’ adalah setiap nun mati (bunyi /n/) atau tanwin (juga bunyi /n/) berjumpa dengan huruf-huruf tertentu maka akan dibaca samar-samar. Dalam bahasa Aceh pun ada! Perhatikan:

Read more…

Categories: Artikel
Nama-nama Arab dalam Lidah Aceh
20 Januari 2011 M. Nabil Berri 3 komentar

Berikut adalah nama-nama Bahasa Arab menurut pengucapan lidah orang Aceh.

Nama-nama nabi dan rasul:

[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]]
RENUNGANKU : MARI KITA SHALAT SEBELUM DI SHALATKAN ORANG RAMAI
MARI KITA BERDO'A BERSAMA AN-NUUR
RUMAH RADIO AN-NUR ONLINE/MJBS FM
Oleh ( بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم)
7 AYAT AYAT CINTA YANG KEKAL SELAMANYA

Sabda Rasulullah s.a.w :
Barangsiapa yang hafal dan
mengamalkan tujuh kalimah ini akan
dimuliakan oleh Allah dan malaikat dan akan diampuni dosa-dosanya walau sebanyak buih dilautan...

1. Bismillahhirrahmannirahim:
pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.

2. Alhamdulillah:
pada tiap-tiap habis melakukan sesuatu.

3. Astagfirullah:
jika tersilap mengatakan sesuatu yang buruk.

4. Insyaallah:
jika ingin melakukan sesuatu pada masa akan datang.

5. Lahaulawalaquatai llahbillah:
bila tidak dapat melakukan sesuatu yang agak berat atau melihat sesuatu yang buruk.

6. Innalillah:
jika menghadapi musibah atau melihat kematian.

7. Lailahaillallah:
bacalah sepanjang siang dan malam
sebanyak-banyaknya.
sahabat facebook
Danou Laut Tawar di Takengon Aceh
Kabupaten Grobogan Di Awal Sejarah

Written by Admin 1

Monday, 04 April 2011 21:24

Berdasarkan perjalanan sejarahnya, Kabupaten Grobogan atau Daerah Grobogan sudah dikenal sejak masa kerajaan Mataram Hindu. Daerah ini menjadi pusat Kerajaan Mataram dengan ibu kotanya di Medhang Kamulan atau Sumedang Purwocarito atau Purwodadi. Pusat kerajaan itu kemudian berpindah ke sekitar kota Prambanan dengan sebutan Medang i Bhumi Mataram atau Medang Mat i Watu atau Medang i Poh Pitu atau Medang ri Mamratipura.

Pada masa kerajaan Medang dan Kahuripan, daerah Grobogan merupakan daerah yang penting bagi negara tersebut. Sedang pada masa Mojopahit, Demak, dan Pajang, daerah Grobogan selalu dikaitkan dengan cerita rakyat Ki Ageng Sela, Ki Ageng Tarub, Bondan Kejawan dan cerita Aji Saka.

Pada masa kerajaan Mataram Islam, daerah Grobogan termasuk Daerah Monconegoro dan pernah menjadi wilayah koordinatif Bupati Nayoko Ponorogo : Adipati Surodiningrat. Dalam masa Perang Prangwadanan dan Perang Mangkubumen, daerah Grobogan merupakan daerah basis kekuatan Pangeran Prangwedana (RM Said) dan Pangeran mangkubumi.

Wilayah Grobogan meliputi daerah Sukowati sebelah Utara Bengawan Solo, Warung, Sela, Kuwu, Teras Karas, Cengkal Sewu, bahkan sampai ke Kedu bagian utara (Schrieke, II, 1957 : 76 : 91 ). Daerah Sukowati ini kemudian sebagian masuk wilayah kabupaten Dati II Sragen antara lain : Bumi Kejawen, Sukowati, Sukodono, Glagah, Tlawah, Pinggir, Jekawal, dan lain-lain. Daerah yang masuk wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Boyolali antara lain lain : Repaking, Ngleses, Gubug, Kedungjati selatan, Kemusu, dan lain-lain.

Sedang daerah Grobogan yang kemudian termasuk wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Grobogan antara lain : Purwodadi, Grobogan, Kuwu, sela, Teras Karas, Medang Kamulan, Warung (Wirosari), Wirasaba (Saba), Tarub, Getas, dan lain-lain.

Dalam pekembangan sejarah selanjutnya, atas ketentuan Perjanjian Giyanti (1755), sebagai wilayah Mancanegara, Grobogan termasuk wilayah Kasultanan bersama-sama dengan Madiun, separuh Pacitan, Magetan, Caruban, Jipang (Bojanegara), Teras Karas (Ngawen), Sela, Warung (Kuwu-Wirosari) (Sukanto, 1958 : 5-6).

Dalam perjanjian antara GG Daendels dengan PAA Amangkunegara di Yogyakarta, tertanggal Yogyakarta, 10 Januari 1811, ditetapkan, bahwa uang-uang pantai yang harus dibayar oleh Guperman Belanda di hapus. Kedua, kepada Guperman Belanda di serahkan sebagian dari Kedu (daerah Grobogan), beberapa daerah di Semarang, Demak, Jepara, Salatiga, distrik-distrik Grobogan, Wirosari, Sesela, Warung, daerah-daerah Jipang,dan Japan. Ketiga, kepada Yogyakarta diberikan daerah-daerah sekitar Boyolali, daerah Galo (?), dan distrik Cauer Wetan (?) (Ibid. : 77).

Pada masa Perang Diponegoro, daerah Grobogan, Purwodadi, Wirosari, Mangor (?), Demak, Kudus, tenggelam dalam api peperangan melawan Belanda (Sagimun MD, 1960: 32, 331- 332).

Begitulah Kabupaten Grobogan, daerah yang selalu bergolak di sepanjang sejarahnya untuk menunjukkan identitasnya sebagai daerah yang penuh daya dan semangat untuk hidup bebas merdeka. Bahkan sampai masa pergerakan Nasional dan masa kemerdekaan dan sesudahnya, rakyat Kabupaten Grobogan sangat besar andilnya dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan bangsa dan negara Republik Indonesia.

 

Kabupaten Grobogan di Awal Sejarah

Berdasarkan isi dan pola penyajian, yang bersumber pada Serat Sindula atau serat Babad Pajajaran Kuda Laleyan dan Serat Witoradyo, cerita Aji Saka merupakan cerita legendaris, dimana di sana dimunculkan kepahlawanan seorang tokoh dalam lingkup Budaya Jawa (Schrike, Jl: 77; Raffles, 1978: 212).

Di lain pihak cerita Aji Saka di daerah Kabupaten Grobogan juga merupakan cerita Mitologis, yaitu cerita yang bersangkut paut dengan kepercayaan asli masyarakat. Oleh karena itulah maka cerita dalam penyajiannya, cerita Aji Saka diciptakan dalam bentuk cerita "lambang" bagi penetrasi budaya Hindu di Jawa.  

Di sini cerita Aji Saka dapat dikelompokkan sebagai cerita yang mengandung unsur-unsur mesianis, yaitu karya penyelamatan umat manusia dari kehancuran. Aji saka sebagai Masias menghancurkan penguasa kejam : Dewata Cengkar. Beberapa data dari sumber tradisional juga terdapat dalam :

a.   J. Kats, I, 1950: Punika Pepethikan saking Serat-serat Jawi Ingkang Tanpa Sekar. (Hal. 3-5).

Nyai Randa wicanten dhateng Aji Saka, "Negara kene wis misuwur yen ana Brahmana sekti mandraguna, bagus isih enom, limpad ing ngelmu panitisan, pingangkane saka Sabrang anga jawa". Aji Saka gumujeng amangsuli, "Dora ingkang awartos puniko, angindhakaken ing kayektosanipun. Wondene ingkang kawartos puniko inggih kula".

b.    Primbon Jayabaya, Tan Khoen Swie, Kediri, 1931: (hal. 10;27)

Jangaran jaman Kala Dwapara ... Prabu Sindula, Galuh turun kapindho, jejuluk Sri Dewata Cengkar, angedhaton ing Mendhang Kamulan. Iku Ratu luwih niyaya, mangsa padha manungsa. Tan antara lama kasirnakake prajurit saka tanah Ngarab jejuluk Empu Aji Saka ... Karsaning Pangeran Sang Aji Saka jumeneng Nata ing Sumedhang Purwacarita, jejuluk Sri Maha Prabu Lobang Widayaka.

c.   Serat Jangka Jagad, Kwa Giok Jing, Kudus, 1957 : hal. 51.

Lha ing kono tanah Jawa banjur ana kang jumeneng nata kang karen mangan daging manungso, yaitu Ratu Dewata Cengkar, nata ing Medhang Kamulan. Ora lawas banjur ketekan sawijining Brahmana saka ing tanah Ngarab, juluk Aji Saka. Brahmana sekti mandraguna kang bisa ngasorake Prabu Dewata Cengkar … 

d.   RNG. Ronggowarsito, Serat Witoradyo, III. Surakarta: Albert Rusche & Co, 1922: hal. 11-23.

Diceritakan, bahwa di tanah Lampung berdiri sebuah kerajaan dengan rajanya Prabu Isaka berasal dari tanah Hindu. Sang Prabu Isaka turun takhta dan digantikan oleh Patihnya bernama Patih Balawan. Kemudian dengan empat orang pengiringnya, Sang Isaka yang telah menjadi seorang Brahmana pergi ke tanah Jawa dan tiba di Ujung Kulon (Kulon ?). Di situ mendirikan perguruan dan dia sebagai gurunya dengan gelar Sang Mudhik Bathara Tupangku. Muridnya bertambah banyak. Di dalam perguruan itu diajarkan ilmu kesusastraan, ilmu penitisan (inkarnasi), dan ilmu keagamaan. Beberapa lama di Ujung Kulon, dia pergi ke Galuh dan kemudian terus mengembara ke tanah timur. Sampailah di negara Medhang Kamulan yang rajanya bernama Prabu Dewata Cengkar.

Dari kutipan di atas, kita ketahui bahwa Aji Saka adalah seorang raja yang kemudian meninggalkan takhta kerajaannya dan menjadi seorang Brahmana. Berarti dia adalah penganut agama Hindu. Sebab sebutan untuk Brahmana. Berarti dia adalah penganut agama Hindu. Sebab sebutan untuk Brahmana agama Budha adalah bhiksu. Tetapi dari data historis tokoh Aji Saka tidak pernah ada (hidup). Dengan demikian tokoh ini merupakan tokoh bayangan. Dia diadakan untuk menunjukkan adanya pengaruh Hinduisme dalam masyarakat Jawa. Kebetulan pada waktu itu keadaan masyarakat Mendhang Kamulan sedang resah. Kesempatan ini digunakan oleh Aji Saka (baca umat Hindu) untuk menyebarkan agama Hindu di masyarakat Mendhang Kamulan. Hal ini dikiaskan dalam lambang "desthar" (ikat kepala). Tradisi Jawa menggunakan ikat kepala. Sedang kepala adalah tempat otak, pikir, nalar. Di otak itulah tersimpan segala macam ilmu pengetahuan manusia. Ikat kepala tadi ketika ditebarkan (di jereng) dapat menutupi seluruh Wilayah Mendhang Kamulan. Di sinilah pengikut Prabu Dewata Cengkar harus mengakui kekalahan berebut pengaruh, dan harus menyingkir dari negeri Medhang (dikiaskan dengan menyeburkan diri ke laut menjadi seekor buaya putih).

Ketika Aji Saka menjadi raja, ditandai dengan sengkalan "nir wuk tanpa jalu" yang menunjukkan angka tahun 1000 Saka atau 1078 Masehi. Tahun Saka diciptakan berdasarkan peringatan penobatan Prabu Kanishka di India pada tahun 79 M = 1 Saka. Tahun Saka mengikuti peredaran Matahari. Di Jawa terdapat tradisi penggunaan sengkalan tersebut. Apabila menggunakan perhitungan tahun Matahari, disebut Surya Sengkala, dan bila menggunakan perhitungan peredaran Bulan di sebut Candra Sangkala. Lahirnya Candra Sangkala adalah sejak masa Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645) menciptakan Tahun Jawa dengan perhitungan peredaran Bulan (sejak 1555 Saka atau tahun 1633 Masehi).

Sengkalan adalah perhitungan tahun yang diujudkan dalam bentuk rangkaian kata menjadi kalimat atau berupa gambar yang menunjukkan angka tahun. Kalimat itu harus menggambarkan keadaan pada waktu tahun itu. Tujuan untuk memperingati suatu peristiwa penting dalam kehidupan manusia dalam masyarakat dan bernegara.

Sengkalan dalam bentuk kalimat disebut Sengkalan Lamba, sedang sengkalan yang diujudkan dalam bentuk gambar atau benda, disebut Sengkalan Memet. Tiap kata dalam kalimat atau gambar diberi nilai yang berbeda-beda antara 0 (nol) sampai angka 9 (sembilan) dengan mengingat akan adanya guru dasanama, guru karya, guru jarwa, dan sebagainya.

Beberapa contoh Sengkalan Lamba antara lain :

  1.  Srutti Indriya Rasa : termuat dalam prasasti Canggal atau prasasti Gunung Wukir dari Rakai Sang Ratu Sanjaya. Berangka tahun 654 Saka atau 732 Masehi, merupakan Sengkalan tertua yang pernah kita temukan.
  2.  Nayana Wayu Rasa : termuat dalam prasasti Dinaya dari raja Gajayana di "Candi Badut" dekat Malang. Sengkalan itu berangka 682 Saka atau 760 Masehi.
  3.  Nir Wuk Tanpa Jalu : termuat dalam Serat Kanda, berangka tahun 1000 Saka atau 1078 Masehi. Merupakan tahun penobatan Aji Saka jadi raja di Medhang Kamulan dengan gelarnya Prabu Jaka atau Empu Lobang Widayaka.
  4.  Sirna Hilang Kertaning Bumi : termuat di dalam Serat Kanda, berangka Tahun 1400 Saka ? Tahun 1478 Masehi. Sebagai pertanda keruntuhan Keprabuan Mojopahit.

Beberapa contoh Sengkalan Memet :

  1.  Di atas Panggung Sanggabhuwana yang terletak di halaman dalam istana Kasunanan Surakarta, terdapat bentuk ular naga bersayap yang dinaiki oleh manusia. Bila dibaca berbunyi : Naga Muluk Tinitihan Janma, berangka tahun 1708 Jawa atau 1781 Masehi.
  2.  Panggung tersebut dapat pula dibaca : Panggung Luhur Sangga Bhuwana. Artinya: panggung = pa agung bernilai 8; luhur bernilai 0 (nol); Sangga adalah perkumpulan para pendeta Budha bernilai 7 (tujuh); dan bhuwana bernilai 1 (satu), jadi 1708 Jawa atau 1781 Masehi. Atau dapat pula di baca : pa-agung (8); song (9); ga angka Jawa bernilai 1 (satu); bhuwana bernilai 1 (satu). Jadi 1198 Hijrah atau 1781 Masehi. Sengkalan ini sebagai peringatan pembuatan panggung tersebut.
  3.  Di dalam wayang kulit purwa terdapat wayang Bathara Guru naik di atas hewan Lembu Nandini. Di baca : Sarira Dwija Dadi Ratu. Bernilai 1478 Saka atau 1556 Masehi, ialah peringatan ketika Sultan Demak membuat wayang kulit purwo sebagai sarana dakwah Islam.
  4.  Ketika Sultan Agung membuat wayang kulit purwo, maka dibuatlah wayang kulit Buta Rambut Geni yang merupakan sengkalan pula. Bila dibaca : Jalu Buta Tinata Ing Ratu. Bernilai tahun 1553 Saka atau 1631 Masehi.

Di atas telah disinggung sengkalan Nir Wuk Tanpa Jalu. Sengkalan ini dihubungkan dengan waktu penobatan Aji Saka menjadi raja di Medhang Kamulan setelah dapat mengalahkan Prabu Dewata Cengkar. Bukti sejarah berupa prasasti misalnya, tidak kita temukan. Dari kenyataan sejarah, Tahun 1078 Masehi, pusat kerajaan berada di Jawa Timur sekarang, atau di daerah Manca Nagari zaman kerajaan (daerah Grobogan?), yaitu kerajaan Mendhang dan Kahuripan zaman Mpu Sendok dan Airlangga. Atau dapat juga pada masa Kerajaan Jenggala, Panjalu, Ngurawan dan Singasari, empat sekawan yang berdiri bersama sebagai hasil pembagian wilayah pada masa akhir pemerintahan Raja Airlangga. 

Secara geografis, sekarang wilayah Kabupaten Grobogan memang terletak di daerah Propinsi Dati I Jawa Tengah. Namun pada waktu itu negara medhang tidak terletak di Bumi Mataram (Kedu), tetapi di luarnya, yang pendapat umum ditafsirkan di daerah Jawa Timur. 

Pada Tahun 1078 M terdapat keturunan raja Airlangga yang berkuasa, yaitu Sri Maharaja Sri Garasakan serta Sri Maharaha Mapanji Alanyung Ahyes. Sudah barang tentu tokoh Aji Saka tidak dapat disamakan dengan masa Airlangga dan sesudahnya berdasarkan data-data sejarah yang ada, tidak terjadi perebutan pengaruh agama, tetapi memang ada gejala perebutan kekuasaan politik. Hal ini dikiaskan dalam cerita Panji Panuluh. Justru perebutan pengaruh di bidang keagamaan terjadi di masa Mataram, yaitu masa Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra berbarengan berkuasa di Mataram. Dinasti Sanjaya menganut Agama Hindu, sedang dinasti Syailendra menganut agama Budha Mahayana. Masa perebutan pengaruh itu tampak jelas pada masa Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya) dan Samarottungga Balaputera (Dinasti Syailendra). Taktik yang digunakan oleh Pikatan untuk memperoleh pengaruh yang lebih besar adalah dengan cara : dia kawin dengan salah seorang puteri Syailendra, kakak Balaputera, yaitu Ratu Prarnodhawardani atau Sri Kahulunan. Peperangan antara Rakai Pikatan melawan Balaputera memang terjadi berdasarkan prasasti Ratu Baka (856 M = 778 Saka : Wulong Gunung Sang Wiku). Perang diakhiri dengan kemenangan di pihak Rakai Pikatan (Hindu). Sedang agama Budha (Balaputera) dalam peristiwa tersebut kalah dan menyingkir ke Swarnadwipa (Sumatra) dan menjadi raja Sriwijaya tempat penyebaran agama Budha di Asia Tenggara. 

Atas dasar kenyataan sejarah tersebut, maka cerita Aji Saka harus ditafsirkan sebagai ceritera lambang yang sangat kuat mengandung unsur mitologis. 

Kita ketahui, bahwa Sengkalan Nir Wuk Tanpa Jalu, arti harafiahnya adalah Hilang Rusak Tanpa Susuh (ayam jantan) atau Hilang Rusak Tanpa Kekuatan Laki-Laki. Maksudnya negara atau masyarakat kacau tanpa kekuatan laki-laki. Maksudnya negara atau masyarakat kacau tanpa kekuatan, karena tenaga laki-laki "dimakan" oleh Dewata Cengkar, sebagai kias bagi mereka yang diperkerjakan untuk membangun bangunan suci berupa candi-candi yang tidak sedikit jumlahnya. Misalnya: candi Borobudur, Pawon, mendhut, Sari, Kalasan, Sewu, Ratu Baka, dan lain-lain. Inilah gambaran masa akhir bagi kerajaan Medhang di bhumi Mataram! 

 

Sekarang dimanakah letak Kerajaan Medhang Kamulan itu ? 

Perkataan Medhang (Mendhang) Kamulan terdiri dari dua kata: Medhang dan Kamulan. perkataan Medhang (Mendhang) berarti "ibu kota". Buktinya : 

  1.  Prasasti Kedu (Mantyasih) yang lebih dikenal dengan nama Prasasti Balitung, bertahun 907 M ditemukan di desa Kedu. Antara lain menyebutkan : "rahyang tarumuhun ri Medhang ri Poh Pitu". (Slamet Mulyono, Sriwijaya: hal. 147). Artinya pembesar-pembesar terdahulu yang memerintah di Medhang Poh Pitu, atau pembesar-pembesar yang memerintah terdahulu yang beribu kota di Poh Pitu. 
  2.  Prasasti Tengaran (Jombang, Jawa Timur) memindahkan Ibu kota Mendhang dari Poh Pitu ke Mamratipura, dan raja Wawa mengatakan ibukotanya "ri Mendhang ri Bhumi Mataram", artinya "di Medhang di Bumi Mataram". Dan nama ibukota ini dalam prasasti Tengaran tersebut disebut pula "Medhang i Bumi Mat i Watu" yang artinya "Ibukota di Bhumi Mat i Watu" (Caspaaris, I, 1950 : hal. 39-42).

Jadi jelas bahwa Medhang menjadi ibukota kerajaan Mataram, kota ini sebagai "kuthagara"nya di Mataram. 

Sedang Kamulan berasal dari kata dasar "mula" mendapatkan awalan "ka" dan akhiran "an", membentuk kata benda. Arti "mula" adalah awal, asal, atau akar. Untuk memperoleh penjelasan tentang "mula" tersebut, perlu dikemukakan contoh-contoh yang diajukan oleh Casparis dalam Prasasti Indonesia I (1950). 

Batu dari Siman, Kediri (OJO 28) menyebutkan beberapa kali "Sang Hyang Dharma Kamulan", yang artinya "Mula Sang Hyang Dharma" Maksudnya adalah "pendahlu yang telah tiada, atau sebuah tempat pemakaman nenek moyang". Selanjutnya dalam Prasasti Singasari disebutkan (OJO 38) "apan ngakai gunung wangkali kamulan Kahyangan ia pangawan" yang artinya "sebab inilah gunung Wangkali dari Kahyangan di Pangawan". Jadi disini kata "mula" berhubungan dengan "gunung suci?, pendahulu, cikal bakal aatau suci. 

Dalam Prasasti Karangtengah (824 M) diceritakan bahwa Ratu Puteri Pramodhawardhani (Sri Kahuluan dan Prasasti Sri Kahuluan th 842) mendirikan "Kamulan" di Bhumi Sambhara (Budhara) atau bangunan suci Borobudur. Di sini arti "Kamulan" adalah makam nenek moyang dan tempat pemujaan. 

Dari penjelasan di atas kita dapat menduga mungkin yang dimaksudkan dengan kata "mula" di sini adalah "asal, cikal bakal, awal atau permulaan kejadian." Jadi Medhang Kamulan berarti ibukota yang mula pertama atau asal kejadian. 

Sekarang timbul pertanyaan: Di manakah letak ibukota tersebut? melihat sebutan- sebutan ibukota seperti Medhang i Poh Pitu, Medhang i Mat i Watu, Medhang ri Mamratipura, ri Medhang ri Bhumi Mataram, menimbulkan kesan pada kita, bahwa agaknya ibukota tersebut selalu berpindah-pindah tempat, sebab mungkin terdesak oleh penguasa lain, bencana alam dan lain-lain. Sehingga ibukota kerajaan : Mojopahit : dari Mojopahit ke Sengguruh; dari Mojopahit ke Bintara, Demak; Mataram : dari Kerta ke Plered; dari Plered ke Wanakerta atau kartosuro,  dan dari Kartosuro berpindah ke Surakarta, dan sebagainya. 

Beberapa ahli menunjuk letak kota Medhang sebagai berikut : 

  1. Di sekitar Prambanan, sebab disitu banyak peninggalan sejarah berupa candi. Maka disitu pulalah pusat ibukota kerajaan Medhang. Inilah pendapat Krom, (1957 : 40). Juga dalam cerita Bandung Bandawasa berperang dengan Prabu Baka di Prambanan dan cerita terjadinya Candi Sewu dan Candi Lara Jonggrang berlokasi di Prambanan. (Ranggawarsito, III, 1922). 
  2.  Letaknya di Purwodadi, daerah Grobogan, sebab di situ terdapat desa Medhang Kamulan, Kesanga, dan sebagainya yang berkaitan dengan Ceritera Aji Jaka Linglung. Serta di desa Kesanga terdapat puing-puing bekas istana kerajaan yang diduga bekas istana kerajaan Medhang. (Raffles, 1978). 
  3.  Pendapat purbacarka dalam bukunya "Enkele Oud platsnamen" dalam TBG, 1933, menyatakan bahwa letak Medhang Kamulan di sekitar Bagelen (Purworejo), sebab di daerah itu terdapat desa bernama Awu-awu langit dan desa Watukura. Dyah Watukura adalah nama lain bagi Balitung, salah seorang keturunan Raja Sanjaya. Desa Awu-awu langit artinya mendung atau Medhang

Dari beberapa pendapat tersebut, yang jelas bahwa ibukota kerajaan Mataram selalu berpindah-pindah. Sebagai ibukota permulaan adalah Purwodadi, daerah Grobogan, kemudian berpindah ke sekitar Prambanan, kemudian berpindah ke daerah Kedu Bagelen, dan berpindah ke Prambanan lagi, baru sesudah itu berpindah ke Jawa Timur. 

Alasan menentukan ibukota pertama di Purwodadi adalah : 

  1.  "Purwa" berarti "permulaan" (Jawa: kawitan). "Dadi" artinya "jadi" (Jawa : Dumadi). Yang mula-mula jadi, purwaning dumadi, sangkan paraning dumadi. Hal ini dikaitkan dengan ceritera Aji Saka dengan Carakan Jawanya yang mengandung hidup, dan kehidupaan manusia "Manunggaling Kawula Gusti", dari sejak asal mula manusia di dunia ini. 
  2.  Bila kita tinjau letak geografisnya, memang lebih sesuai, sebab didaerah tersebut mudah mencari air, padahal setiap makhluk membutuhkan air. Daerah ini memanfaatkan air sungai Lusi dan beberapa anak sungainya untuk lalu lintas, pengairan kebutuhan hidup sehari-hari. Lagi puia daerah ini tidak jauh dari laut, bahkan mungkin terletak di tepi pantai Laut Jawa. 
  3.  Di dalam Primbon Jayabaya (hal.27) dikatakan bahwa Aji Saka naik takhta di negara Sumedang Purwacarita. Perkataan "Sumedhang" di sini bukanlah kota Sumedang di Jawa Barat sekarang, tetapi dimaksudkan kota Medhang yang sangat baik. Jadi Sumedang Purwacarita artinya ibukota Medhang yang sangat baik bagi (negara) Purwacarita. Purwa berarti permulaan; carita berarti cerita, kejadian, purwaning dumadi, sangkan paraning dumadi. Dengan demikian Sumedhang Purwacarita identik dengan Medhang (Mendhang) Kamulan yang lahir di Mataram (negeri ibu, ibu pertiwi) yang pertama kali.

 

Selanjutnya bagaimana cerita tentang Grobogan ? 

Menurut cerita tutur yang beredar di daerah Grobogan, suatu ketika pasukan Demak di bawah pimpinan Sunan Ngudung dan Sunan Kudus menyerbu ke pusat kerajaan Mojopahit. Dalam pertempuran tersebut pasukan Demak memperoleh kemenangan gemilang. Runtuhlah kerajaan Mojopahit. Ketika Sunan Ngundung memasuki Istana, dia menemukan banyak pusaka Mojopahit yang ditinggalkan. Benda-benda itu dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam sebuah grobog, kemudian dibawa sebagai barang boyongan ke Demak. 

Peristiwa tersebut sangat mengesankan hati Sunan Ngudung. Sebagai kenangan, maka tempat tersebut diberi nama Grobogan yaitu tempat berupa grobog. 

Di atas dijelaskan, bahwa grobog adalah sebuah kotak persegi panjang yang digunakan untuk menyimpan uang atau barang yang dibuat dari kayu. Kadang-kadang berbentuk bulat, agar mudah membawanya dan dengan cepat dapat diselamatkan apabila ada bahaya mengancam, misalnya bahaya kebakaran. Tetapi grobog juga dapat berarti kandang yang berbentuk kotak untuk mengangkut binatang buas (misalnya: harimau) hasil tangkapan dari perburuan. Grobog tersebut dapat juga digunakan sebagai alat penangkap harimau. Grobog ini biasa disebut Grobog atau bekungkung (bila kecil disebut: jekrekan untuk menangkap tikus) (Geriecke dan Roorda, 1901 : 569). 

Dari penjelasan diatas, Grobogan berasal dari kata Grobog yang dalam salam ucapnya menjadi "grogol". yaitu alat penangkap binatang buas. Di Kotamadya Surakarta terdapat kampung bernama Grogolan, yang dahulu tempat mengumpulkan harimau hasil perburuan (digrogol atau dikrangkeng). Di perbatasan Kotamadya Surakarta dengan Kab. Dati II Sukoharjo terdapat desa yang bernama desa Grogol, Kec. Grogol, ialah daerah perburuan Sunan Surakarta dan Pajang pada zaman kerajaan. 

Sejalan dengan penjelasan di atas maka Grobogan adalah sebuah daerah yang digunakan sebagai daerah perburuan. Dan ternyata daerah ini merupakan daerah perburuan Sultan Demak (Atmodarminto, 1962 : 119) atau merupakan daerah persembunyian para bandit dan penyamun zaman Kerajaan Demak Pajang (Atmodarminto, 1955 : 123). Pada zaman Kartasura daerah ini merupakan daerah tempat tinggal tokoh-tokoh gagah berani dalam berperang (Babad Kartosuro, 79), misalnya : Adipati Puger, Pangeran Serang, Ng. Kartodirjo, dan lain-lain. 

Samana jeng Suitan karsa lelangen, amburu sato ing wanadri, Trenggono kadherekaken para abdi, mring Sela wus laju maring anggrogol sato wana. (Admadarminto, 1062 : 19). 

Dalam abad XIX daerah Grobogan merupakan daerah persembunyian para pahlawan rakyat penentang kekuasaan kolonial Belanda, bersama-sama dengan daerah Sukowati. Daerah ini sangat cocok sebagai daerah persembunyian, karena merupakan daerah hutan jati yang lebat dan berbukit-bukit.

 
Anda disini » Home » Aceh , TOKOH » PROFIL LENGKAP HASAN TIRO DAN SEJARAH SINGKAT LAHIRNYA GAM PROFIL LENGKAP HASAN TIRO DAN SEJARAH SINGKAT LAHIRNYA GAM
By News and Fun | Tuesday, 24 July 2012
Sebelum Membaca, Ayo Berbagi :
2
Membongkar Perjuangan Hasan Tiro

SABTU, 30 Oktober 1976, sekitar pukul 8.30 pagi. Perahu yang ditumpangi Hasan Tiro dari Malaysia merapat di Pasi Lhok, sebuah desa nelayan di pantai utara Aceh. Dari tempat itu dia melanjutkan perjalanan ke arah timur.
Foto diambil The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan Di Tiro.
Sekitar pukul 6.00 sore Hasan Tiro tiba di Kuala Tari. Sekelompok laki-laki yang dipimpin M. Daud Husin telah menunggu kehadirannya. Malam itu juga mereka berangkat menuju Gunung Seulimeun.
“Itu adalah malam pertama di tanahairku setelah selama 25 tahun aku tinggal di pengasingan di Amerika Serikat,” tulis Hasan Tiro dalam bukunya The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan Di Tiro yang diterbitkan tahun 1984.
Itu adalah kunjungan rahasia dengan misi tunggal memerdekakan Aceh.
“Tak ada seorang pun di negeri ini yang mengetahui kedatanganku,” tulis Hasan Tiro.
“Aku sudah lama memutuskan bahwa Deklarasi Kemerdekaan Aceh Sumatera harus dilakukan pada tanggal 4 Desember dengan alasan simbolis dan historis. Itu adalah hari dimana Belanda menembak dan membunuh Kepala Negara Aceh Sumatera, Tengku Cik Mat di Tiro dalam pertempuran di Alue Bhot, tanggal 3 Desember 1911. Belanda karenanya mencatat bahwa 4 Desember 1911 adalah hari akhir Aceh sebagai entitas yang berdaulat, dan hari kemenangan Belanda atas Kerajaan Aceh Sumatera.”
Maka begitulah, di Bukit Cokan dia menuliskan Deklarasi Kemerdekaan Aceh, melanjutkan perjuangan Tengku Cik di Tiro dan para leluhurnya. Dan tanggal 4 Desember 1976 deklarasi kemerdekaan itu pun dibacakan.
“Kami, rakyat Aceh, Sumatera, menggunakan hak kami untuk menentukan nasib sendiri dan melindungi hak sejarah kami akan tanahair kami, dengan ini menyatakan bahwa kami merdeka dan independen dari kontrol politik rejim asing Jakarta dan orang asing dari Pulau Jawa. Tanah Air kami, Aceh, Sumatra, selalu merdeka dan independen sebagai Negara yang Berdaulat sejak dunia diciptakan…”
Catatan: Teks di atas merupakan paragraph pertama dari Deklarasi Kemerdekaan Aceh yang saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari buku The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan Di Tiro. Teks asli adalah sebagai berikut:
“We, the people of Acheh, Sumatra, exercising our right of 
self-determination, and protecting our historic right of eminent 
domain to our fatherland, do hereby declare ourselves free and 
independent from all political control of the foreign regime of 
Jakarta and the alien people of the island of Java. Our 
fatherland, Acheh, Sumatra, had always been a free and independent 
Sovereign State since the world begun…”
Anak kedua pasangan Tengku Muhammad Hasan dan Pocut Fatimah ini lahir di Tiro 25 September 1925. Dia memperoleh gelar doktor di bidang hukum internasional dari Colombia University. Di negeri itu ia menikah dengan Dora seorang wanita Amerika Serikat keturunan Yahudi. Di masa-masa itu pula Hasan Tiro pernah bekerja di KBRI dan membangun jaringan bisnis di bidang petrokimia, pengapalan, penerbangan, dan manufaktur hingga ke Eropa dan Afrika. Hasan Tiro juga menjelaskan hal ini dalam bukunya The Price of Freedom.
Pandangan politiknya mulai berbalik 180 derajat ketika pemerintah Indonesia di masa Perdana Menteri Ali Sastroamidjo (1953-1955) mengejar pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) hingga ke pedalaman Aceh. Hasan Tiro memprotes tindakan itu. Bulan September 1954 dia mengirimkan sepucuk surat kepada sang perdana menteri
Kecewa dengan sikap pemerintah Indonesia, Hasan Tiro kemudian meninggalkan KBRI. Dia bergabung dengan DI/TII Aceh yang dideklarasikan mantan Gubernur Militer Aceh (1948-1951) Daud Beureuh tanggal 20 September 1953 sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia (NII) yang dideklrasikan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Tasikmalaya, 7 Agustus 1949. Di DI/TII Aceh Hasan Tiro menjabat sebagai menteri luar negeri, dan karena jaringannya yang dianggap luas di Amerika Serikat dia pun mendapat tugas tambahan sebagai “dutabesar” di PBB.
Setidaknya ada beberapa sebab praktis yang ikut mendorong pemberontakan DI/TII yang secara bersamaan terjadi di tiga propinsi, Aceh, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Pertama berkaitan dengan rasionalisasi tentara. Banyak tentara dan laskar rakyat yang ikut berjuang dalam perang revolusi tidak dapat diakomodasi sebagai tentara reguler. Kedua, pemberontakan ini juga merupakan ekspresi kekecewaan terhadap hubungan pemerintahan Sukarno yang ketika itu semakin dekat dengan kubu komunis.
Di tahun 1961 Daud Beureuh mengubah Aceh menjadi Republik Islam Aceh (RIA). Tetapi di saat bersamaan, gerakannya mulai melemah setelah SM Kartosoewirjo dilumpuhkah. Adapun Kahar Muzakar dinyatakan tewas dalam sebuah pertempuran di belantara Sulawesi tahun 1965.
Adalah Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M. Jassin, yang berhasil meyakinkan Daud Beureuh untuk kembali bergabung dengan Republik Indonesia. Tanggal 9 Mei 1962 Daud Beureuh ditemani antara lain komandan pasukannya yang setia, Tengku Ilyas Leube, pun turun gunung. Bulan Desember perdamaian dirumuskan dalam Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh.
setelah pemberontakan DI/TII melemah, Hasan Tiro ikut melunak. Pertengahan 1974 dia kembali ke Aceh. Dalam pertemuan dengan gubernur Aceh saat itu, Muzakir Walad, Hasan Tiro meminta agar perusahaannya bisa menjadi kontraktor pembangunan tambang gas di Arun.
Tapi Muzakkir Walad tak dapat memenuhi permintaan ini. Bechtel Inc., sebuah perusahaan dari California, Amerika Serikat, telah ditunjuk pemerintahan Orde Baru Soeharto sebagai kontraktor pembangunan pabrik gas Arun.

Foto diambil dari The Unfinished Diary of Tengku Hasan Di Tiro. Beberapa saat sebelum Hasan Tiro kembali ke Aceh bulan Oktober 1976. Caption foto tertulis sebagai berikut:
From right: Secretary General of the United Nations, Dr. Kurt Waldheim; Ambassador of France; H. H. Tengku Hasan di Tiro, President of Doral International Ltd. and Chairman of Atjeh Institute in America; Philippine Ambassador for the U.N. On the occasion of the signing of International Tin Agreement, 1976, at the United Nations Headquarters in New York. Photo by Gamma Diffusion, Paris.
Hasan Tiro kembali kecewa. Baginya, ini adalah bukti bahwa janji otonomi daerah dan hak daerah mengelola sumber alam hanya bohong belaka.
Kekecewaannya pun semakin bertambah setelah syariat Islam yang dibicarakan dalam konsep “Prinsipil Bijaksana” antara Daud Beureuh dan pemerintah pusat tak kunjung dilaksanakan.
Hasan Tiro kembali menggalang kekuatan, mengambil alih posisi puncak dari tangan Daud Beureuh yang saat itu sudah turun dari panggung politik Aceh. Dia menghubungi tokoh penting mantan anggota DI/TII seperti Teungku Ilyas Leube, yang dikenal sebagai salah satu pengikut setia Daud Beureueh. Juga Daud Paneuk. Tak lama manuver Hasan Tiro tercium oleh tentara. Operasi militer disiapkan untuk menangkapnya. Tetapi Tiro berhasil melarikan diri, pulang ke Amerika Serikat.
Sebelum meninggalkan Aceh dia berjanji akan kembali datang untuk menyusun kekuatan yang jauh lebih besar. Dan begitulah, akhirnya kaki Hasan Tiro kembali menginjak Aceh di pagi hari, 30 Oktober 1976
Perjalanan Hidup
Hasan Tiro adalah Anak kedua pasangan Tengku Muhammad Hasan dan Pocut Fatimah ini lahir di Tiro 25 September 1925.
Hasan Tiro awalnya adalah seorang yang sangat nasionalis. Jauh sebelum mengobarkan perang total dengan Indonesia. Karena jenius, Hasan Tiro direkomendasikan Teungku Daud Beureueh kepada Perdana Menteri Indonesia waktu itu, Syafruddin Prawiranegara, untuk kuliah di UII. Hasan Tiro diterima di Fakultas Hukum dan tamat tahun 1949
.
Di universitas ini namanya tercatat sebagai pendiri Pustaka UII bersama Kahar Muzakkar, tokoh Sulawesi Selatan yang kelak menggerakkan pemberontakan DI/TII bersama Daud Beureueh dan Imam Kartosuwiryo (1953-1962)
.
Lulus dari UII, ia kemudian mendapat beasiswa dari pemerintah Indoensia untuk melanjutkan pendidikanya ke Amerika Serikat. Ia mengambil jurusan Ilmu Hukum International di Universitas Columbia. Setelah menyelesaikan program doktor ia masih sempat bekerja di KBRI di Amerika.
Pada tahun 1953, Aceh diguncang pemberontakan Darul Islam, yang dipimpin langsung oleh Teungku Daud Beureueh, Aceh melawan Jakarta, karena Soekarno dianggap ingkar janji
.
Dan Pandangan politiknya mulai berbalik 180 derajat ketika pemerintah Indonesia di masa Perdana Menteri Ali Sastroamidjo (1953-1955) mengejar pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) hingga ke pedalaman Aceh. Menurut salah satu surat kabar di New York bahwa sekitar 92 warga sipil di Pulot, Cot Jeumpa Leupung, Aceh Besar, dibantai serdadu republik pada 26 Februari 1954. Ini ekses akibat ditembaknya belasan prajurit Indonesia oleh mujahidin DI/TII Aceh dua pekan sebelumnya. Karena para mujahid sudah menghilang dari kawasan itu, maka warga sipillah yang dijejerkan di pinggir laut, lalu ditembak mati. Hanya satu yang tersisa hidup. Ia pula yang membeberkan pembantaian sadis itu kepada Acha, wartawan Harian Peristiwa. Asahi Simbun, Washington Post, dan New York Times ikut melansir berita tersebut
.
Dari kota “melting pot” New York, spontan ia layangkan surat pada 1 September 1954 kepada Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjojo. Ia desak Indonesia untuk segera minta maaf dan mengakui bahwa pembantaian warga sipil tersebut merupakan genosida (pembantaian etnis Aceh). Para pelaku dimintanya agar dihukum berat
.
Menurut Hasan Tiro persoalan yang dihadapi Indonesia sesungguhnya bukan tidak bisa dipecahkan, tetapi Ali Sastroamidjojolah yang mencoba membuatnya menjadi sukar. Menurutnya jika Ali Sastroamidjojo mengambil keputusan untuk menyelesaikan pertikaian politik tersebut dengan jalan semestinya, yakni perundingan, maka keamanan dan ketentraman akan meliputi seluruh tanah air Indonesia pada saat itu
.
Oleh karena itu, demi kepentingan rakyat Indonesia Hasan Tiro menganjurkan Ali Sastroamidjojo mengambil tindakan: Pertama, Hentikan agresi terhadap rakyat Aceh, rakyat Jawa Barat, Jawa Tengah, rakyat Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan rakyat Kalimantan. Kedua, Lepaskan semua tawanan-tawanan politik dari Aceh, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan rakyat Kalimantan. Ketiga, Berunding dengan Teungku Muhammad Daud Beureuh, S.M. Kartosuwirjo, Abdul Kahar Muzakar, dan Ibnu Hajar. Jika sampai pada tanggal 20 September 1954, anjuran-anjuran ke arah penghentian pertumpahan darah ini tidak mendapat perhatian Ali Sastroamidjojo, maka untuk menolong miliunan jiwa rakyat yang tidak berdosa yang akan menjadi korban keganasan agresi yang Ali Sastroamidjojo kobarkan, Maka Hasan Tiro dan putera-puteri Indonesia yang setia, akan mengambil tindakan-tindakan berikut:
  • Pertama, Kami akan membuka dengan resmi perwakilan diplomatik bagi Republik Islam Indonesia di seluruh dunia, termasuk di PBB, benua Amerika, Asia dan seluruh negara-negara Islam.
  • Kedua, Kami akan memajukan kepada General Assembly PBB yang akan datang segala atas kekejaman, pembunuhan, penganiayaan, dan lain-lain pelanggaran terhadap Human Right yang telah dilakukan oleh regime Komunis–Fasis Ali Sastroamidjojo terhadap rakyat Aceh. Biarlah forum Internasional mendengarkan perbuatan-perbuatan maha kejam yang pernah dilakukan di dunia sejak zamannya Hulagu dan Jenghis Khan. Kami akan meminta PBB mengirimkan komite ke Aceh. Biar rakyat Aceh menjadi saksi.
  • Ketiga, Kami akan menuntut regime Ali Sastroamidjojo di muka PBB atas kejahatan genoside yang sedang Ali Sastroamidjojo lakukan terhadap suku bangsa Aceh.
  • Keempat, Kami akan membawa ke hadapan mata seluruh dunia Islam, kekejaman-kekejaman yang telah dilakukan regime Ali Sastroamidjojo terhadap para alim ulama di Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan dan Tengah dan sebagian Kalimantan.
  • Kelima, Kami akan mengusahakan pengakuan dunia Internasional terhadap Republik Islam Indonesia, yang sekarang de facto menguasai Aceh sebagian Jawa Barat dan Jawa Tengah, Sulawesi Selatan dan Tengah dan sebagian Kalimantan.
  • Keenam, Kami akan mengusahakan pembaikotan diplomasi dan ekonomi internasional terhadap regime Ali Sastroamidjojo dan penghentian bantuan teknik dan ekonomi PBB, Amerika Serikat dan “Colombo Plan”.
  • Ketujuh, Kami akan mengusahakan bantuan moral dan materi buat Republik Islam Indonesia dalam perjuangannya menghapus regime teroris Ali Sastroamidjojo dari Indonesia.
Setelah lewat 20 September 1954 anjuran-anjuran Hasan Tiro tidak diindahkan. Ali Sastroamidjojo kemudian mengirimkan delegasinya ke PBB untuk membuat serangkaian fitnah-fitnah keji kepada Hasan Tiro, diantaranya menyatakan bahwa Hasan Tiro mendapat sokongan dari golongan bukan Indonesia dan ancaman bahwa setiap campur tangan untuk membantu gerombolan Darul Islam akan ditolak dan pada hakekatnya merupakan perbuatan yang tidak bersahabat terhadap Republik Indonesia. Hasan Tiro berjuang keras di New York untuk memasukkan persoalan DI/TII ke dalam forum PBB dengan tujuan supaya kepada rakyat Aceh terutama diberi hak menentukan nasib sendiri (self determination). Akan tetapi usaha mulianya ini menemukan kegagalan
.
Selain itu Pemerintah mencabut Paspor diplomatik Hasan Tiro supaya Hasan Tiro diusir dari Amerika akibatnya 27 September 1954 Hasan Tiro ditahan oleh Jawatan Imigrasi New York. Tetapi karena bantuan beberapa orang senator, Hasan Tiro diterima sebagai penduduk tetap di Amerika Serikat. Sejak itu kita tahu dia menjadi pengkritik keras Soekarno
.
Pada 1958, Hasan menulis buku penting di New York berjudul Demokrasi untuk Indonesia. Dia mengusulkan negara federal untuk Indonesia, melawan konsep negara persatuan versi Soekarno. Dia mengkritik pedas sistem negara kesatuan, yang menguntungkan etnis besar Jawa, dan cuma mendukung apa yang disebutnya“demokrasi primitive”. Baginya, Indonesia terlalu luas untuk diatur secara sentralistik dari Jakarta. Pada tahun 1958, Hasan Tiro menuangkan pemikiran dalam buku berjudul “Demokrasi untuk Indonesia”. Di situ ia tawarkan federasi sebagai bentuk Pemerintah Indonesia, tujuannya agar hubungan daerah dan pusat tidak timpang
.
Hasan lalu melompat ke ide yang lebih radikal, dia menggeser pemikirannya ke nasionalisme Aceh. Pada 1965, pamfletnya “Masa Depan Politik Dunia Melayu” menolak ide Republik Indonesia.  Kata Hasan, Indonesia tak lain dari proyek “kolonialisme Jawa”, dan warisan tak sah perang kolonial Belanda. Dengan kata lain, dia menyangkal penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia pada 1949. Baginya, hak merdeka harus dikembalikan kepada bangsa-bangsa seperti Aceh atau Sunda, yang sudah berdaulat sebelum Indonesia lahir
.
Sejak itu dia menjelajahi sejarah, menulis sekian pamflet tentang nasionalisme Aceh. Pada karyanya yang lain,  “Atjeh Bak Mata Donja” (Aceh di Mata Dunia) ditulis dalam bahasa Aceh pada 1968, dia menguraikan problem absennya kesadaran historis dan politis rakyat Aceh setelah Perang Belanda. Dia mulai merekonstruksi sejarah Aceh, dan menegasi segala upaya integrasi dengan republik
.
Hasan mengkaji lima editorial The New York Times sepanjang April–Juli 1873, fase pertama Perang Aceh melawan Belanda.  Dia menggali kembali patriotisme Aceh. Harian kondang itu mengakui kapasitas kesultanan Aceh saat berperang melawan Belanda. Perang menentukan ini, kata Hasan, hanya mungkin dikobarkan karena semua pahlawan Aceh tahu “bagaimana mati” sebagai manusia terhormat
.
Ada dua dokumen penting yang dia dapat di Markas PBB yang membulatkan tekadnya untuk memisahkan Aceh dari Indonesia. Dokumen itu berupa Resolusi PBB tentang Hak untuk Menentukan Nasib Sendiri (Right to Self Determination). Dokumen lainnya, berupa resolusi bahwa negara kolonial tidak boleh menyerahkan anak jajahannya kepada negara lain
.
Ia menilai, Perang Belanda terhadap Aceh tidak menyebabkan Aceh takluk dan dikuasai sepenuhnya oleh Belanda. Selain itu, Belanda tak berdasar menyerahkan Aceh–melalui Konferensi Meja Bundar 1949–kepada Indonesia (Jawa), mengingat Belanda tak berkuasa penuh atas Aceh, malah lari meninggalkan Aceh, setelah tentara Jepang diundang ulama masuk Aceh
.
Ditambah alasan-alasan sejarah, etnosentris, dan penguasaan ekonomi oleh Jakarta atas Aceh, membuat Hasan Tiro punya banyak alasan menyambung perjuangan kakek buyutnya, Tgk Chik Di Tiro, untuk mempertahankan kedaulatan Aceh. Ia mengimajinasikan sebuah negara/kerajaan sambungan (succesor state). Untuk itu, Aceh harus mandiri dari Indonesia.
.
Kamp militer di Libya
Hasan paham, Aceh tak mudah diarak ke jalan merdeka. Satu-satunya cara adalah mencari pengakuan internasional, dan berjuang dengan tema hak menentukan nasib sendiri. Hasan melakukan lobi internasional, dan terus berkampanye tentang “dekolonisasi” Indonesia. Pada masa 1980-1990an, dia bergandengan dengan gerakan separatis lain, seperti Timor Timur (Fretilin) dan Republik Maluku Selatan (RMS).
Pada 1980an, ketika gerakannya dipukul secara militer, Hasan membangun kembali gerakan bersenjatanya di luar Aceh. Pada 1986, dia memilih Libya sebagai kamp pelatihan militer. Selama empat tahun kemudian, dia melatih hampir 800 pemuda Aceh. Tak hanya ketrampilan militer, tapi juga dan ideologi keAcehan.  Selama di Libya, Hasan terlibat intensif dalam gerakan anti-imperialisme. Selama tahun-tahun itu dia ditunjuk selaku Ketua Komite Politik World Mathabah, satu organisasi revolusioner berbasis di Tripoli. Wadah itu didirikan pemimpin Libya Muamar Khadafi,  untuk suatu proyek melawan hegemoni Amerika. Dalam bahasa politik, inilah front menentang imperialisme, rasisme, zionisme dan fasisme.
 .
DOM (Daerah Operasi Militer)
Pemerintahan Fasis Orde Baru segera mengantisipasi gerakan ini. Berbagai aksi militer dilancarkan. Aceh kemudian di jadikan ladang Daerah Operasi Militer (DOM). Akibatnya tindak kekerasan/penyiksaan, penangkapan tanpa prosedur, penculikan, pelecehan seksual dan pemerkosaan, penghilangan nyawa manusia dan praktek-praktek pelanggaran hukum dan HAM lainnya berlangsung hampir setiap saat
.
Pembantaian rakyat Aceh selama berlangsungnya Operasi Militer sejak 1989 hingga 1998 mencapai 30.000 nyawa. Sungguh malapetaka peradaban yang hanya bisa terjadi dalam masyarakat primitif. Maka orang yang wajib bertanggungjawab atas pembantaian-pembantaian tersebut dan segera disidangkan ke masjlis Umum PBB atas nama penjahat perang adalah Jenderal Soeharto, Jenderal (Purn) L. B. Moerdani, Jenderal (Purn) Try Sutrisno, Letjen (Purn) Syarwal Hamid, Jenderal (Purn) Feisal Tanjung, Mayjen (Purn) H. R. Pramono, Letjen Prabowo Subianto, Ibrahim Hasan (Gubernur Aceh periode 1986-1993)
.
Pasca jatuhnya pemerintahan Pembantai Rakyat Soeharto, isu “Aceh merdeka” kembali menjadi sorotan dunia. pada 25 Januari 1999 Hasan Tiro menandatangani surat perihal GAM yang dikirim kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa. Akhir tahun 2002, Hasan Tiro menandatangani deklarasi berdirinya Negara Aceh Sumatra
.
Perdamaian
Pada tahun 2000 status darurat militer akhirnya diturunkan menjadi darurat sipil. Dan akhirnya Allah menggenapkan darurat Aceh dengan darurat Tsunami, tepatnya pada tanggal 26 Desember 2004 tsunami telah meluluh lantakkan bumi Serambi Mekkah tersebut. Sekitar 200.000 warga Aceh meninggal dan hilang. Hasan Tiro yang saat itu menonton tayangan televisi di Norsborg, Swedia, menitikkan air mata. Aceh yang ingin dia rebut sedang luluh lantak. Terjerembab ke titik nadir peradaban. Perlu kondisi damai untuk membangun kembali Aceh dari keterpurukan
.
Lalu, Zaini Abdullah dan Malik Mahmud menyahuti tawaran RI untuk berdamai. Kita melihat bagaimana episode pergolakan ini selesai di meja perundingan di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005. Perdamaian ini pula yang memungkinan Zaini Abdullah dan Malik Mahmud yang awalnya paling dicari aparat keamanan Indonesia, bisa leluasa pulang ke Aceh.
.

 Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dideklarasikan Teungku Hasan Tiro pada 4 Desember 1976 adalah gagasannya sejak Januari 1965 untuk membentuk Negara Aceh. Baginya, nilai adat Aceh telah dicampakan oleh kemajuan industri pada masa Soeharto.
Hasan Tiro bersama para ulama Aceh menilai kekayaan alam Aceh dikuras melalui pembangunan industri yang dikuasai orang asing melalui restu pemerintah pusat. Tetapi rakyat Aceh tetap miskin, pendidikan rendah dan kondisi ekonomi sangat memprihatinkan.
Bersama para tokoh eks DI/TII dan tokoh muda Aceh pada waktu itu mengadakan rapat mendirikan GAM kaki Gunung Halimun, Pidie. Walaupun Hasan Tiro yang tak hadir dalam pendirian GAM yang ditunjuk sebagai wali negara. GAM terdiri atas 15 menteri, empat pejabat setingkat menteri dan enam gubernur.
Sebenarnya sejak 1970-an Hasan Tiro sudah sepakat dengan Daud Beureueh untuk mendirikan Republik Islam Aceh. Hasan Tiro sendiri sudah hampir mengirimkan senjata dari AS saat dia masih belajar di sana.

Kontroversi ini sebenarnya masih mengalir sampai sekarang. Ada yang menganggap, setelah Daud Beureueh turun gunung, ia tidak pernah lagi terlibat dalam gerakan politik. Perlawanan yang diusung GAM, sama sekali tidak terkait dengan DI/TII.
“Kalau Hasan Tiro kan menuntut kemerdekaan, sedangkan DI/TII melawan karena kecewa,” kata M Jasin, mantan Pangdam Iskandar Muda yang dianggap berhasil mengajak Daud Beureueh turun gunung.
Tak hanya Jasin, tokoh-tokoh senior di Aceh juga banyak yang mendukung argumen itu. Dalam sebuah tulisannya di Republika, almarhum Ali Hasjmy, mantan Gubernur Aceh, memutus kaitan GAM dan Abu Beureueh. Menurutnya, GAM dan Hasan Tiro adalah gerakan kriminal, sedangkan DI/TII adalah gerakan politik murni.
Tak heran jika awal-awal perlawanan GAM, Pemerintah Indonesia menuding mereka sebagai gerombolan pengacau keamanan (GPK). Stigma kriminal dimunculkan untuk memutus dukungan pengikut Daud Beureueh yang dikenal sebagai legenda bagi warga Aceh.
Nyatanya, upaya membumikan GAM sebagai kelompok kriminal tetap gagal. Hasan Tiro kadung jadi ikon perlawanan rakyat yang baru, terutama di masa Orde Baru. Lihat saja daftar tokoh pertama yang bergabung dalam GAM. Banyak di antara mereka adalah bekas pendukung DI/TII. Sebut saja Teungku Ilyas Leube dan Daud Husin alias Daud Paneuek (paneuek artinya pendek). Ilyas adalah ulama yang disegani di Aceh Tengah dan merupakan pendukung setia Daud Beureueh. Dalam susunan kabinet GAM pertama, Ilyas duduk sebagai Menteri Kehakiman, sedangkan Daud Paneuek sebagai Panglima Angkatan Bersenjata.
Menurut Baihaqi, mantan pasukan DI/TII, keputusan Ilyas mendukung GAM semata-amata karena kecewa dengan sikap pemerintah yang ternyata hanya memberi janji omong kosong kepada Aceh. “Ilyas orangnya sangat peka terhadap agama. Ketika Syariat Islam tidak berjalan di Aceh, ia orang yang paling marah” kata Baihaqi yang juga sepupu Ilyas.
Padahal, saat Daud Beureueh turun gunung, pemerintah berjanji memberikan tiga keistimewaan untuk Aceh: syariat Islam, pendidikan, dan budaya. Nyatanya, semua janji itu tak dipenuhi. Tak heran, begitu Hasan Tiro mengumandangkan perlawanan di paruh akhir tahun 1970-an, Ilyas pun menjadi orang pertama yang mendukung.
Ketika GAM masih dalam bentuk rancangan, menurut Baihaqi, sebenarnya Daud Beureueh sudah diberi tahu masalah itu. Hanya saja, Beureueh tak mungkin lagi angkat senjata karena di tahun 1976, saat Hasan Tiro datang ke Aceh untuk kedua kalinya, Abu Beureueh sudah berusia 77 tahun.
“Ayahanda tidak perlu berperang. Biar kami saja yang melakukan perlawanan. Kami hanya perlu dukungan dari Ayahanda,” demikian bujuk Hasan Tiro kepada Daud Beureueh seperti ditirukan Baihaqi kepada acehkita.
Sebagai asisten pribadi Abu Beureueh, Baihaqi tahu persis dialog itu. Apalagi, ia masih memiliki hubungan darah dengan Ilyas Leube. “Jadi kalau dikatakan Daud Beureueh mendukung Hasan Tiro, itu bisa jadi benar,” katanya. Bedanya, di masa DI/TII, Daud Beurueh mengumumkan perlawanan secara resmi dan terbuka kepada seluruh masyarakat Aceh, tetapi di masa GAM, ia lebih banyak diam.
Hubungan Daud Beureueh dan Hasan Tiro sebenarnya pernah memburuk. Dalam bukunya, Sejarah dan Kekuatan Gerakan Aceh Merdeka, wartawan Neta S Pane menulis, saat pulang ke Aceh pada 1975, Daud Beureueh pernah memberikan uang sebesar Rp 12,5 juta kepada Tiro untuk membeli senjata. Singkat cerita, saat muncul lagi pada 1977, alangkah terkejutnya tokoh-tokoh GAM karena tak mendapatkan apa yang diharap. “Hasan Tiro hanya membawa tiga pucuk pistol jenis colt dan dua pucuk senjata double loop. Beberapa tokoh GAM mengejeknya bahwa senjata itu hanya cukup untuk membunuh babi hutan,” tulis Neta yang kini mengelola Lembaga Pengamat Polri (Gamatpol).
Meski demikian, Daud Beureueh tak pernah marah kepada Hasan Tiro. Dukungan Daud Beureueh kepada GAM juga dibenarkan Zakaria, seorang tokoh GAM yang tinggal di Thailand. Menurutnya, saat Hasan Tiro melakukan pendidikan politik di hutan, beberapa kali Daud Beuerueh mengirimkan bantuan kepada mereka. “Saya sering sekali disuruh Daud Beureueh menyampaikan bantuan itu,” akunya.
Bantuan tak hanya berupa uang, tapi juga bahan makanan untuk Hasan Tiro dan pendukungnya. Dukungan Daud Beureueh kepada GAM pada masa itu diberikan karena Hasan Tiro bertekad mendirikan negara Islam di Aceh. Zakaria sendiri termasuk pendukung Hasan Tiro paling setia. Ketika operasi militer berlangsung pada 1983, ia berhasil melarikan diri ke Malaysia. Pertemuan terakhir acehkita dengan Zakaria berlangsung di Thailand, dua tahun lalu.
Dalam barisan GAM, Zakaria yang saat ini berusia sekitar 69 tahun, menjabat sebagai Menteri Pertahanan yang ditempatkan di Thailand. Dia orang penting yang berperan sebagai penyedia senjata untuk GAM. Senjata itu dibeli dari perbatasan Kamboja dan Vietnam, selanjutnya dikirim melalui pesisir pantai Malaysia menuju pantai Aceh Timur.
Zakaria mengisahkan, untuk menyampaikan bantuan dari Daud Beureueh kepada Hasan Tiro, ia harus berhati-hati. Soalnya, sejak 1977, setahun setelah kemerdekaan GAM diproklamasikan, pemerintah mulai mendatangkan pasukan ke Aceh.
Setelah Hasan Tiro kembali ke Amerika pada 1979, kekuatan GAM tak luntur. Semakin lama, pengikutnya kian banyak. Intelijen TNI sendiri disebut-sebut mengetahui kalau Daud Beureueh memberi dukungan moral kepada GAM. Untuk mencegah meluasnya pengaruh ulama itu, dalam sebuah operasi intelijen yang dipimpin Lettu Sjafrie Sjamsoeddin (sekarang Sekjen Departemen Pertahanan berpangkat Mayjen), pada 1 Mei 1978, Daud Beureueh dibawa secara paksa. Ia tak kuasa melawan karena sudah dibius. Daud Beuereueh dibawa ke Medan selanjutnya diterbangkan ke Jakarta untuk selanjutnya ditempatkan di sebuah rumah mewah di bilangan Tomang, Jakarta Barat, sebagai tahanan di sangkar emas.
Ini upaya mengungsikan Daud Beureueh kedua kalinya setelah pada 1971 ia ‘dipaksa’ keliling Eropa untuk mencegah pengaruhnya meluas di Aceh saat berlangsungnya pemilu. Daud Beureueh sendiri adalah pendukung PPP.
Saat Abu Beuereueh menetap di Jakarta, operasi penumpasan GAM dilakukan besar-besaran. Satu demi satu orang-orang dekat Hasan Tiro tewas. Sebut saja Dr Muchtar Hasbi, seorang intelektual muda Aceh, 35 tahun, yang tewas setelah disiksa. Mayatnya dikembalikan ke keluarganya dalam keadaan tanpa pakaian. Muchtar Hasbi adalah Perdana Menteri pertama GAM.
Dr Zubir Mahmud, 29 tahun, yang dalam kabinet GAM menduduki jabatan sebagai Menteri Sosial, juga tewas ditembak tak jauh dari rumahnya pada Mei 1980. Selain itu, Teungku Haji Ilyas Leube yang menggantikan posisi Muchtar sebagai Perdana Menteri, juga tewas di ujung peluru pada Juli 1982.
Para sejarawan Aceh menyebut, Daud Beureueh sebenarnya sangat kecewa dipindahkan ke Jakarta. Selain karena ruang gerak yang selalu diawasi, ia juga sedih karena dijauhkan dengan murid-muridnya. Ia menjadi terhalang menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Ia pun tak lagi bisa tampil sebagai imam masjid. Tapi ia sendiri tak kuasa melawan karena kesehatannya sudah menurun. Ia menetap di Jakarta bersama anak dan cucunya dengan fasilitas dari pemerintah.
Kegelisahan Teungku Daud itu dirasakan sahabat dan murid-muridnya. Beberapa orang yang penah dekat dengannya, antara lain Ali Hasjmy (saat itu sebagai Rektor IAIN Ar-Raniry setelah pensiun dari Gubernur Aceh) dan Teungku H Abdullah Ujongrimba (Ketua MUI Aceh), melobi Wakil Presiden Adam Malik agar memulangkan Daud Beureueh ke Aceh. Mereka menjamin, selama di Aceh, Daud Beureueh tak akan memberikan perlawanan kepada pemerintah, apalagi ikut mendukung GAM.
Harapan itu terkabul. Pada 1982 ulama simbol perlawanan itu kembali ke Bumi Seulanga. Malangnya, pada 1985, ia terjatuh dari tempat tidur sehingga engsel pinggulnya mengalami gangguan. Sejak itu ia tidak bisa berdiri. Tamu-tamu yang datang mengunjunginya tetap disambut secara terbuka. Legenda Aceh itu akhirnya meninggal dunia pada 10 Juni 1987.
Jasadnya dimakamkan di bawah pohon mangga di pekarangan Masjid Baitul A’la lil Mujahidin di Beureunen. Seluruh Aceh berduka. Sejak itu, tragedi demi tragedi berkali-kali singgah di bumi Serambi Mekkah. Dua tahun setelah kepergian sang tokoh, Tanah Rencong bersimbah darah dengan digelarnya Operasi Jaring Merah atau pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM).
Sepeninggal Daud Beureueh, Hasan Tiro pun menjadi simbol perlawanan baru, lengkap dengan segala kontroversinya
.
Pulang Kampung
Pada 9-10 Oktober 2008 Ratusan kendaraan yang membawa ribuan warga Aceh yang datang dari berbagai kabupaten seperti Aceh Timur, Aceh Utara, Bireun, dan Pidie memadati Banda Aceh. Mereka berkumpul di Kompleks Masjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh dan rela menginap di tempat-tempat terbuka seperti pelataran Masjid Raya menyambut kedatangan Wali Nanggroe yang juga proklamator Gerakan Aceh Merdeka Hasan Tiro.
Antusiasme juga terlihat dari pengurus dan simpatisan Partai Aceh, salah satu partai lokal yang didirikan mantan aktivis GAM. Ratusan kendaraan yang lalu lalang di berbagai jalan utama kota Banda Aceh ditempeli berbagai atribut Partai Aceh.
.
Pada 11 Oktober 2008 Pesawat sewaan yang mengangkut mantan pemimpin GAM Hasan Tiro (83) mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, NAD. Kedatangan Hasan Tiro dan rombongan dari Kuala Lumpur, Malaysia, dikawal ketat oleh satuan tugas yang dibentuk Komite Peralihan Aceh
.
Saat turun dari tangga pesawat, Begitu turun dari pesawat, Hasan Tiro langsung bersujud mendapat kalungan bunga dari Wakil Gubernur NAD Muhammad Nazar. Dalam rombongan Hasan Tiro terlihat antara lain Gubernur Irwandi Yusuf dan sejumlah mantan petinggi GAM, yakni Muzakkir Manaf serta Dr Zaini Abdullah. Hasan Tiro melambaikan tangan ke arah ratusan orang yang berkumpul di Bandara
.
Dari bandara, rombongan Hasan Tiro langsung menuju Masjid Raya Banda Aceh, pusat berkumpulnya ratusan ribu warga. Namun, kondisi fisik dan usia Hasan Tiro tak memungkinkannya berbicara lama secara langsung dengan massa di hadapannya. Hasan Tiro hanya berpidato secara singkat dalam bahasa Aceh. ”Assalamualaikum, saya sudah kembali ke Aceh. Allahu Akbar,” ujarnya
.
Kemudian ia kembali ke Swedia dan akhirnya kembali menetap di Aceh pada tahun 2010. Masih banyak orang yang berharap ia kembali menjadi pemimpin sejati masyarakat. Ia lalu dipanggil “Wali Nanggroe”, penghargaan adat yang tidak pernah diberikan kepada siapapun selain Hasan Tiro sepanjang sejarah Aceh. Gelar ini diberikan secara “aklamasi” tanpa sebuah proses apapun. Hampir semua orang Aceh tahu kalau ia adalah Wali Nanggroe.
.
Sang Wali Pergi
Pada 3 Juni 2010, Hasan Tiro kembali terbaring sakit. Jantung, dan komplikasi organ dalam, memaksanya berdiam di Rumah sakit Zainoel Abidin, Banda Aceh. Tekanan darahnya 70-40. Seiring dengan dunia yang terus berputar, dan waktu menjawab banyak persoalan. Kamis, 4 Juni 2010, 26 jam setelah pemerintah Indonesia memberikan hak kewarganegaraan Indonesia kepadanya, Hasan Tiro menghembuskan nafas terkahir di Banda Aceh. Ia dimakamkan di sisi kuburan kakeknya, Teungku Chik Di Tiro, di Aceh Besar. Di sana ia mengakhiri semua petualangan dan perjuangan ideologisnya. Pada saat matahari tegak lurus dengan bumi, pada hari itu, orang-orang Aceh meratap.
.
 
Innalillahi Wa Innaillaihi Rojiun..
Kamis, 3 Juni 2010 sekitar pukul 12.12 Wib, tokoh kharismatik Aceh Tengku Muhammad Di Tiro berpulang ke pangkuan illahi di RS Zainal Abidin.

 

Click here to edit text

Sedang belajar membuat tulisan di media BLog. mencoba untuk bisa menulis lebih baik di media tulis di dunia terbuka.

0Share
Sejarah Singkat Cut Nja Dien OPINI | 30 November 2009 | 20:53 Dibaca: 6723   Komentar: 0   Nihil

Cut nyak dien adalah seorang sosok pahlawan wanita dari aceh barat yang mendapat julukan srikandi Indonesia. Cut nyak dien anak dari teuku nan setia. Sedangkan ibunya anak bangsawan dari lampar. Kakaknya bernama teuku rakyat. Cut nyak dien dilahirkan tahun 1848.

MELETUSNYA ERANG ACEH MULAI TANGGAL 4 JUNI 1873

Suami cut nyak dien yang pertama adalah teuku Ibrahim  dari lamnga, anak dari teuku abas. Dan dikarunia anak perempuan kemudian di beri nama cut gambang. Suami cut nyak dien ditembak oleh belanda.

Cut nyak dien menikah lagi dengan panglima perangnya bernama teuku umar. Teuku umar juga tertembak belanda pada tanggal 11 februari 1899 di ujung kala malaboh.

Pada tanggal 6 november 1905 cut nyak dien tertangkap oleh belanda. Pada saat itu mata cut nyak dien dalam keadaan tidak bias melihat (buta).

Pada tanggal 11 desember 1906 dibuang ke seumedang bersama panglima dan seorang anak laki-laki berumur 15 tahun. Pada waktu gubernur jendral belanda. Waktu bupati sumedang pangeran surya aria atmaja

Untuk merawa cut nyak dien pangeran surya atmaja menyerahkan cut nyak dien ke K.H Sanusi. Pada waktu itu rumahnya kecil. Setelah satu tahun merawat 1 tahun K.H Sanusi meninggal pada tahun 1967 dan dimakamkan di gunung puyuh sumedang.

Kemudian cut nyak dien diurus oleh anak K.H sanusi yaitu H.Husna. semua kepentingan cut nyak dien sangat diperhatikan pangeran aria suriiatmaja. waloupun mata cut nyak dien tidak bias melihat tapi cut nyak dien bisa mengajarkan ibu-ibu mengaji, maka cut nyak dien di beri julukan ibu perbu/ ibu ratu masyarakat. Cut nyak dien sangat dekat dengan siti khodijah (anak dari H. Husna). Pada tahun 1967 siti khodijah meninggal dan dimakamkan di gunung puyuh.

Setelah cut nyak dien meninggal 1908 teuku nana tetap tinggal di sumedang. Dan menikah dengan orang cipada bernama iyoh dan mempunyai tiga orang anak

1.     Maskun

2.     Ninih

3.     Sahria.

Dan pada tahun 1930 teuku nana, istri dan anaknya pulang ke aceh dan tidak kembali.

Rumah bekas cut nyak dien beukuran 12 x14 m. tinggi 1m , kamar tidurnya 3 x 5m,  ranjangnya berukuran 2 x 2m,

Kemudian pada tahun 1962 Rd oemar Sumantri, anak siti khodijah member ijin untuk upacara sederhana mengenang jasa cut nyak dien pada tahun 1972 makam cut nyak dien direnovasi oleh bustanil arifin.

Pada tahun 2008 berdirilah KAMAS( keluarga masyarakat aceh)

Ir rusdi abdul thalib sebagai ketuanya dan kerjasama dengan pemerintah daerah sumedang.

Bila ingin mengetahui lebih lanjut sejarah CUT NJA DIEN dating saja ke makam gunung puyuh, karena disana terdapat makam CUT NJA DIEN, kemudian tanyakan pada juru kuncinya.

.

Teuku Umar. Ia dilahirkan pada tahun 1854 (tanggal dan bulannya tidak tercatat) di Meulaboh, Aceh Barat, Indonesia. Ia merupakan salah seorang pahlawan nasional yang pernah memimpin perang gerilya di Aceh sejak tahun 1873 hingga tahun 1899. Kakek Teuku Umar adalah keturunan Minangkabau, yaitu Datuk Makdum Sati yang pernah berjasa terhadap Sultan Aceh. Datuk Makdum Sati mempunyai dua orang putra, yaitu Nantan Setia dan Achmad Mahmud. Teuku Achmad Mahmud merupakan bapak Teuku Umar.


Ketika perang aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, padahal umurnya baru menginjak19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri yang kemudian dilanjukan ke Aceh Barat. Pada umur ini, Teuku Umar juga sudah diangkat sebagai keuchik (kepala desa) di daerah Daya Meulaboh.

Kepribadiaan Teuku Umar sejak kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, pemberani, dan kadang suka berkelahi dengan teman-teman sebayanya. Ia juga memiliki sifat yang keras dan pantang menyerah dalam menghadapi segala persoalan. Teuku Umar tidak pernah mendapakan pendidikan formal. Meski demikian, ia mampu menjadi seorang pemimpin yang kuat, cerdas, dan pemberani.

Pernikahan Teuku Umar tidak sekali dilakukan. Ketika umurnya sudah menginjak usia 20 tahun, Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang. Untuk meningkatkan derajat dirinya, Teuku Umar kemudian menikah lagi dengan Nyak Malighai, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim. Sejak saat itu, ia mulai menggunakan gelar Teuku. Pada tahun 1880, Teuku Umar menikahi janda Cut Nyak Dien, puteri pamannya. Sebenarnya Cut Nyak Dien sudah mempunyai suami (Teuku Ibrahim Lamnga) tapi telah meninggal dunia pada Juni 1978 dalam peperangan melawan Belanda di Gle Tarun. Setelah itu, Cut Nyak Dien bertemu dan jatuh cinta dengan Teuku Umar. Keduanya kemudian berjuang bersama melancarkan serangan terhadap pos-pos Belanda di Krueng. Hasil perkawinan keduanya adalah anak perempuan bernama Cut Gambang yang lahir di tempat pengungsian karena orang tuanya tengah berjuang dalam medan tempur.

Belanda sempat berdamai dengan pasukan Teuku Umar pada tahun 1883. Satu tahun kemudian (tahun 1884) pecah kembali perang di antara keduanya. Pada tahun 1893, Teuku Umar kemudian mencari strategi bagaimana dirinya dapat memperoleh senjata dari pihak musuh (Belanda). Akhirnya, Teuku Umar berpura-pura menjadi antek (kaki tangan) Belanda. Istrinya, Cut Nyak Dien pernah sempat bingung, malu, dan marah atas keputusan suaminya itu. Gubernur Van Teijn pada saat itu juga bermaksud memanfaatkan Teuku Umar sebagai cara untuk merebut hati rakyat Aceh. Teuku Umar kemudian masuk dinas militer. Atas keterlibatan tersebut, pada 1 Januari 1894, Teuku Umar sempat dianugerahi gelar Johan Pahlawan dan diizinkan untuk membentuk legium pasukan sendiri yang berjumlah 250 tentara dengan senjata lengkap.

Saat bergabung dengan Belanda, Teuku Umar sebenarnya pernah menundukkan pos-pos pertahanan Aceh. Peperangan tersebut dilakukan Teuku Umar secara pura-pura. Sebab, sebelumnya Teuku Umar telah memberitahukan terlebih dahulu kepada para pejuang Aceh. Sebagai kompensasi atas keberhasilannya itu, pemintaan Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit, termasuk
seorang Pangleot sebagai tangan kanannya akhirnya dikabulkan oleh Gubernur Deykerhorf yang menggantikan Gubernur Ban Teijn.

Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar kemudian keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar. Dengan kekuatan yang semakin bertambah, Teuku Umar bersama 15 orang berbalik kembali membela rakyat Aceh. Siasat dan strategi perang yang amat lihai tersebut dimaksudkan untuk mengelabuhi kekuatan Belanda pada saat itu yang amat kuat dan sangat sukar ditaklukkan. Pada saat itu, perjuangan Teuku Umar mendapat dukungan dari Teuku Panglima Polem Muhammad Daud yang bersama 400 orang ikut menghadapi serangan Belanda. Dalam pertempuran tersebut, sebanyak 25 orang tewas dan 190 orang luka-luka di pihak Belanda.

Gubernur Deykerhorf merasa tersakiti dengan siasat yang dilakukan Teuku Umar. Van Heutsz diperintahkan agar mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menangkap Teuku Umar. Serangan secara mendadak ke daerah Melaboh menyebabkan Teuku Umar tertembak dan gugur dalam medan perang, yaitu di Kampung Mugo, pedalaman Meulaboh pada tanggal10 Februari 1899.

2. Pemikiran

Sejak kecil, Teuku Umar sebenarnya memiliki pemikiran yang kerap sulit dipahami oleh teman-temannya. Ketika beranjak dewasa pun pemikirannya juga masih sulit dipahami. Sebagaimana telah diulas di atas bahwa taktik Teuku Umar yang berpura-pura menjadi antek Belanda adalah sebagai bentuk “kerumitan” pemikiran dalam dirinya. Beragam tafsir muncul dalam memahami pemikiran Teuku Umar tentang taktik kepura-puraan tersebut. Meski demikian, yang pasti bahwa taktik dan strategi tersebut dinilai sangat jitu dalam menghadapi gempuran kolonial Belanda yang memiliki pasukan serta senjata sangat lengkap. Teuku Umar memandang bahwa “cara yang negatif” boleh-boleh saja dilakukan asalkan untuk mencapai “tujuan yang positif”. Jika dirunut pada konteks pemikiran kontemporer, pemikiran seperti itu kedengarannya lebih dekat dengan komunisme yang juga menghalalkan segala cara. Semangat perjuangan Teuku Umar dalam menghadapi kolonialisme Belanda yang pada akhirnya mendorong pemikiran semacam itu.

3. Karya

Karya Teuku Umar dapat berupa keberhasilan dirinya dalam menghadapi musuh. Sebagai contoh, pada tanggal 14 Juni 1886, Teuku Umar pernah menyerang kapal Hok Centon, milik Belanda. Kapal tersebut berhasil dikuasai pasukan Teuku Umar. Nahkoda kapalnya, Hans (asal Denmark) tewas dan kapal diserahkan kepada Belanda dengan meminta tebusan sebesar 25.000 ringgit. Keberanian tersebut sangat dikagumi oleh rakyat Aceh. Karya yang lain adalah berupa keberhasilan Teuku Umar ketika mendapatkan banyak senjata sebagai hasil dari pengkhianatan dirinya terhadap Belanda.

4. Penghargaan

Berdasarkan SK Presiden No. 087/TK/1973 tanggal 6 November 1973, Teuku Umar dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Nama Teuku Umar juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah air, salah satunya yang terkenal adalah terletak di Menteng, Jakarta Pusat. Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai nama sebuah lapangan di Meulaboh, Aceh Barat.

(HS/tkh/3/8-07)

Sumber:

* Winarno, Sejarah Ringkas Pahlawan Nasional, (Jakarta: Erlangga, 2006).
* www.jagoan.or.id
* www.nad.go.id.
* Wikipedia.org.

Design : Tgk M.Nur, M.A 23 oktober 2012 by copy